TAJDID.ID~Pontianak 🔳 Gerakan konservasi lingkungan yang inklusif mulai diperkuat di Kalimantan Barat. Melalui program Together for People and Planet (ToPP) GreenAbility, Eco Bhinneka Muhammadiyah bersama WWF Indonesia menggelar kegiatan Silaturahmi dan Asesmen Program di Pontianak pada Jumat–Sabtu, 6–7 Maret 2026.
Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk memetakan kebutuhan komunitas penyandang difabel sekaligus membangun kolaborasi lintas iman dan komunitas dalam memperkuat gerakan konservasi yang lebih inklusif dan berkeadilan sosial. Asesmen ini diikuti oleh berbagai pemangku kepentingan, antara lain pimpinan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, organisasi perempuan, Himpunan Difabel Muhammadiyah (Hidimu), Yayasan Parapreneur Indonesia Bahagia, komunitas lokal, organisasi masyarakat sipil, tokoh-pemuda lintas iman, hingga perwakilan Dinas Sosial Provinsi dan Kota Pontianak.
Dr. Samsul Hidayat, M.A. dari Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Barat menegaskan bahwa persoalan lingkungan tidak bisa dilepaskan dari isu keadilan sosial dan keberpihakan kepada kelompok rentan. “Persoalan lingkungan hari ini bukan hanya soal alam, tetapi juga soal keadilan sosial. Kita tidak boleh membiarkan kelompok rentan, termasuk saudara-saudara kita penyandang difabel, berada di pinggir dari upaya menjaga bumi. Program ini menjadi langkah penting agar gerakan konservasi benar-benar inklusif,” ujarnya saat membuka kegiatan secara resmi.
Ia menambahkan bahwa dakwah Muhammadiyah harus hadir dalam berbagai persoalan kemanusiaan, termasuk krisis lingkungan. “Melalui kolaborasi ini kita ingin menunjukkan bahwa dakwah tidak hanya berbicara soal ibadah ritual, tetapi juga tentang cara merawat bumi dan memberdayakan masyarakat, termasuk penyandang difabel agar memiliki ruang yang setara dalam pembangunan,” kata Samsul Hidayat yang juga Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Pontianak serta Ketua ICMI Orda Kota Pontianak.
Sementara itu, Mupahir dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Pontianak menilai Pontianak dan Kalimantan Barat memiliki potensi besar untuk menjadi model gerakan lingkungan berbasis komunitas. “Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah dan tajdid memiliki tanggung jawab moral untuk terlibat dalam upaya pelestarian lingkungan sekaligus penguatan kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.
Program ToPP GreenAbility sendiri bertujuan mengintegrasikan konservasi lingkungan dengan pemberdayaan ekonomi komunitas, khususnya bagi penyandang difabel.
Menurut Intan Mustikasari, Program Manager ToPP GreenAbility Eco Bhinneka Muhammadiyah, Kalimantan Barat dipilih sebagai salah satu area penting karena memiliki kekayaan biodiversitas yang tinggi sekaligus menghadapi tekanan lingkungan yang serius.
“Kalimantan Barat merupakan bagian penting dari bentang alam Borneo yang memiliki keanekaragaman hayati luar biasa. Namun kawasan ini juga menghadapi berbagai tekanan seperti deforestasi, perubahan penggunaan lahan, serta dampak perubahan iklim,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kelompok difabel sering menjadi pihak yang paling rentan saat terjadi krisis lingkungan. “Mulai dari keterbatasan akses terhadap informasi bencana hingga hambatan mobilitas dalam memperoleh sumber daya, penyandang difabel sering kali menghadapi tantangan yang lebih besar ketika terjadi krisis lingkungan,” kata Intan.
Melalui kegiatan silaturahmi dan asesmen ini, para fasilitator program memetakan jaringan komunitas difabel lintas iman, organisasi masyarakat sipil, serta peluang kolaborasi dalam isu konservasi dan pemberdayaan ekonomi.
Silaturahmi dan Asesmen Bersama Komunitas Pemuda Lintas Iman
Pada hari kedua kegiatan, tim program juga melakukan asesmen lapangan dan silaturahmi komunitas di Kafe ½ (Satuperdua) Kopi Tiam Pontianak untuk memperdalam pemetaan kebutuhan serta peluang pengembangan program. Kafe yang telah aktif sejak pertengahan 2024 ini dikenal sebagai salah satu episentrum gerakan pemberdayaan penyandang difabel di Pontianak. Sebagian besar karyawannya merupakan penyandang difabel yang terlibat langsung dalam pengelolaan usaha dan pelayanan kepada pelanggan.
Selain mengelola usaha kafe, komunitas ini juga mengembangkan berbagai pelatihan keterampilan hidup bagi penyandang difabel, seperti menjahit, tata rias (make up artist), produksi makanan ringan dengan standar rasa dan kemasan yang menarik, hingga pelatihan keterampilan teknis seperti bengkel, pertanian, dan peternakan.
“Inisiatif ini menunjukkan bahwa dengan dukungan yang tepat, penyandang disabilitas tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga mampu menjadi pelaku utama dalam kegiatan ekonomi produktif dan pemberdayaan komunitas,” kata
Mustaat Saman, pendiri Yayasan Parapreneur Indonesia Bahagia sekaligus Pembina Himpunan Difabel Muhammadiyah Kalimantan Barat.
Wayan perwakilan dari Pemuda Hindu menyampaikan bahwa secara formal belum ada kebijakan khusus mengenai gerakan inklusi dalam organisasinya. Namun, landasan dasarnya ada pada ajaran agama, yaitu Tat Twam Asi (Aku adalah engkau), bahwa semua manusia setara sebagai ciptaan Tuhan, Ahimsa (tidak menyakiti), dan Tri Hita Karana (hubungan harmonis antara Tuhan, manusia, dan alam). Ketiga hal ini melarang adanya diskriminasi.
Wayan berharap dengan adanya program ToPP GreenAbility, teman-teman Hindu bisa lebih terlibat dalam gerakan inklusi dan konservasi lingkungan.
Hasil asesmen ini nantinya akan menjadi dasar pengembangan program ToPP GreenAbility yang akan berlangsung selama 35 bulan, dengan fokus pada integrasi konservasi lingkungan, inklusi sosial, serta pemberdayaan ekonomi komunitas difabel di Kalimantan Barat.
Program ini diharapkan tidak hanya memperkuat gerakan konservasi, tetapi juga membangun solidaritas lintas komunitas untuk merawat bumi secara bersama. (*)
✍️ Herma/Winda

