✍️ M. Risfan Sihaloho
Mereka bilang cinta tak harus memiliki. Tapi coba lihat hubungan antara kapitalisme dan imperialisme—mereka saling memiliki, saling membutuhkan, dan saling menghancurkan dalam diam. Seperti pasangan toksik yang tak bisa dipisahkan, keduanya telah menjalin romansa berdarah selama berabad-abad. Dan kita? Kita adalah anak-anak yang lahir dari rahim perkawinan liar mereka, mewarisi luka tanpa pernah diminta.
Ketika Filsafat Berbicara: Antara “Ralé” dan “Cinta Kuasa”
Hannah Arendt, filsuf Jerman yang getol mengkaji totalitarianisme, membedah hubungan ini dengan cara yang mengganggu kenyamanan kita. Menurutnya, imperialisme lahir dari apa yang ia sebut sebagai “perkawinan antara modal dan ralé”—sekongkolan antara kaum borjuis dan massa akar rumput yang teralienasi. Yang menarik, imperialisme tidak semata lahir dari nafsu ekonomi, melainkan dari apa yang disebut Arendt sebagai “kekuasaan demi cinta kuasa” .
Coba renungkan: apakah Anda pikir bangsa Eropa menjelajah Afrika hanya karena rempah-rempah? Atau Amerika menggulingkan pemerintahan negara lain hanya karena minyak?
Arendt mengajak kita melihat lebih dalam: ada kesenangan psikopatologis dalam menguasai, dalam memperluas batas-batas kekuasaan tanpa pernah merasa puas. Kapitalisme memberi mesinnya, imperialisme memberi jiwanya yang haus darah.
Di sinilah letak provokasi Arendt: “akumulasi modal berlebihan” yang tak terbendung membutuhkan saluran. Ketika mesin produksi menghasilkan lebih dari yang bisa dikonsumsi masyarakat Eropa, ketika kantong-kantong kapitalis menggelembung seperti balon siap meledak, maka ekspansi keluar menjadi obat bius. Imperialisme bukan sekadar kebijakan luar negeri—ia adalah terapi kejut bagi kapitalisme yang terserang konstipasi struktural .
Perdebatan Ideologis: Antara Lenin dan Schumpeter
Di ranah ideologi, terjadi pertarungan sengit tentang siapa sebenarnya biang keladi imperialisme. Vladimir Lenin, dalam pamflet revolusionernya Imperialism: The Highest Stage of Capitalism, berargumen bahwa imperialisme adalah fase tertinggi dan tak terhindarkan dari kapitalisme. Ia melihat kartel-kartel raksasa, bank-bank internasional, dan ekspor modal sebagai bukti bahwa kapitalisme pada awal abad ke-20 telah bermetamorfosis menjadi monster imperial .
Namun Joseph Schumpeter, ekonom Austria-Murcia yang brilian, menolak mentah-mentah tesis ini. Dalam karyanya yang kini langka, ia menyatakan bahwa imperialisme justru merupakan atavisme—warisan masa lalu pra-kapitalis yang terbawa ke era modern. Baginya, kapitalisme pada hakikatnya rasional, cinta damai, dan hanya ingin berdagang. Imperialisme adalah hantu feodalisme yang enggan pergi, bukan anak kandung kapitalisme .
Siapa yang benar? Mungkin keduanya setengah benar. Lenin tepat membaca gejala masanya: ekspansi kolonial Eropa memang beriringan dengan konsentrasi modal. Namun Schumpeter juga punya poin: imperialisme jauh lebih tua dari kapitalisme. Romawi, Mongol, Ottoman—mereka semua imperialis tanpa mengenal saham atau bursa efek.
Lalu kenapa kita masih memusingkan perdebatan ini? Karena jawabannya menentukan strategi perlawanan. Jika kapitalisme adalah induk imperialisme, maka mengubah sistem ekonomi menjadi prasyarat mutlak. Jika imperialisme hanya “penyakit masa lalu” yang kebetulan menempel, maka cukup obati simtomnya. Pilihan ideologis ini berimplikasi pada jutaan nyawa.
