Site icon TAJDID.ID

PPG FKIP UMSU Gelar Diklat Kebhinekaan, Perkuat Wawasan Kebangsaan Calon Guru

TAJDID.ID~Medan || Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) menyelenggarakan Diklat Kebhinekaan sebagai bagian dari penguatan wawasan kebangsaan bagi mahasiswa calon guru. Kegiatan tersebut berlangsung pada 12–13 Maret 2026 di Aula Sekolah Pascasarjana UMSU.

Diklat ini diikuti mahasiswa PPG sebagai upaya menumbuhkan kesadaran akademik mengenai pentingnya merawat keberagaman dalam praktik pendidikan.

Kegiatan secara resmi dibuka oleh Dekan FKIP UMSU, Dra. Syamsyurnita, M.Pd. Turut hadir Wakil Dekan I Bidang Akademik Dr. Dewi Kesuma Nasution, M.Pd serta Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan Dr. Mandra Saragih, M.Hum yang memberikan dukungan terhadap penguatan nilai kebangsaan bagi mahasiswa calon guru.

Koordinator Program Studi PPG FKIP UMSU, Dr. Irfan Dahnial, M.Pd dalam laporannya menyampaikan bahwa diklat ini dirancang sebagai ruang penguatan nilai kebangsaan bagi mahasiswa PPG agar memiliki pemahaman yang lebih komprehensif mengenai realitas keberagaman dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia.

Menurutnya, keberagaman bukan sekadar fakta sosial, tetapi juga fondasi penting dalam membangun peradaban pendidikan yang inklusif. Karena itu, calon guru memiliki tanggung jawab strategis dalam menanamkan nilai toleransi, penghargaan terhadap perbedaan, serta semangat persatuan kepada peserta didik sejak dini.

“Melalui kegiatan ini, mahasiswa PPG diharapkan dapat memperkaya perspektif dalam memahami kebhinekaan sebagai kekuatan bangsa yang harus dirawat melalui proses pendidikan,” ujarnya.

Dalam sambutan pembukaan, Dekan FKIP UMSU Dra. Syamsyurnita menegaskan bahwa nilai persatuan dalam kebhinekaan merupakan fondasi penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ia menyebutkan bahwa keberagaman suku, budaya, bahasa, dan latar belakang sosial yang dimiliki bangsa Indonesia merupakan kekayaan peradaban yang harus dipelihara melalui pendidikan yang berorientasi pada nilai-nilai kebangsaan.

“Pendidikan memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran kolektif bahwa perbedaan bukanlah sumber konflik, melainkan kekuatan untuk membangun harmoni sosial,” katanya.

Karena itu, guru sebagai aktor utama dalam dunia pendidikan diharapkan mampu menghadirkan praktik pembelajaran yang inklusif, dialogis, serta menghargai pluralitas sebagai bagian dari identitas bangsa.

Pada hari pertama, Kamis (12/3/2026), kegiatan menghadirkan narasumber dari unsur TNI, Letkol Adzan M. Nasution, S.H., M.M., M.Tr.Mil. Dalam paparannya, ia menekankan bahwa guru memiliki posisi strategis dalam menjaga integrasi sosial bangsa melalui pendidikan.

Ia menggambarkan peran guru sebagai “jarum rajut” yang menyatukan berbagai elemen keberagaman dalam satu kesatuan nilai kebangsaan.

“Melalui pendidikan yang menanamkan disiplin, tanggung jawab, dan toleransi, guru dapat memperkuat kohesi sosial masyarakat,” jelasnya.

Sementara itu, pada hari kedua, Jumat (13/3/2026), sesi akademik disampaikan oleh akademisi Dr. Zulkifli Amin, M.Si. Ia menekankan pentingnya pemahaman identitas bangsa bagi setiap calon guru.

Menurutnya, identitas nasional merupakan konstruksi historis dan kultural yang perlu dipahami secara kritis oleh pendidik agar mampu mentransformasikan nilai-nilai kebangsaan kepada peserta didik.

Ia menambahkan, guru masa depan harus memiliki kesadaran intelektual dan kebangsaan yang kuat sehingga mampu menempatkan pendidikan sebagai ruang strategis dalam membangun karakter bangsa.

Melalui penyelenggaraan Diklat Kebhinekaan ini, Program PPG FKIP UMSU berharap mahasiswa calon guru memiliki pemahaman yang lebih mendalam mengenai pentingnya merawat kebhinekaan sebagai bagian dari tanggung jawab profesi pendidik.

Dengan demikian, guru di masa depan diharapkan mampu menjadi aktor strategis dalam menjaga persatuan bangsa melalui praktik pendidikan yang berlandaskan nilai toleransi, inklusivitas, dan semangat kebangsaan. (*)

Exit mobile version