✍️ Hening Parlan
Pengurus LLH PB ‘Aisyiyah
Tarawih di masjid yang dibangun ayah selalu menghadirkan rasa yang berbeda. Ia bukan sekadar ruang ibadah, melainkan ruang ingatan. Di sana kenangan tidak terasa jauh; ia seperti duduk bersama di saf yang sama, hanya tak lagi terlihat.
Ramadan memang sering mendekatkan yang telah pergi. Ada fase dalam hidup ketika kehilangan tidak benar-benar hilang — ia hanya berubah bentuk menjadi rindu yang lebih tenang.
Sebagai anak pertama, peran itu datang perlahan: menguatkan ibu, mengurus keluarga, sekaligus menjadi ayah dan ibu bagi anak-anak sendiri. Dari luar mungkin tampak kuat, padahal seringkali seseorang hanya belajar tetap lembut karena tidak punya pilihan lain selain melanjutkan hidup.
Setiap datang ke masjid itu, doa terasa seperti percakapan diam — menjaga amanah yang dulu dititipkan.
Baca juga: Agama yang Menenangkan, Bukan Memenangkan
Suatu ketika, ayah pernah menunjuk bagian depan masjid yang masih terbuka. Ia berbicara sederhana tentang pintu yang akan dipasang. Biayanya tidak kecil. Ia sempat bertanya pelan, seolah memastikan: apakah perlu sekarang?
Jawabannya waktu itu sederhana: iya.
Belakangan baru terasa, percakapan singkat itu bukan sekadar urusan bangunan. Pintu-pintu masjid ternyata menyimpan pelajaran hidup.
Masjid tidak dibuat hanya dengan satu pintu. Ada pintu depan, samping kanan, kiri, jendela, hingga lubang angin. Bila satu tertutup, udara tetap bergerak. Bila satu arah buntu, ruang tetap bernapas.
Begitulah rezeki. Ayah tidak sedang membicarakan kayu, tetapi sedang menanamkan cara percaya pada kehidupan: Allah tidak menurunkan kecukupan dari satu jalan saja.
Ketika satu pintu tertutup, pintu lain dibukakan.
Dalam perjalanan hidup, makna itu menjadi nyata. Saat suami wafat, satu pintu tertutup. Ketika ayah pergi, pintu lain ikut tertutup. Namun kehidupan tetap berjalan — melalui anak-anak, melalui ibu yang harus dijaga, melalui orang-orang yang datang silih berganti, melalui amal yang dikerjakan, dan melalui doa yang tak pernah benar-benar berhenti.
Barangkali karena itulah air mata tidak selalu jatuh. Rindu tidak hilang, tetapi berubah menjadi pegangan hidup.
Ayah ternyata tidak hanya membangun masjid. Ia membangun cara memandang kehilangan.
Setiap angin yang masuk ke ruang shalat seakan mengulang pelajarannya: rezeki tidak pernah datang dari satu arah saja.
Dari kesadaran itulah lahir niat untuk melanjutkan amanah — merawat masjid dan suatu hari menghadirkan pesantren di sampingnya. Bukan hanya tempat orang datang beribadah, tetapi tempat orang bertumbuh.
Perjalanan seperti ini tentu tidak ringan. Ia bukan sekadar soal bangunan, melainkan menjaga niat agar tetap lurus, tetap sabar ketika lambat, dan tetap percaya ketika jalan belum tampak jelas.
Barangkali hidup memang tidak pernah dijanjikan satu jalan yang pasti.
Namun Allah menjanjikan kecukupan bagi yang bertawakal.
Bukankah Dia berfirman:
“Barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).” (QS. At-Thalaq: 3)
Maka selama masih ada langkah untuk dijalani, selalu ada pintu yang disediakan. (*)
(Didedikasikan untuk almarhum ayahku, Parlan)