Sejarah sebagai Saksi: Dari Meriam ke Kapal Perang
Sejarah mencatat bagaimana kapitalisme dan imperialisme berjalan bergandengan tangan, mabuk oleh ekspansi. Abad ke-15 hingga ke-20 adalah panggung raksasa di mana Eropa membagi dunia seperti kue ulang tahun. Inggris, Prancis, Belanda, Belgia—mereka semua berlomba menancapkan bendera di tanah yang penduduk aslinya tak pernah dimintai pendapat.
John Milios, dalam karyanya yang baru terbit tahun 2026, menegaskan bahwa kapitalisme secara inheren bersifat ekspansif—tidak hanya secara ekonomi, tapi juga politik dan ideologis. Ia menunjukkan bagaimana negara-bangsa modern tidak bisa dipisahkan dari proyek imperial . Ketika perusahaan Inggris membutuhkan kapas murah, Angkatan Laut Kerajaan siap meratakan desa-desa di India. Ketika investor Prancis mengincar karet di Kongo, pemerintah di Paris tutup mata terhadap tangan-tangan yang dipotong sebagai hukuman.
Namun imperialisme klasik ini mulai berubah wajah setelah Perang Dunia II. Claudio Katz, ekonom Argentina yang getol mengkaji imperialisme kontemporer, memperkenalkan konsep “sistem imperial” sebagai pengganti model lama. Baginya, kita tidak lagi hidup di era imperium tunggal ala Romawi, melainkan dalam struktur piramidal yang kompleks dengan Amerika Serikat di puncak, disusul sekutu seperti Eropa dan Jepang di tingkat alter-imperial, dan klien seperti Israel atau Australia di posisi co-imperial .
Katz menolak narasi sederhana bahwa kapitalisme dan imperialisme itu identik. “Imperialisme adalah perangkat yang menjamin kelangsungan kapitalisme di tiga level,” katanya. Level ekonomi (eksploitasi sumber daya periferi), level geopolitik (rivalitas antarnegara adidaya), dan level politik (penindasan terhadap perlawanan rakyat) .
Wajah Mutakhir: Algoritma dan Data sebagai Senjata Baru
Sekarang tibalah kita di era yang paling membingungkan sekaligus menakutkan. Ketika tembok Berlin runtuh dan globalisasi merebak, banyak yang bernyanyi bahwa imperialisme telah mati. Pasar bebas, kata mereka, akan menyatukan umat manusia dalam pelukan kapitalisme yang hangat. Perbatasan akan luntur, perang akan usai.
Betapa naifnya kita.
Di Blitar, November 2025, Megawati Soekarnoputri berdiri di pusara Bung Karno dan melontarkan peringatan yang menggelegar: “Jika dulu penjajahan hadir dengan meriam dan kapal perang, maka kini ia datang melalui algoritma dan data” .
Lihatlah sekeliling Anda. Setiap kali Anda mengklik “setuju” pada syarat dan ketentuan yang tak pernah Anda baca, setiap kali ponsel Anda merekam percakapan tanpa Anda sadari, setiap kali Netflix merekomendasikan film berdasarkan data perilaku Anda—di situlah imperialisme baru bekerja. Negara-negara maju, dengan raksasa teknologinya (Google, Meta, Amazon, Microsoft, Apple), kini menjadi “pemilik data.” Sementara kita di negara berkembang hanya menjadi “konsumen algoritma” yang tidak kita kuasai. Manusia direduksi menjadi angka. Data menjadi komoditas paling berharga .
Inilah yang disebut sebagai imperialisme digital—bentuk mutakhir dari hubungan cinta beracun antara kapitalisme dan imperialisme. Kapitalisme kognitif tidak lagi membutuhkan pabrik-pabrik berasap di tanah jajahan. Cukup dengan menguasai algoritma, mengontrol arus informasi, dan memonopoli platform digital, ia telah menciptakan bentuk ketergantungan baru yang lebih halus namun sama merusaknya.
David Lane, dalam analisisnya untuk Valdai Club, menyebut fase ini sebagai “neo-imperialisme”—dominasi multi-bentuk oleh inti negara kapitalis yang diperkuat oleh kebebasan bergerak dan bertukar yang disediakan globalisasi. Yang baru di sini adalah penekanan pada kontrol kultural dan ideologis, bukan sekadar ekonomi dan politik. Melalui platform digital, nilai-nilai, gaya hidup, dan cara berpikir Barat diinjeksikan ke seluruh dunia tanpa perlu satu pun tentara mendarat di pantai .
