✍️ Jufri
Ketika kita menulis sesuatu di media sosial, sesungguhnya kita sedang melepaskan pikiran ke ruang yang sangat luas. Ia bisa dibaca oleh kawan dekat, oleh orang yang hanya sekadar kenal nama, bahkan oleh mereka yang sama sekali tidak pernah kita temui. Di ruang itu, tulisan berdiri sendiri—tanpa nada suara, tanpa ekspresi wajah, tanpa penjelasan tambahan.
Ada yang membaca dengan seksama. Mengunyah kalimat demi kalimat. Memahami konteks dan maksudnya. Tetapi tidak sedikit pula yang membaca dengan membawa prasangkanya sendiri. Bahkan ada yang tidak benar-benar membaca, hanya menangkap satu dua kata, lalu membangun kesimpulan.
Namun, apakah itu sepenuhnya salah? Tidak juga.
Media sosial—sebagaimana namanya—adalah ruang sosial. Ia bukan ruang akademik yang steril, bukan pula forum ilmiah yang penuh tata tertib metodologis. Ia adalah ruang perjumpaan. Orang datang dengan latar belakang berbeda, dengan kepentingan berbeda, dengan beban pikiran yang juga berbeda. Di sana, interaksi berlangsung begitu saja. Sebagian bahkan tidak saling mengenal. Tidak tahu karakter satu sama lain. Tidak tahu jalan pikiran dan pengalaman hidup masing-masing.
Di sinilah sering terjadi pergeseran konteks.
Kita menulis tentang kebersamaan untuk menyukseskan sebuah agenda organisasi tingkat nasional. Yang kita maksud adalah gotong royong, partisipasi, dan kontribusi sesuai kapasitas masing-masing. Tetapi tiba-tiba ada yang berkomentar tentang pentingnya berdakwah kepada wali kota agar jangan korupsi. Secara nilai mungkin sama-sama berbicara tentang kebaikan, tetapi secara konteks jelas tidak nyambung.
Kadang lain yang kita tulis, lain pula yang dibahas.
Inilah dinamika ruang maya. Tidak semua orang masuk untuk berdialog; sebagian masuk untuk melampiaskan. Ada yang membawa kegelisahan pribadi, ada yang membawa sentimen politik, ada pula yang memang gemar menggeser isu. Tulisan kita hanya menjadi pintu masuk bagi pikiran mereka sendiri.
Begitu pula dengan asumsi-asumsi yang dibangun hanya dari foto atau pertemuan. Ada yang menganggap kedekatan hanya karena duduk berdampingan. Padahal dalam diplomasi internasional, para pemimpin yang negaranya berkonflik pun bisa duduk satu meja. Dalam konflik panjang antara Israel dan Palestina misalnya, para tokohnya pernah hadir dalam forum yang sama. Duduk bersama bukan selalu tanda sepakat. Kadang itu justru bagian dari ikhtiar mencari titik temu.
Tetapi di media sosial, gambar sering dianggap kesimpulan. Duduk bersama dianggap satu barisan. Senyum dianggap dukungan total. Padahal hidup tidak sesederhana itu.
Karena itu, kedewasaan bermedia sosial menjadi penting.
Pertama, kita perlu sadar bahwa setelah tulisan dipublikasikan, ia bukan lagi sepenuhnya milik kita. Orang akan menafsirkannya dengan kerangka pikir masing-masing. Kita tidak bisa mengontrol semua pembacaan.
Kedua, jangan terlalu cepat tersulut oleh komentar yang melenceng. Tidak semua komentar harus diluruskan. Tidak semua kesalahpahaman harus dibalas. Ada kalanya diam adalah bentuk kebijaksanaan.
Ketiga, tetaplah konsisten pada gagasan. Jika kita menulis tentang kebersamaan, maka fokuslah pada kebersamaan. Jangan terpancing untuk keluar jalur hanya karena komentar yang ingin menggeser arah.
Keempat, perkuat niat. Jika niat kita adalah kebaikan, membangun organisasi, menguatkan ukhuwah, atau memberi edukasi, maka biarlah itu menjadi pegangan batin. Orang boleh berprasangka, tetapi kita tidak boleh kehilangan kejernihan.
Pada akhirnya, media sosial adalah cermin kematangan diri. Ia menguji kesabaran, menguji konsistensi, bahkan menguji keikhlasan. Di sana kita belajar bahwa tidak semua orang akan memahami, tidak semua orang akan sepakat, dan tidak semua orang akan membaca dengan adil.
Tetapi bukan berarti kita berhenti menulis.
Justru di tengah riuhnya prasangka dan salah paham, tulisan yang jernih dan berniat baik menjadi semakin penting. Bukan untuk memuaskan semua orang, tetapi untuk tetap menghadirkan nilai di ruang yang sering kali penuh kebisingan.
Karena tugas kita bukan memastikan semua orang setuju.
Tugas kita adalah menjaga agar pikiran tetap waras, hati tetap bersih, dan kata-kata tetap bermartabat.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

