TAJDID.ID-Medan || Sebuah kritik tajam dilontarkan oleh cendekiawan Indonesia, Yudi Latif, terkait arah kebijakan politik luar negeri dan mentalitas berbangsa saat ini.
Dalam sebuah postingan terbarunya di Facebook, Yudi menyoroti ironi perjalanan bangsa yang dinilainya telah jauh menyimpang dari fondasi ideal para pendiri.
Dalam statusnya itu, Yudi mengawali dengan membandingkan posisi Indonesia di era kepemimpinan masa lalu yang disegani. Menurutnya, dahulu Indonesia berdiri dengan percaya diri di panggung dunia, bahkan tercatat sebagai pemimpin gerakan negara-negara Nonblok.
“Kita memasuki pergaulan dunia dengan politik bebas aktif yang cerdik,” ujar Yudi, merujuk pada filosofi “mendayung di antara dua karang”.
Frasa “bebas” dan “aktif” pun ia jabarkan secara filosofis. “Bebas berarti mampu berdiri di atas kaki sendiri, tak tergantung dan tak memihak blok mana pun. Aktif berarti turut terlibat mengupayakan perdamaian dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian, dan keadilan,” jelasnya.
Namun, kondisi kekinian dinilainya kontras. Yudi melihat Indonesia kini tampil ambigu, lebih sebagai pengekor yang kehilangan arah. Ia bahkan menggunakan diksi keras untuk menggambarkan kondisi tersebut, menyebutnya sebagai politik “terikat-kompulsif” yang menjurus pada perilaku “negara Goblok”.
“Terikat artinya tersandera oleh pilihan sendiri menjadi sekutu adidaya pembuli. Kompulsif artinya dorongan obsesif untuk terus tampil di panggung internasional sebagai proyeksi dari perasaan rendah diri,” tegasnya.
Akibat dari sikap ini, menurut Yudi, Indonesia mengalami krisis kredibilitas di dua sisi. “Kita kehilangan akar kewibawaan di barisan negara-negara Nonblok, tapi juga tak diindahkan oleh rekognisi superioritas negara adidaya,” sesalnya.
Lebih jauh, cendekiawan tersebut menyebut situasi ini sebagai “tragedi paling sunyi dari sebuah bangsa”. Sebuah tragedi yang tidak disebabkan oleh kekalahan perang, melainkan oleh “ketika ia perlahan kehilangan akal sehatnya sendiri.”
Yudi Latif juga menyoroti kemunduran dalam cara berpikir. Ia melihat telah terjadi kemerosotan dari keberanian intelektual menjadi sekadar keinginan untuk meniru. “Dulu kita mengaku bebas karena berani berpikir merdeka; kini kita sibuk aktif hanya untuk meniru siapa yang paling lantang menggertak,” sindirnya.
Kritik Yudi mencapai puncaknya pada kontradiksi antara retorika dan praktik. “Di podium internasional kita masih fasih mengucap kata kemerdekaan, perdamaian, keadilan, tetapi dalam praktik kita lebih sering berdiri sebagai pecundang yang senang dielus sebelum disembelih,” ungkapnya dengan nada getir.
Menurut Yudi, perjalanan bangsa ini terasa ganjil; dari akar “Nonblok yang lahir dari keberanian intelektual, menuju Goblok yang dipelihara oleh kemalasan berpikir.”
Ia menutup pernyataannya dengan sebuah perenungan tajam, bahwa mungkin dunia tidak sedang menertawakan, melainkan menunggu hingga bangsa ini sendiri menyadari “betapa seriusnya lelucon yang sedang kita mainkan sebagai sebuah bangsa.” (*)

