No Result
View All Result
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
SAVED POSTS
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
TAJDID.ID
No Result
View All Result

Antara Iman dan Aksi: Mengapa Kebenaran Berhenti di Hati?

23 Februari 2026
in Islam, Keislaman, Nasional, Opini
Reading Time: 2 mins read
0
A A
0
Share on Facebook
Share on Twitter

✍️ Padian Adi S. Siregar 

Ketua PCM Kampung Durian-Medan

 

Di berbagai ruang kehidupan hari ini—dari lingkup publik hingga komunitas paling kecil—kita menyaksikan fenomena yang mengusik nurani: banyak orang mengetahui apa yang keliru, tetapi memilih untuk tidak mengatakannya. Mereka menyadari adanya keputusan yang tidak tepat, sikap yang melukai rasa keadilan, atau kebiasaan yang menyimpang dari nilai bersama, namun reaksi yang muncul sebatas bisikan batin: “yang penting saya tidak setuju.” Kebenaran diyakini, tetapi tidak diartikulasikan. Ia berhenti di hati.

Gejala ini tidak hanya terkait relasi dengan otoritas formal. Ia juga tampak dalam rapat organisasi, dinamika kampus, lingkungan kerja, forum keagamaan, bahkan dalam keluarga. Ketika terjadi ketidaktepatan, banyak yang memilih diam. Ketika ada ketidakadilan kecil, sedikit yang berani menyampaikan keberatan secara terbuka. Harmoni dijaga, tetapi sering kali dengan mengorbankan kejujuran moral.

Dalam perspektif Islam, persoalan ini menyentuh hubungan mendasar antara iman dan tanggung jawab sosial. Al-Qur’an menegaskan larangan menyembunyikan kebenaran dan perintah menegakkan keadilan, bahkan jika itu menyangkut diri sendiri atau orang-orang terdekat. Artinya, kebenaran bukan sekadar urusan batin, melainkan komitmen etik yang memiliki dimensi sosial.

Hadis riwayat Imam Muslim menjelaskan tiga level respons terhadap kemungkaran: dengan tangan (kewenangan), dengan lisan (ucapan), dan jika tidak mampu maka dengan hati—dan itu adalah selemah-lemahnya iman. Penolakan dalam hati memang diakui, tetapi ia adalah batas minimal, bukan standar ideal. Jika ruang untuk berbicara sebenarnya tersedia, berhenti pada level hati berarti mereduksi tanggung jawab moral.

Mengapa banyak orang memilih diam? Ada faktor ketakutan sosial, rasa sungkan, kekhawatiran dianggap tidak loyal, atau keengganan menimbulkan konflik. Dalam komunitas kecil, kritik kerap dipahami sebagai serangan personal. Dalam organisasi, ia dicurigai sebagai ancaman terhadap solidaritas. Dalam keluarga, ia dianggap tidak hormat. Maka lahirlah rasionalisasi: demi menjaga hubungan baik, lebih aman menyimpan kebenaran dalam hati.

Namun secara etik, diam terhadap kekeliruan bukanlah sikap netral. Ketika kesalahan kecil dibiarkan, ia berpotensi menjadi kebiasaan. Ketika ketidakadilan ringan tidak dikoreksi, ia dapat mengeras menjadi pola. Stabilitas yang dibangun di atas pembungkaman diri hanyalah stabilitas semu.

Islam memang mengajarkan adab dan hikmah dalam berbicara. Kritik tidak boleh berubah menjadi caci maki, fitnah, atau prasangka tanpa dasar. Namun hikmah tidak identik dengan diam. Kritik yang santun, argumentatif, dan bertujuan memperbaiki justru merupakan bagian dari amar ma’ruf nahi munkar—mekanisme etis yang berlaku di semua level kehidupan, dari ruang publik hingga relasi personal.

Iman dalam Islam tidak berhenti pada keyakinan batin. Ia menuntut artikulasi dan tindakan. Jika iman direduksi menjadi urusan privat, dimensi sosialnya menghilang. Keberagamaan menjadi individualistik, padahal Islam membangun etika kolektif.

Jika kebenaran terus-menerus dipenjara dalam hati, maka perlahan kita sedang membangun masyarakat yang kehilangan keberanian moralnya. Diam mungkin terasa aman hari ini, tetapi ia menyisakan akumulasi persoalan di hari esok. Ketika setiap orang memilih menjadi penonton, tidak ada lagi yang benar-benar berdiri sebagai penjaga nilai.