Tiga Kontradiksi Baru yang Mengguncang
Namun hubungan cinta ini tidak mulus. Johan Galtung, sosiolog Norwegia yang meramalkan keruntuhan imperium Amerika, mengidentifikasi lima belas kontradiksi internal yang menggerogoti imperium dari dalam . Kini, para futuris dari Participatory Futures Global Swarm menambahkan tiga kontradiksi baru yang mempercepat kematian sang raksasa.
Pertama, kontradiksi planeter: pertumbuhan imperial di bumi yang terbatas. Kapitalisme butuh ekspansi abadi, tapi planet ini punya batas. Enam dari sembilan batas planet telah kita langgar—krisis iklim, kepunahan biodiversitas, siklus biogeokimia yang kacau. Amerika Serikat dan sekutunya, yang secara historis menjadi penyumbang emisi terbesar, kini harus menghadapi kenyataan bahwa bumi tak bisa lagi menopang gaya hidup boros mereka. Badai yang semakin ganas, kebakaran hutan yang meluas, kekeringan yang berkepanjangan—semua ini adalah “tagihan” yang datang untuk ditagih .
Kedua, kontradiksi digital: infrastruktur jaringan yang sama yang memperluas kekuasaan Amerika juga mengikis kemampuannya mengontrol narasi. Internet yang lahir dari rahim militer AS kini menjadi arena perlawanan. TikTok asal China menyaingi Facebook. Propaganda Rusia menjangkau pemilih AS melalui platform Amerika sendiri. Ketika setiap warga bisa menjadi stasiun televisi melalui media sosial, siapa yang mengontrol “kebenaran”? .
Ketiga, kontradiksi epistemik: klaim universalisme versus realitas pluriversal. Selama berabad-abad, Barat memonopoli apa yang disebut “pengetahuan” dan “kebenaran.” Ilmu pengetahuan modern, dengan metode ilmiahnya, diposisikan sebagai satu-satunya cara valid memahami dunia. Kini, suara-suara dari Selatan Global, dari masyarakat adat, dari epistemologi non-Barat, mulai bangkit menuntut pengakuan. Mereka bertanya: mengapa cara berpikir kami dianggap “takhayul” sementara cara berpikir kalian disebut “sains”? .
Masa Depan: Empat Skenario dan Satu Harapan
Lalu kemana kita akan melangkah? Para futuris merumuskan empat skenario pasca-hegemoni yang mungkin kita hadapi hingga 2050 .
Skenario pertama: Multipolar Alliance. Dunia bergerak menuju keseimbangan baru dengan beberapa pusat kekuatan—AS, China, Uni Eropa, mungkin India atau Brasil. Sistem imperial lama runtuh, digantikan oleh negosiasi konstan antara blok-blok kekuatan. Ini skenario paling optimis, di mana keragaman dihargai dan kerja sama internasional tetap dimungkinkan.
Skenario kedua: New Cold War. Dua blok raksasa—Barat pimpinan AS melawan Timur pimpinan China—terlibat dalam kompetisi sengit di semua lini: ekonomi, teknologi, militer, ideologi. Dunia terbelah menjadi dua kubu yang saling curiga. Perang proksi meletus di berbagai negara pinggiran. Ini skenario yang paling mungkin jika tren saat ini berlanjut.
Skenario ketiga: Great Depression and Exodus. Ekonomi global kolaps akibat krisis iklim, ketimpangan ekstrem, dan pecahnya gelembung finansial. Migrasi massal terjadi dari wilayah-wilayah yang tak lagi layak huni. Negara gagal menjalankan fungsi dasarnya. Kekacauan menjadi norma baru. Ini skenario tergelap, namun semakin masuk akal melihat ketidakmampuan elite global mengatasi krisis.
