✍️ Jufri
Ketua PDM Kota Tebing Tinggi
Pagi ini, setelah saya menulis tentang Ramadhan yang demikian singkat terasa, dan akan segera berlalu, pikiran saya kembali tertarik pada sebuah foto yang diposting oleh Prof. Hasrat Efendi Samosir bersama Dr. Arifin Saleh Siregar. Dua orang intelektual dan cendikiawan Muhammadiyah Sumatera Utara.
Pada caption-nya beliau menuliskan hal yang menarik tentang persamaan asal-usul, sekaligus fungsi intelektual dalam filosofi Tapanuli Selatan. Disebutkan bahwa Siregar–Samosir masih dalam lingkup keturunan Raja Lottung. Prinsip utama yang diangkat adalah tetap sama: jadilah suluh di saat gelap dan tongkat di tempat yang licin.
Bagi saya ini sangat menarik, karena fungsi itu dapat dilaksanakan dan dibuktikan melalui pengabdian nyata dari para intelektual, apalagi yang telah berada di puncak gelar akademik sebagai legalitas intelektual yang sah secara formal.
Saya tentu termasuk orang yang senang melihat momen kebersamaan di antara mereka. Kita memang membutuhkan kebersamaan dan persatuan, apalagi menjelang muktamar Muhammadiyah, dimana Sumatera Utara ditunjuk sebagai tuan rumah dan berbagai persiapan untuk menyukseskan. Contoh yang mereka berikan bukan sekadar pertemuan biasa, tetapi sebuah simbol bahwa intelektual yang tercerahkan harus mampu menjadi tongkat dan suluh peradaban.
Falsafah tersebut bukan sekadar rangkaian kata indah yang diwariskan oleh leluhur. Ia adalah pesan peradaban. Sebuah amanah sosial yang menempatkan kaum terdidik pada posisi strategis dalam kehidupan masyarakat. Menjadi suluh berarti mampu memberikan arah di tengah kebingungan zaman. Menjadi tongkat berarti hadir sebagai penopang ketika masyarakat berada pada situasi yang licin, rapuh, dan penuh risiko.
Dalam realitas kehidupan modern, gelar akademik seringkali dipandang sebagai simbol prestise. Tidak sedikit yang menjadikannya alat untuk membangun jarak sosial, bahkan terkadang menjadi tameng untuk mempertahankan kenyamanan pribadi. Padahal dalam tradisi kultural masyarakat Tapanuli Selatan, gelar justru merupakan beban tanggung jawab. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar pula tuntutan pengabdiannya. Ilmu tidak boleh berhenti pada ruang seminar, ruang kelas, atau podium akademik. Ia harus menjelma menjadi keberanian moral dan kepekaan sosial.
Ketika masyarakat menghadapi kegelapan informasi, konflik kepentingan, atau ketidakpastian arah pembangunan, di situlah fungsi suluh diuji. Ketika rakyat berhadapan dengan medan kehidupan yang licin—ketidakadilan hukum, kesenjangan ekonomi, atau krisis kepemimpinan—di situlah tongkat dibutuhkan. Intelektual yang sejati tidak menunggu dipanggil, tetapi hadir karena panggilan nurani.
Menarik pula ketika silsilah keturunan seperti Raja Lottung kembali disebut. Dalam kultur Batak, asal-usul bukan hanya identitas genealogis, tetapi juga sumber etika. Ia mengingatkan bahwa kehormatan tidak diwariskan secara otomatis, melainkan harus dijaga melalui perilaku dan pengabdian. Garis keturunan menjadi bermakna hanya jika diikuti dengan keteladanan.
Ramadhan yang terasa begitu singkat ini seakan memberi pelajaran yang sama. Waktu terus berjalan tanpa kompromi. Kesempatan untuk berbuat baik tidak selalu datang berulang. Maka siapa pun yang diberi kelebihan ilmu, kedudukan, atau pengaruh sosial, hendaknya menjadikan momentum spiritual ini sebagai titik refleksi. Sudahkah kita menjadi suluh bagi sesama? Sudahkah kita menjadi tongkat bagi mereka yang membutuhkan?
Pada hakikatnya, falsafah “suluh di nagolap, tokkat di nalandit” adalah panggilan sepanjang zaman. Ia relevan di desa maupun di kota, di ruang akademik maupun di ruang kekuasaan. Masyarakat selalu membutuhkan cahaya dan penopang. Dan sejarah akan mencatat, siapa yang benar-benar hadir menjalankan fungsi itu, dan siapa yang hanya menikmati gelar tanpa makna.
Semoga para ulama, intelektual, dan pemimpin di negeri ini tidak lelah menjadi penerang dan penyangga. Karena di tengah dunia yang semakin kompleks, nilai-nilai kearifan lokal justru menjadi kompas moral yang paling jernih, dan tetap sarat makna. (*)
Silaturahmi-Kolaborasi -Sinergi-Harmoni

