TAJDID.ID~Solo 🔘 Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustaz Dwi Jatmiko menegaskan esensi buka puasa bersama alumnus Ma’had Abu Bakar Ash-Shiddiq Universitas Muhammadiyah Surakarta (MABAS UMS) angkatan tahun 2007 untuk menyalakan api dakwah yang berdampak.
Hal itu dia sampaikan dalam buka bersama bertajuk “Berkah Silaturahmi dalam Ketakwaan” yang diselenggarakan di Warung Soto Seger Mbok Giyem yang berada di Jalan Adi Sucipto 48, Karanganyar pada Rabu (11/3/2026).
Menurutnya, karakter orang yang bertakwa sesuai ayat al-Quran Surat Ali Imran 133-134 bisa dengan jalan berbuka bersama.
“Di ayat tersebut dijelaskan antara lain orang yang berinfak, baik kondisi ekonominya lapang maupun sempit. Contoh teman kita Akhi Furi berbagi kepada teman-teman,” ujar Jatmiko.
Dengan jaringan silaturahmi mampu menggerakkan alumnus untuk membentuk karakter umat, menguatkan jaringan persaudaraan, dan memperkuat pilar-pilar dakwah di tingkat akar rumput.
“Sebagai salah satu alumnus kita sangat mendukung visi Mabas yaitu sebagai pusat pendidikan kader mubalig Muhammadiyah dan pendidikan Bahasa Arab yang Unggul,” terangnya.
Islam mengajarkan silaturahmi. Dai yang juga guru Pendidikan Agama Islam di SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta Jawa Tengah itu mengutip hadits Nabi SAW, yang artinya: “Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjang umurnya maka hendaklah menyambung silaturahim. (HR Bukhari No 940 Muslim No 1762)”
Maka dia, berharap adanya silaturahmi mampu membangun dan mengembangkan dakwah digital melalui platform-platform via website atau blogspot.
“Kedepan bisa jadi akan ada pelatihan dasar jurnalistik untuk dakwah bagi alumnus. Belajar bersama sepanjang hayat,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu alumni Abdullah Anis aktif bergerak dakwah di Masjid Jami’ Assegaf di Pasar Kliwon, Solo. Dia mengatakan masjid Jami’ Assegaf didirikan sekitar tahun 1920-an oleh Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf dari Gresik di atas tanah hadiah Raja Surakarta, Pakubuwono X.
Masjid ini sempat dikenal sebagai Masjid Wiropaten sebelum akhirnya ditetapkan sebagai cagar budaya pada tahun 2014 dan dikenal dengan nama Assegaf.
“Tanah tersebut diberikan sebagai wujud rasa syukur setelah Habib Abu Bakar berhasil menyembuhkan putri Keraton yang sakit,” ujar Wakil Ketua Dewan Pengurus Masjid Jami Assegaf. (*)
✍️ DJ

