Sabtu, Agustus 8, 2026
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Nasionalisme yang Selektif, Konstitusi yang Diuji, dan Keteladanan yang Kita Tunggu

Mujaddid by Mujaddid
2026/02/25
in Jufri Daily, Nasional, Opini
Reading Time: 3 mins read
0
Nasionalisme yang Selektif, Konstitusi yang Diuji, dan Keteladanan yang Kita Tunggu
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

Oleh : Jufri

Belakangan ini kata nasionalisme begitu mudah diucapkan. Ia hadir di mimbar-mimbar pidato, di linimasa media sosial, bahkan di ruang-ruang debat yang panas. Nasionalisme seolah menjadi alat ukur paling sahih untuk menilai siapa yang setia dan siapa yang patut dicurigai.

Ketika ada warga yang dianggap lalai , penerima beasiswa yang tidak pulang, individu yang dinilai tak memenuhi kewajiban , hujatan datang bertubi-tubi. Kata “pengkhianat” dilempar tanpa ragu. Jiwa nasionalisme dipertanyakan. Seakan-akan ukuran cinta tanah air berhenti pada satu dua kasus individu.

Saya setuju, orang yang menerima beasiswa dari negara harus punya jiwa nasionalisme yang tinggi. Itu bukan tuntutan berlebihan. Uang yang mereka terima berasal dari pajak rakyat. Ada harapan yang dititipkan di sana. Ada amanah yang harus dijaga. Nasionalisme dalam konteks itu berarti kesediaan memberi kembali kepada negeri, dalam bentuk ilmu, karya, atau kontribusi nyata.

Namun di saat yang sama, kebijakan bernilai puluhan bahkan ratusan triliun berjalan. Proyek besar, impor besar, program ambisius, belanja negara dalam skala masif. Energi kritik tak selalu sebanding. Ada yang lantang kepada sesama warga, tetapi pelan ketika menyentuh sistem dan kekuasaan.

Di titik ini kita perlu bercermin: apakah nasionalisme kita tumbuh, atau justru menjadi selektif?

Nasionalisme bukan sekadar marah kepada individu. Nasionalisme adalah keberanian menjaga uang rakyat, mengawasi kekuasaan, dan memastikan kebijakan publik berpijak pada kepentingan bersama. Jika ratusan miliar dianggap kerugian besar, maka puluhan triliun seharusnya memancing pengawasan yang jauh lebih serius. Jika warga biasa diuji loyalitasnya, maka pejabat publik harus diuji integritasnya dengan standar yang lebih tinggi.

Sebab nasionalisme pertama-tama adalah tanggung jawab penyelenggara negara.

Seberapa besar nasionalisme pejabat jika korupsi masih marak? Jika penyalahgunaan wewenang terus terjadi? Jika hukum terasa tajam ke bawah namun tumpul ke atas?

Lembaga seperti Komisi Pemberantasan Korupsi, Kepolisian Negara Republik Indonesia, Kejaksaan Agung Republik Indonesia, dan terutama Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia bukan sekadar struktur administratif. Mereka adalah penjaga marwah negara hukum.

Kita pernah menyaksikan hakim konstitusi dijatuhi sanksi etik oleh Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi. Itu bukan sekadar berita lalu berlalu. Itu adalah pengingat bahwa bahkan penjaga konstitusi pun bisa tergelincir. Dan ketika itu terjadi, publik berhak gelisah.

Konstitusi bukan dokumen biasa. Ia adalah kesepakatan luhur bangsa, pagar pembatas kekuasaan. Ia dibuat bukan untuk mempermudah ambisi, tetapi untuk menjaga agar kekuasaan tidak melampaui batasnya. Jika muncul kesan bahwa konstitusi ditafsirkan demi kepentingan tertentu, wajar bila publik bertanya.

Dan di sinilah kegelisahan itu menemukan dasarnya: mana mungkin nasionalisme tumbuh dan hukum ditegakkan, sementara di pusat kekuasaan sendiri pelanggaran itu nyata, dan hasilnya tidak malu-malu dinikmati? Bagaimana rakyat diminta patuh pada aturan jika elite terlihat nyaman melampauinya? Bagaimana generasi muda diajarkan integritas jika mereka menyaksikan kompromi etika di panggung tertinggi?

Sering kali pertanyaan-pertanyaan seperti ini dianggap sebagai sikap “tidak move on”. Seolah-olah kedewasaan bernegara diukur dari kemampuan melupakan. Padahal dalam negara hukum, yang dibutuhkan bukan lupa, melainkan evaluasi.

Apakah semua sudah benar-benar selesai secara moral? Apakah kepercayaan publik otomatis pulih hanya karena waktu berjalan? Apakah legitimasi cukup dibangun dengan kemenangan formal tanpa menjawab kegelisahan substantif?