BACA JUGA

BEM UIN Semarang Tolak Putusan MK dan Politik Dinasti Jokowi

AJI Medan Kecam Tindakan Over Protektif Petugas Pengaman Presiden Terhadap Jurnalis

Sowan ke PW Muhammadiyah DIY, Anies Diskusi Soal Indonesia Berkemajuan

Menyanyilah yang Kencang Jaksa PSM

Pendidikan dan Perikemanusiaan

Wajah Politik Warga Muhammadiyah

Sejarah menunjukkan, kemunduran suatu komunitas bukan selalu karena ketiadaan orang baik, melainkan karena orang-orang baik memilih untuk tidak bersuara. Ketika iman dipisahkan dari aksi, yang lahir bukan kedamaian, melainkan kesunyian yang rapuh. Dan kesunyian yang rapuh tidak pernah cukup kuat untuk menopang keadilan.

Pada akhirnya, pertanyaan itu kembali kepada diri kita masing-masing: apakah iman akan kita biarkan berhenti sebagai bisikan batin, atau kita naikkan ia menjadi keberanian yang beradab? Sebab di antara hati dan lisan, antara keyakinan dan tindakan, di situlah kualitas moral sebuah masyarakat ditentukan. (*)

 

Tags: AksiImanIslamPadian Adi S. Siregar
Mujaddid

Mujaddid

Editor in chief

Konten Terkait

LAPK Pertanyakan Komitmen PLN Terkait Pemadaman Berulang di Sumut
Daerah

LAPK Pertanyakan Komitmen PLN Terkait Pemadaman Berulang di Sumut

by Mujaddid
6 Juni 2026
45
Istidraj Perusahaan Listrik: Janji Menyala, Rakyat Tetap Gelap
Daerah

Istidraj Perusahaan Listrik: Janji Menyala, Rakyat Tetap Gelap

by Mujaddid
4 Juni 2026
29
Manusia Silver
Daerah

LAPK: PLN Wajib Berikan Kompensasi kepada Pelanggan Terdampak Blackout Sumatera

by Mujaddid
24 Mei 2026
76
Kerugian Manusia Apa Adanya
Esai

Kerugian Manusia Apa Adanya

by Mujaddid
12 Mei 2026
54
Kesabaran dalam Islam di Era Perang Dagang Global
Esai

Kesabaran dalam Islam di Era Perang Dagang Global

by Mujaddid
10 Maret 2026
62
Kesalehan Ekologis
Nasional

Kesalehan Ekologis

by Mujaddid
13 Desember 2025
93
Ketika Orang-orang Baik Diam!
Esai

Kompleksitas Kehidupan dan Tahun Baru

by Mujaddid
4 Januari 2024
97
Kondisi Otak Saat Shalat (Sebuah Analisis Ilmiah)
Keislaman

Kondisi Otak Saat Shalat (Sebuah Analisis Ilmiah)

by Mujaddid
8 Agustus 2023
1.6k
Koleksi Kata-kata Mutiara tentang “Sujud”
Islam

Koleksi Kata-kata Mutiara tentang “Sujud”

by Mujaddid
3 Juli 2023
5.9k
Parlemen Setan
Esai

Iqbal, Islam dan Barat

by Mujaddid
23 Juni 2023
459

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

  • Kampus Berdampak, Prodi Biokewirausahaan UMJT Gelorakan Literasi Numerasi di SMAN Mejayan Madiun
  • UMSU Melejit
  • Analisis Strategi School Branding Melalui Integrasi Model AIDA dan Teori Identitas Sosial dalam Ekosistem Pendidikan Digital
  • Tuan Rumah Konferensi Next-D 2026, UMSU Kumpulkan 200 Pakar Digital Lintas Negara
  • Hari Radio Nasional, Fajar Junaedi: Industri Radio Perlu Adaptasi Multiplatform
  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

OPINI

UMSU Melejit
Muhammadiyah

UMSU Melejit

Analisis Strategi School Branding Melalui Integrasi Model AIDA dan Teori Identitas Sosial dalam Ekosistem Pendidikan Digital
Nasional

Analisis Strategi School Branding Melalui Integrasi Model AIDA dan Teori Identitas Sosial dalam Ekosistem Pendidikan Digital

Membangun Ekosistem Dakwah dan Gerakan Terpadu Wujudkan Kesejahteraan Nasional
Muhammadiyah

Membangun Ekosistem Dakwah dan Gerakan Terpadu Wujudkan Kesejahteraan Nasional

Muhammadiyah di Abad Kedua: Meneguhkan Gerakan Peradaban di Era VUCA
Kemuhammadiyahan

Muhammadiyah di Abad Kedua: Meneguhkan Gerakan Peradaban di Era VUCA

Gerakan Organisasi Pemuda: Cetak Pemimpin Publik Tangguh
Internasional

Gerakan Organisasi Pemuda: Cetak Pemimpin Publik Tangguh

85 Mahasiswa Prodi IAP FISIP UMSU PPL di Kabupaten Samosir
Daerah

Sinergisme PPL: Penguatan Kebijakan Pembangunan Daerah

TAJDID.ID

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.