Site icon TAJDID.ID

Licik Vs Cerdik

Gambar ilustrasi

✍️ M. Risfan Sihaloho

 

Sungguh pertunjukan yang menghibur! Menyaksikan bagaimana duo “pahlawan” demokrasi yang biasanya pamer otot kini harus gigit jari karena kesombongan sekaligus kebahlulan mereka sendiri. Amerika Serikat dan Israel, dua negara yang mengklaim diri sebagai benteng peradaban, ternyata cuma pengecut dan pecundang yang mentalnya hancur saat berhadapan dengan kecerdikan ala Timur Tengah.

Bayangkan, dengan segala kecanggihan teknologi militer, dengan anggaran triliunan dolar, mereka telah diprank mentah-mentah. Ya, Iran dengan jenakanya membuat tank-tank dan helikopter palsu yang mirip mainan anak-anak, lalu Amerika dan Israel dengan gagahnya menghujani benda-benda itu dengan rudal seharga jutaan dolar. Boom! Sia-sia. Rudal mahal hanya sukses menyergap alutsista palsu.

Ini lucu sekaligus memprihatinkan. Seperti orang kaya raya yang membeli tas branded palsu di pinggir jalan dengan harga selangit, lalu bangga memamerkannya. Bedanya, ini rudal sungguhan dan ini perang sungguhan – tapi targetnya? Helikopter dan tank mainan yang terbuat dari plastik yang diisi udara.

Baca juga: Skakmat Versi Iran

Bicara soal kelicikan, Amerika dan Israel memang juara bertahan. Mereka punya jurus pamungkas yang tak pernah gagal: bungkus semua agresi dengan kata-kata manis. “Demi perdamaian,” kata mereka sambil menjatuhkan bom. “Menyebarkan demokrasi,” ucap mereka sambil menghancurkan negara. “Melawan terorisme,” teriak mereka, padahal merekalah guru besar semua teroris.

Puncak kelicikan? Mereka menyerang Iran di saat perundingan sedang berlangsung. Bayangkan etika macam apa ini: Anda sedang duduk manis di meja perundingan, membahas solusi damai, tiba-tiba lawan bicara Anda menyodorkan tinju ke muka Anda. Ini bukan diplomasi, ini kelakuan preman pasar yang kehilangan akal sehat.

Ingat tidak bagaimana mereka begitu sesumbar? “Iran akan takluk dalam hitungan hari,” kata mereka percaya diri. “Operasi kilat,” janji mereka. “Kemenangan mudah,” klaim mereka.

Eh, ternyata? Prediksi meleset jauh. Faktanya Iran masih tegar berdiri. Bahkan perang semakin panjang, semakin menguras energi. Justru yang dulunya sesumbar mau pesta kemenangan, sekarang pusing tujuh keliling mikirin logistik dan psikologi pasukan yang jeblok.

Baca juga: The Power of Resistance: Mengapa Iran Tak Pernah Bisa Ditaklukkan

Inilah yang disebut strategi “perang panjang” versi Iran: bikin musuh kelelahan sendiri. Sementara Amerika dan Israel sibuk menghitung rudal yang meleset, sibuk merevisi strategi, sibuk menjelaskan ke publik kenapa perang “kilat” mereka tak terbukti,

Abu Nawas Reborn

Semua kelakuan jenius Iran ini mengingatkan kita pada seorang legenda dari khazanah Persia: Abu Nawas. Tokoh cerdik yang selalu bisa mempermalukan penguasa sombong dengan akal bulusnya. Yang selalu bisa membuat yang kuat terjatuh oleh kesombongannya sendiri.

Iran seperti Abu Nawas yang sedang mempermainkan raja-raja congkak. Dengan sumber daya terbatas, dengan segala embargo dan tekanan, mereka tetap mampu membuat Amerika dan Israel terlihat seperti badut di sirkus internasional.

Sementara Amerika dan Israel sibuk mengumpulkan sekutu, sibuk membuat resolusi PBB, sibuk membangun narasi propaganda, Iran hanya perlu melakukan satu hal: tetap bertahan. Karena dalam perang asimetris ini, bertahan adalah menyerang. Dan sejauh ini, Abu Nawas dari Persia itu unggul jauh.

Wallahu a’lam bish-shawab. Yang jelas, sejarah akan mencatat: ada dua jenis negara di dunia ini – yang licik tapi bodoh, dan yang cerdik meski terdesak. Dan seperti dalam setiap kisah Abu Nawas, yang sombong selalu berakhir dengan dipermalukan (*)

 

Exit mobile version