Mengkritik bukan berarti membenci negara. Justru itulah bentuk cinta yang dewasa. Cinta yang tidak buta. Cinta yang ingin negeri ini berdiri di atas fondasi yang kokoh, bukan sekadar di atas kemenangan prosedural.

Nasionalisme yang matang bukan nasionalisme yang alergi kritik. Ia adalah keberanian mengakui kekeliruan dan memperbaikinya. Ia adalah kesediaan menempatkan konstitusi di atas kepentingan. Ia adalah integritas dalam mengelola anggaran. Ia adalah ketegasan menegakkan hukum tanpa pandang bulu.

Jika nasionalisme terus ditagih ke bawah, maka keteladanan harus lebih dulu ditegakkan dari atas.

Karena pada kenyataannya , rakyat tidak hanya mendengar apa yang diucapkan pemimpinnya. Rakyat melihat apa yang dilakukan. Dan dari situlah nasionalisme menemukan maknanya , bukan sebagai slogan, tetapi sebagai sikap hidup bernegara.

Silaturahim~Kolaborasi Sinergi~Harmoni

Previous Post

FORMASSU: Surat Edaran Wali Kota Medan Harus Dibaca Utuh dan Proporsional

Next Post

Menulislah

Related Posts

UNIMUS Jadi Saksi! Muktamar Tapak Suci XVI, Meneguhkan Iman & Pukulan

UNIMUS Jadi Saksi! Muktamar Tapak Suci XVI, Meneguhkan Iman & Pukulan

7 Agustus 2026
108
Menjaga Silaturahmi, Menguatkan Soliditas

Menjaga Silaturahmi, Menguatkan Soliditas

7 Agustus 2026
111
Marbot Bukan Sekadar Penjaga Masjid, tetapi Penjaga Peradaban

Marbot Bukan Sekadar Penjaga Masjid, tetapi Penjaga Peradaban

7 Agustus 2026
120
Ma’had Abu Ubaidah Resmi Bergabung ke UMSU

Ma’had Abu Ubaidah Resmi Bergabung ke UMSU

7 Agustus 2026
106
Eco Bhinneka Muhammadiyah Hadir di Muktamar Nasyiatul Aisyiyah, Bagikan Praktik Baik Perempuan Muda untuk Keberlanjutan

Eco Bhinneka Muhammadiyah Hadir di Muktamar Nasyiatul Aisyiyah, Bagikan Praktik Baik Perempuan Muda untuk Keberlanjutan

7 Agustus 2026
102
Gelanggang yang Menempa Kader Muhammadiyah

Dari Gelanggang Menuju Peradaban: Rekonstruksi Tapak Suci sebagai Organisasi Berbasis Pengetahuan

6 Agustus 2026
160
Next Post
Menulislah

Menulislah

Ini Bahasan dalam Kajian Riyadhus Shalihin dan HPT Hari Pertama di Masjid Al Wasathiyah UMMAD

Ini Bahasan dalam Kajian Riyadhus Shalihin dan HPT Hari Pertama di Masjid Al Wasathiyah UMMAD

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    20091 shares
    Share 8036 Tweet 5023
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    11918 shares
    Share 4767 Tweet 2980
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    9190 shares
    Share 3676 Tweet 2298
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    6314 shares
    Share 2526 Tweet 1579
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    6102 shares
    Share 2441 Tweet 1526

OPINI

UNIMUS Jadi Saksi! Muktamar Tapak Suci XVI, Meneguhkan Iman & Pukulan
Nasional

UNIMUS Jadi Saksi! Muktamar Tapak Suci XVI, Meneguhkan Iman & Pukulan

7 Agustus 2026
108
Menjaga Silaturahmi, Menguatkan Soliditas
Daerah

Menjaga Silaturahmi, Menguatkan Soliditas

7 Agustus 2026
111
Marbot Bukan Sekadar Penjaga Masjid, tetapi Penjaga Peradaban
Daerah

Marbot Bukan Sekadar Penjaga Masjid, tetapi Penjaga Peradaban

7 Agustus 2026
120
Gelanggang yang Menempa Kader Muhammadiyah
Nasional

Dari Gelanggang Menuju Peradaban: Rekonstruksi Tapak Suci sebagai Organisasi Berbasis Pengetahuan

6 Agustus 2026
160
Dari Pulau Terluar, Simeulue Menjemput Cahaya Pendidikan
Daerah

Dari Pulau Terluar, Simeulue Menjemput Cahaya Pendidikan

5 Agustus 2026
258
Benarkah Agustus Membawa Dua Gerhana?
Esai

Benarkah Agustus Membawa Dua Gerhana?

5 Agustus 2026
111

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan