✍️ Jufri
Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi
Pada pengajian Ramadhan 1447 H di Pesantren Kuala Madu Langkat, Ketua Panitia Muktamar Muhammadiyah ke-49 sekaligus Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Prof. Dr. Agussani, menyampaikan laporan perkembangan persiapan pelaksanaan Muktamar Muhammadiyah ke-49 yang akan digelar di Medan, Sumatera Utara.
Dalam pemaparannya, beliau juga mengingatkan kembali sejarah perkembangan Muhammadiyah di Medan sejak tahun 1927. Pada masa awal itu telah terbentuk susunan pengurus Muhammadiyah yang menjadi tonggak berdirinya organisasi ini di Sumatera Timur. Para tokoh perintis inilah yang menanamkan dasar-dasar dakwah, pendidikan, dan gerakan sosial Muhammadiyah di kota Medan, yang kemudian berkembang luas hingga ke berbagai daerah di Sumatera Utara.
Penjelasan ini penting, karena Medan bukan sekadar lokasi kegiatan organisasi, tetapi juga salah satu simpul sejarah penting perjalanan Muhammadiyah di Indonesia.
Salah satu peristiwa besar dalam sejarah itu adalah pelaksanaan Kongres Muhammadiyah ke-28 yang berlangsung pada 19–25 Juli 1939. Kongres tersebut dipusatkan di Lapangan Merdeka Medan dengan menggunakan tenda besar di lapangan terbuka. Pada acara pembukaannya, sekitar 12.000 orang hadir sebagai peserta dan penggembira—jumlah yang sangat besar pada masa itu.
Menariknya, pada kongres tahun 1939 tersebut Muhammadiyah sudah menggunakan istilah Indonesia dalam berbagai aktivitas organisasinya. Padahal pada masa itu negeri ini secara resmi masih disebut Hindia Belanda oleh pemerintah kolonial. Pilihan menggunakan kata “Indonesia” menunjukkan bahwa kesadaran kebangsaan telah tumbuh kuat di kalangan Muhammadiyah jauh sebelum kemerdekaan diproklamasikan.
Karena itu, pelaksanaan Muktamar Muhammadiyah ke-49 di Sumatera Utara hari ini terasa seperti napak tilas sejarah, sekaligus ibarat “membangkit batang terendam.” Sejarah lama yang pernah besar itu kini seperti diangkat kembali ke permukaan.
Jika pada Kongres ke-28 tahun 1939 jumlah penggembira sekitar 12.000 orang, maka pada Muktamar ke-49 nanti diperkirakan jumlah penggembira dapat mencapai sekitar 2 juta orang. Sebuah lonjakan yang menunjukkan betapa luas dan besarnya jaringan Muhammadiyah hari ini.
Antusiasme itu bahkan sudah mulai terlihat. Dari Sulawesi Selatan misalnya, telah mengonfirmasi kehadiran sekitar 25.000 orang penggembira yang direncanakan datang menggunakan kapal laut menuju Sumatera Utara. Selain itu diperkirakan sekitar 5.000 ambulans dari Pulau Jawa akan bergerak menuju arena Muktamar dengan menyinggahi 49 titik dalam perjalanan sebagai bagian dari syiar sekaligus pelayanan kemanusiaan Muhammadiyah.
Muktamar yang direncanakan berlangsung pada November 2027 ini juga dijadikan momentum oleh Muhammadiyah Sumatera Utara bersama Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara untuk melengkapi berbagai sarana dan prasarana yang memadai, seperti pembangunan auditorium, ruang kelas baru, masjid, serta berbagai fasilitas pendidikan dan dakwah lainnya.
Pada akhirnya, Muktamar Muhammadiyah ke-49 bukan hanya sekadar pertemuan organisasi lima tahunan. Ia adalah momentum untuk menghidupkan kembali semangat perjuangan para perintis, menguatkan dakwah pencerahan, dan meneguhkan kembali peran Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang memajukan umat dan bangsa.
Di tanah Sumatera Utara ini, sejarah lama seperti dipanggil kembali. Apa yang pernah ditanam para pendahulu hampir seabad yang lalu, kini tumbuh menjadi pohon besar yang menaungi jutaan umat. Inilah makna sesungguhnya dari napak tilas sejarah dan membangkit batang terendam: mengangkat kembali warisan perjuangan masa lalu untuk menyalakan cahaya masa depan.
Silahturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