Skenario keempat: Gaian Reformation. Manusia, karena terpaksa atau sadar, memilih jalan baru: ekonomi sirkular yang menghormati batas planet, teknologi yang melayani kehidupan bukan sebaliknya, pengetahuan yang menghargai kearifan lokal. Ini bukan utopia, melainkan respons pragmatis terhadap ancaman eksistensial. Entah kita memilihnya, atau alam akan memaksakannya.
Penutup: Siapa yang Akan Menulis Babak Final?
Hubungan kapitalisme dan imperialisme adalah drama panjang tanpa akhir yang jelas. Mereka seperti dua pecandu yang saling menyuplai kebutuhan destruktif masing-masing. Kapitalisme butuh ekspansi, imperialisme menyediakan wilayah baru. Imperialisme butuh legitimasi, kapitalisme menyediakan narasi “pembangunan” dan “kemajuan.”
Namun setiap pecandu pada akhirnya harus berhadapan dengan mabuknya. Kontradiksi demi kontradiksi menumpuk—ekologis, digital, epistemik, sosial. Dinding-dinding imperium mulai retak. Pertanyaannya: apa yang akan menggantikannya?
Bagi kita di Indonesia, warisan Konferensi Asia-Afrika 1955 bukan sekadar nostalgia. Megawati mengingatkan kita: “Dunia membutuhkan a new global ethics, aturan moral global baru, untuk menata kembali kekuasaan dalam ranah teknologi, ekonomi, dan informasi” . Dunia yang tidak diatur oleh algoritma tanpa hati nurani, tetapi oleh nilai-nilai yang memuliakan kehidupan.
Sebab pada akhirnya, imperialisme bukan hanya soal bagaimana kapital mencaplok laba. Ia soal bagaimana manusia kehilangan kemanusiaannya—baik yang menjajah maupun yang dijajah. Dan selama kita masih menerima begitu saja bahwa pertumbuhan ekonomi harus abadi, bahwa konsumsi tak boleh berhenti, bahwa data pribadi adalah harga wajar untuk layanan gratis—selama itu pula kita masih menjadi bagian dari romansa beracun ini.
Lalu, Anda mau bercerai atau terus bertahan dalam hubungan yang menyakitkan ini?
Catatan Akhir:
Tulisan ini adalah esai populer yang bertujuan memancing diskusi kritis. Semua argumen dan data yang disajikan dapat ditelusuri lebih lanjut melalui referensi yang dicantumkan. Seperti kata pepatah, “Kita tidak mewarisi bumi dari nenek moyang kita, kita meminjamnya dari anak cucu kita.” Pertanyaannya kini: akan kita tinggalkan seperti apa dunia ini bagi mereka?
Referensi
- Arendt, Hannah. The Origins of Totalitarianism. New York: Harcourt Brace Jovanovich, 1973. (Terjemahan Indonesia: Asal-Usul Totalitarianisme).
- Galtung, Johan. The Fall of the US Empire: And Then What? Oslo: Kolofon Press, 2009.
- Katz, Claudio. Neoliberalismo, neodesarrollismo, socialismo. Buenos Aires: Batalla de Ideas, 2015.
- Lane, David. “Global Neoliberalism and the Contemporary World: The Impact of the 2008 Financial Crisis.” Dalam The Handbook of Neoliberalism, disunting oleh Simon Springer, Kean Birch, dan Julie MacLeavy. New York: Routledge, 2016.
- Lenin, Vladimir Ilyich. Imperialism: The Highest Stage of Capitalism. Petrograd: 1917. (Terjemahan Indonesia: Imperialisme: Tahap Tertinggi Kapitalisme).
- Megawati Soekarnoputri. “Pidato Kebangsaan di Peringatan Hari Bung Karno.” Blitar, 23 November 2025.
- Milios, John. The Political Economy of Capitalism and Imperialism. Amsterdam: Brill, 2026 (forthcoming).
- Participatory Futures Global Swarm. Four Scenarios for a Post-Hegemonic World: 2025-2050. Laporan riset kolaboratif, 2025.
- Schumpeter, Joseph. Imperialism and Social Classes. Diterjemahkan oleh Heinz Norden. New York: Meridian Books, 1955.
- Valdai Discussion Club. “The New Imperialism: Digital Control and Cultural Hegemony.” Laporan Konferensi Tahunan, Moskow, 2024.

