✍️ Jufri
Ketua PDM Kota Tebing Tinggi
Namanya Arifin Saleh Siregar. Tadi saya berjumpa dengan beliau di lokasi peletakan batu pertama pembangunan Masjid KH Ahmad Dahlan, Kampus IV Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Suasananya teduh, meski biasanya panas, kami semua penuh harap, dan sarat makna. Di depan pintu kami saling menyapa, berbincang ringan, lalu berfoto bersama. Pertemuan singkat itu terasa lebih dari sekadar temu sapa; ia seperti pengingat bahwa setiap langkah kecil adalah bagian dari perjalanan besar.
Beliau adalah Dekan FISIP UMSU, yang di setiap unggahan Facebook-nya hampir selalu diakhiri dengan satu kata: “Uisdah .” Kata yang sederhana, tetapi dalam. Seolah ingin mengatakan bahwa hidup ini bukan sekadar jabatan, bukan pula sekadar posisi struktural, melainkan rangkaian cerita tentang pengabdian dan konsistensi, yang tidak selalu harus serius.
Saya kerap melihat beliau melalui postingan. Beliau duduk di sudut saat shalat Jum’at. Belum menjadi muazzin, apalagi khatib. Namun justru dari sudut itu ada pelajaran tentang kerendahan hati. Tidak semua orang harus berdiri di depan untuk memberi makna. Ada kekuatan dalam sikap tenang, dalam kontribusi yang tidak selalu riuh.
Konon hari Sabtu katanya adalah hari yang sulit untuk membuat postingan. Tetapi bagi beliau, hampir setiap hari adalah momentum berbagi pikiran. Inilah tradisi akademik yang perlu dirawat: menulis sebagai ikhtiar mencerahkan, bukan sekadar meramaikan linimasa. Kampus yang besar lahir dari budaya literasi yang hidup.
Peletakan batu pertama Masjid KH Ahmad Dahlan bukan hanya pembangunan fisik. Ia adalah simbol bahwa kampus ini terus meneguhkan identitasnya: ilmu yang berpijak pada nilai, kecerdasan yang berakar pada iman. Masjid di tengah kampus bukan sekadar bangunan, melainkan pusat pembinaan karakter, ruang dialog batin, dan tempat menyemai integritas.
Ramadhan memberi kita ruang refleksi. Bahwa kemajuan tidak selalu identik dengan gedung megah atau angka statistik. Kemajuan adalah ketika pemimpin tetap rendah hati. Ketika dosen terus berpikir dan menulis. Ketika mahasiswa dididik untuk kritis tanpa kehilangan adab.
Tahun depan, usia 70 tahun Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara menjadi momentum penting. Rencana menyusun buku “70 Tahun UMSU: Menuju Muktamar Muhammadiyah ke-49 di Sumatera Utara” adalah bagian dari tanggung jawab sejarah. Institusi yang berkemajuan adalah institusi yang sadar akan jejaknya, merawat memori kolektifnya, dan menatap masa depan dengan optimisme.
Semoga kita semua diberi kesehatan dan umur panjang untuk menyaksikan kampus ini terus tumbuh.
UMSU Unggul
UMSU Cerdas
UMSU Terpercaya
Silaturahmi~Kolaborasi~Sinergi~Harmoni

