Site icon TAJDID.ID

Menulislah

✍️ M. Risfan Sihaloho

“Jika Anda dapat menuliskan masalah tersebut dengan jelas, maka sesungguhnya masalah itu sudah setengah terpecahkan.” ~ Hukum Kidlin

Kalimat di atas memang sederhana, tetapi menghantam jantung persoalan manusia modern: kita sering bingung bukan karena masalah terlalu rumit, melainkan karena pikiran kita terlalu kusut. Menulis adalah cara merapikan kekusutan itu. Ia menertibkan yang liar, menjernihkan yang keruh, dan memaksa kita jujur pada kenyataan.

Dalam makna yang lebih dalam, menulis bukan sekadar aktivitas merangkai kata. Ia adalah tindakan filosofis—upaya manusia mengikat ilmu, mengabadikan gagasan, dan meninggalkan jejak di lorong waktu.

Tubuh manusia fana. Usia dibatasi angka. Tetapi tulisan melampaui nisan. Ia hidup di rak-rak perpustakaan, di layar-layar digital, di kepala generasi yang tak pernah bertemu penulisnya. Di sanalah seseorang menemukan bentuk keabadiannya.

Imam al~Ghazali pernah mengingatkan: “Jika kau bukan anak raja, dan bukan pula anak ulama besar, maka menulislah”.

Pesan itu tidak berlebihan. Sebab tulisanlah yang membuat seseorang dikenal, dihargai, bahkan diperhitungkan—bukan karena darah keturunan, tetapi karena daya pikirnya.

Filosofi klasik mengingatkan tentang pentingnya tradisi menulis. Pengetahuan yang tak ditulis mudah menguap. Ia seperti embun di pagi hari—indah sesaat, lalu lenyap. Menulis adalah cara konkret menahan embun itu agar tidak hilang. Ia mengubah ide abstrak menjadi jejak permanen. Dari sinilah peradaban dibangun. Bukan dengan pedang, melainkan dengan pena.

Sayyid Quthb pernah berkata, “Satu peluru hanya dapat menembus satu kepala, tetapi satu tulisan dapat menembus ribuan bahkan jutaan kepala.” Peluru menghancurkan tubuh; tulisan mengguncang kesadaran. Peluru menimbulkan ketakutan; tulisan menumbuhkan perubahan. Sejarah membuktikan, revolusi besar sering kali lahir dari buku-buku yang dibaca diam-diam di sudut kamar, bukan dari teriakan di medan tempur.

Dalam Islam, menulis bukan sekadar kerja intelektual, melainkan juga ibadah. Wahyu pertama dimulai dengan perintah membaca. Tradisi keilmuan Islam bertumpu pada tulisan: mushaf, kitab, risalah, manuskrip. Rasulullah SAW memerintahkan agar ilmu diikat dengan tulisan agar tidak hilang dan dapat diwariskan. Tulisan yang bermanfaat menjadi amal jariyah—pahala yang terus mengalir bahkan setelah penulisnya wafat. Artinya, pena bisa menjadi jalan sunyi menuju keabadian spiritual.

Namun menulis bukan hanya tentang warisan besar atau gagasan monumental. Ia juga ruang refleksi. Dalam keheningan, menulis menjadi dialog dengan diri sendiri. Kita menimbang emosi, mengurai luka, memeriksa keyakinan. Ia bekerja seperti terapi jiwa—membebaskan beban batin yang tak sempat diucapkan. Di atas kertas, kita lebih jujur daripada di hadapan publik.

Lebih dari itu, menulis melatih nalar kritis. Ia memaksa kita membedakan fakta dari opini, argumen dari asumsi. Ketika menulis, kita tak bisa bersembunyi di balik kabut retorika. Struktur kalimat menuntut struktur berpikir. Tulisan yang jernih lahir dari pikiran yang tertib. Itulah sebabnya menulis adalah latihan intelektual yang tak tergantikan.

Tetapi menulis yang mencerahkan tidak lahir dari ambisi viral atau sekadar mengejar popularitas. Ia tumbuh dari passion—keinginan tulus berbagi cahaya. Membaca adalah “wudhu”-nya penulis. Tanpa membaca, tulisan menjadi kering dan dangkal. Tanpa kejujuran, tulisan menjadi propaganda. Tanpa tanggung jawab moral, tulisan berubah menjadi alat manipulasi.

Semangat pencerahan dalam menulis berarti berani menyuarakan kebenaran, meski tidak selalu disukai. Ia menolak sensasionalisme dan berdiri pada integritas. Ia tidak tunduk pada arus, tetapi memeriksa arus itu dengan akal sehat. Dalam dunia yang dipenuhi ilusi dan manipulasi, tulisan yang jujur adalah tindakan perlawanan.

Menulis juga merupakan tindakan pembebasan. Ia ruang merdeka bagi pikiran dan nurani. Di sana seseorang dapat menyuarakan keadilan, mengkritik ketimpangan, atau sekadar menyatakan kegelisahan eksistensialnya. Tulisan adalah rumah bagi kebebasan batin. Ia tidak mengenal tembok, kecuali tembok yang kita bangun sendiri karena takut.

Membaca dan menulis adalah dua sisi mata uang literasi. Membaca adalah asupan; menulis adalah ekspresi. Membaca memperkaya kosakata dan wawasan; menulis mengasah ketajaman dan keberanian. Keduanya saling menguatkan, seperti tarikan dan hembusan napas dalam kehidupan intelektual.

Pada akhirnya, menulis adalah bentuk “jihad intelektual”, perjuangan sunyi melawan kebodohan, kelupaan, dan kesementaraan. Ia mendokumentasikan kebenaran, menyebarkan ilmu, dan meninggalkan warisan yang melampaui usia biologis penulisnya.

Jika dunia terasa bising dan membingungkan, maka duduklah. Lalu menulislah.

Jika pikiran terasa kusut, menulislah.

Jika ingin hidup lebih lama dari usia, menulislah.

Karena di antara tinta dan kertas, manusia menemukan cara paling elegan untuk melawan kefanaan. (*)

Exit mobile version