✍️ Jufri
Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi
Setiap Ramadhan menuju akhir, negeri ini seperti bergerak serentak. Jalanan macet berkilometer, terminal sesak, pelabuhan dipenuhi wajah-wajah lelah namun penuh harap. Orang menyebutnya mudik. Sebuah tradisi yang bukan sekadar perjalanan geografis, tetapi juga perjalanan emosional. Namun di balik gegap gempita itu, tersimpan pertanyaan sunyi: apakah kita benar-benar pulang, atau sekadar berpindah tempat?
Mudik sering dipahami sebagai kemenangan setelah sebulan berpuasa. Padahal puasa bukan hanya latihan menahan lapar dan dahaga. Ia adalah latihan menahan ambisi yang berlebihan, menahan kemarahan yang mudah meledak, dan menahan keinginan untuk selalu merasa benar. Puasa adalah proses kembali kepada fitrah. Maka mudik spiritual sesungguhnya adalah perjalanan pulang ke dalam diri — mencari kembali kejujuran yang mungkin telah hilang dalam hiruk pikuk kehidupan modern.
Sayangnya, kehidupan hari ini sering membuat manusia jauh dari dirinya sendiri. Tekanan ekonomi, kompetisi kerja, dan ketidakpastian masa depan menjadikan banyak orang hidup dalam kecemasan. Mereka bekerja keras sepanjang tahun, tetapi tetap merasa tidak aman. Mereka berlari mengejar kesejahteraan, tetapi sering lupa mengejar ketenangan. Dalam kondisi seperti itu, mudik menjadi semacam pelarian sementara. Kampung halaman dipandang sebagai ruang nostalgia, tempat di mana hidup terasa lebih sederhana dan manusia masih saling menyapa tanpa curiga.
Namun mudik tidak hanya soal kerinduan pribadi. Ia juga memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Di tengah masyarakat yang semakin terbelah oleh perbedaan pilihan politik, perbedaan status ekonomi, bahkan perbedaan gaya hidup, Ramadhan menghadirkan momentum rekonsiliasi. Orang-orang yang sebelumnya saling menghindar kembali duduk bersama. Kata maaf yang dulu terasa berat menjadi ringan. Silaturahmi yang sempat putus kembali disambung.
Mudik sosial mengingatkan bahwa manusia adalah makhluk relasional. Tidak ada keberhasilan yang benar-benar bermakna jika diraih sendirian. Tidak ada kebahagiaan yang utuh tanpa kebersamaan. Tetapi realitas hari ini menunjukkan paradoks. Di satu sisi, teknologi membuat komunikasi semakin mudah. Di sisi lain, kedekatan emosional justru semakin mahal. Banyak orang lebih aktif di dunia maya daripada di ruang keluarga. Banyak yang lantang berbicara tentang kepedulian sosial, tetapi lupa menyapa tetangga sendiri.
Di sinilah pentingnya mudik kultural. Tradisi Ramadhan di negeri ini bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah warisan nilai yang menjaga masyarakat tetap memiliki rasa kebersamaan. Buka puasa bersama, tadarus di masjid, takbiran, hingga halal bi halal adalah bentuk pendidikan sosial yang berlangsung secara alami. Anak-anak belajar bahwa hidup tidak hanya tentang prestasi pribadi, tetapi juga tentang berbagi. Orang dewasa belajar bahwa kesederhanaan seringkali lebih menenangkan daripada kemewahan.
Namun tantangan zaman tidak bisa diabaikan. Harga kebutuhan pokok yang terus meningkat, lapangan kerja yang semakin kompetitif, serta ketimpangan ekonomi membuat makna mudik menjadi semakin kompleks. Bagi sebagian orang, mudik adalah kebahagiaan. Tetapi bagi sebagian lainnya, mudik justru menjadi beban finansial. Mereka tetap pulang, bukan karena mampu, tetapi karena tradisi dan tekanan sosial. Mereka memaksakan diri agar tidak dianggap gagal oleh keluarga dan lingkungan.
Di tengah realitas seperti itu, mudik seharusnya menjadi momentum refleksi nasional. Bahwa pembangunan tidak cukup diukur dari angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari rasa keadilan yang dirasakan masyarakat. Bahwa kemajuan tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang kesejahteraan yang merata. Sebab apa arti jalan tol yang panjang jika banyak rakyat masih merasa hidupnya buntu?
Akhirnya, mudik yang sesungguhnya bukan hanya perjalanan menuju kampung halaman, tetapi perjalanan menuju kesadaran. Pulang kepada Tuhan agar hidup memiliki arah. Pulang kepada sesama agar kehidupan memiliki makna. Dan pulang kepada tradisi agar bangsa ini tidak kehilangan jati dirinya.
Ramadhan akan segera pergi. Jalanan mungkin akan kembali lengang. Kota-kota akan kembali sibuk. Tetapi pertanyaan paling penting akan tetap tinggal di dalam hati kita: setelah semua perjalanan ini, sudahkah kita benar-benar pulang? (*)
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni
.

