Site icon TAJDID.ID

Menyiapkan Kader Ulama, Politik, dan Profesional: Agenda Strategis Menuju Muktamar 49 Muhammadiyah

Gambatr ilustrasi.

Oleh: Jufri

Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi

 

Muhammadiyah telah melintasi perjalanan panjang lebih dari satu abad. Dalam rentang waktu yang tidak pendek itu, Persyarikatan ini mampu bertahan, bahkan terus berkembang di tengah perubahan zaman yang begitu cepat. Banyak faktor yang menjelaskan ketahanan tersebut, tetapi salah satu yang paling menentukan adalah kualitas sumber daya manusianya, terutama para kadernya.

Kader dalam Muhammadiyah bukan sekadar anggota organisasi. Mereka adalah “anak panah gerakan” yang dilepas ke berbagai medan kehidupan. Di tangan para kader itulah nilai, cita-cita, dan visi Muhammadiyah diterjemahkan menjadi amal nyata bagi umat dan bangsa.

Menjelang Muktamar 49 Muhammadiyah yang akan diselenggarakan di Sumatera Utara, refleksi tentang kaderisasi menjadi sangat penting. Bukan hanya untuk menjaga kesinambungan organisasi, tetapi juga untuk memastikan bahwa Muhammadiyah tetap relevan menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.

Dalam berbagai kesempatan, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menekankan pentingnya menyiapkan tiga jenis kader yang sangat strategis bagi masa depan Persyarikatan, yakni kader ulama, kader politik, dan kader profesional. Ketiganya merupakan pilar penting yang akan menentukan arah dan kekuatan Muhammadiyah dalam menghadapi dinamika kehidupan modern.

 

Kader Ulama

Muhammadiyah sejak awal dikenal sebagai gerakan tajdid yang menempatkan ilmu sebagai fondasi utama. Ulama dalam perspektif Muhammadiyah bukan hanya mereka yang menguasai kitab-kitab klasik, tetapi juga mereka yang mampu memahami realitas kehidupan modern dengan pendekatan yang luas dan multidisipliner.

Persoalan umat dewasa ini tidak lagi berdiri sendiri. Isu keagamaan sering kali bersentuhan dengan ekonomi, politik, teknologi, kesehatan, bahkan lingkungan hidup. Karena itu, ulama masa depan tidak cukup hanya menguasai ilmu-ilmu agama secara tekstual, tetapi juga mampu membaca konteks sosial yang terus berubah.

Ulama yang diharapkan adalah ulama yang memiliki keluasan ilmu, kedalaman spiritualitas, serta kepekaan sosial. Ulama yang mampu menjembatani hubungan antara hablumminallah dan hablumminannas. Ulama yang tidak hanya mengajarkan agama, tetapi juga menghadirkan pencerahan bagi kehidupan.

 

Kader Politik

Muhammadiyah memang bukan partai politik dan tidak akan berubah menjadi partai politik. Namun bukan berarti Muhammadiyah harus menjauh dari dunia politik. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, politik merupakan bagian penting dari proses pengambilan keputusan yang mempengaruhi kehidupan masyarakat.

Karena itu Muhammadiyah tetap memerlukan kader-kader yang memiliki kapasitas dan integritas untuk berkiprah di dunia politik. Kader yang mampu membawa nilai-nilai moral, keadaban, dan kejujuran dalam praktik politik yang sering kali keras dan penuh tantangan.

Kader politik Muhammadiyah tidak harus bergerak dalam satu partai tertentu. Mereka dapat tersebar di berbagai partai politik, tetapi tetap membawa nilai dan etika yang dibentuk oleh tradisi Muhammadiyah. Yang penting adalah mereka tidak sekadar menjadi pengikut, tetapi mampu menjadi pemimpin yang menentukan arah kebijakan demi kepentingan bangsa.

 

Kader Profesional

Di era modern, jalur profesional menjadi semakin penting. Dunia pemerintahan, ekonomi, pendidikan, media, teknologi, hingga berbagai institusi strategis membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi tinggi dan integritas yang kuat.

Muhammadiyah memiliki jaringan amal usaha yang sangat luas, mulai dari sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, hingga berbagai lembaga sosial. Semua itu membutuhkan tenaga profesional yang tidak hanya memiliki keahlian, tetapi juga memiliki komitmen nilai.

Kader profesional Muhammadiyah harus mampu menunjukkan bahwa profesionalitas dan nilai-nilai keislaman dapat berjalan beriringan. Mereka hadir sebagai ahli di bidangnya, sekaligus sebagai pribadi yang membawa misi dakwah dan kemajuan.

Namun satu hal yang patut menjadi renungan bersama. Selama ini banyak kader Muhammadiyah yang muncul secara alamiah. Mereka tumbuh karena lingkungan, tradisi keluarga, atau pengalaman organisasi. Hal itu tentu merupakan anugerah.

Tetapi ke depan, kaderisasi tidak bisa lagi sepenuhnya diserahkan kepada proses alamiah. Muhammadiyah perlu merancang kaderisasi secara lebih sistematis, terencana, dan berkelanjutan. Pendidikan kader, pembinaan kepemimpinan, serta penguatan kapasitas intelektual harus menjadi agenda strategis Persyarikatan.

Di sinilah pentingnya momentum Muktamar Muhammadiyah ke-49 di Sumatera Utara. Muktamar bukan hanya forum memilih pimpinan atau merumuskan program kerja. Lebih dari itu, muktamar adalah kesempatan untuk meneguhkan kembali arah perjalanan Muhammadiyah di masa depan.

Tantangan umat dan bangsa ke depan tentu tidak semakin ringan. Perubahan teknologi, dinamika ekonomi global, persoalan lingkungan, hingga tantangan sosial kemasyarakatan membutuhkan pemikiran dan kepemimpinan yang matang.

Muhammadiyah memiliki modal sosial yang sangat besar. Jaringan organisasi yang luas, amal usaha yang kuat, serta tradisi intelektual yang panjang. Tetapi semua itu hanya akan tetap hidup jika didukung oleh kader-kader yang berkualitas.

Karena itu, menyiapkan kader ulama, kader politik, dan kader profesional bukan sekadar program organisasi. Ia adalah investasi peradaban. Sebuah ikhtiar panjang agar Muhammadiyah tetap menjadi gerakan pencerahan bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.

Dari Sumatera Utara, melalui Muktamar 49 Muhammadiyah, harapan itu kembali diteguhkan. Bahwa Muhammadiyah akan terus melangkah sebagai gerakan Islam berkemajuan yang menebar ilmu, amal, dan pencerahan bagi semesta. (*)

Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

 

Exit mobile version