✍️ M. Risfan Sihaloho
Ramadan selalu datang dengan cahaya yang berbeda. Langit terasa lebih dekat, doa-doa meluncur lebih khusyuk, dan air mata lebih mudah jatuh tanpa diminta. Masjid menjadi rumah kedua. Al-Qur’an yang lama terdiam di rak, kembali dibuka dengan penuh takzim. Lidah lebih hati-hati, mata lebih tertunduk, dan tangan lebih ringan memberi.
Namun Jalaluddin Rumi pernah mengingatkan kita dengan kalimat yang menohok pelan tapi dalam:
“Tuhan yang kau sembah di bulan Ramadhan adalah Tuhan yang kau jauhi di bulan-bulan yang lain”.
Seakan-akan beliau sedang bertanya lirih, “Apakah Tuhanmu hanya hadir selama sebulan?”
Ramadan sering menjelma seperti tamu agung. Kita bersolek menyambutnya. Kita membersihkan hati, menata niat, menahan diri dari yang haram dan syubhat. Kita bangun lebih awal, tidur lebih sedikit, dan memperbanyak sujud. Kita merasa lebih dekat, lebih hangat, lebih hidup.
Tetapi selepas takbir Idulfitri menggema, perlahan jarak itu kembali tercipta. Mushaf kembali berdebu. Tahajud kembali berat. Lisan kembali longgar. Hati kembali lalai. Seolah Tuhan yang tadi begitu dekat, kini kembali jauh—atau mungkin kitalah yang melangkah menjauh.
Padahal Tuhan tidak pernah berubah musim.
Dia bukan Tuhan musiman. Bukan Tuhan Ramadan saja. Bukan Tuhan ketika kita sedang takut, sakit, atau terdesak. Dia adalah Rabb yang sama di bulan Syawal, Dzulqa’dah, hingga Sya’ban. Dia tetap Maha Melihat ketika kita kembali tenggelam dalam rutinitas dan lupa mengingat-Nya.
Ramadhan sejatinya bukan sekadar bulan. Ia adalah cermin. Di sana kita melihat versi terbaik dari diri kita sendiri. Kita membuktikan bahwa kita mampu menahan amarah. Kita sanggup menundukkan nafsu. Kita bisa hidup lebih sederhana dan lebih peduli. Kita bisa lebih dekat dengan Tuhan.
Lalu pertanyaannya: jika selama Ramadan kita mampu, mengapa setelahnya kita kembali merasa tidak mampu?
Barangkali masalahnya bukan pada kekuatan kita, melainkan pada kesungguhan kita. Ramadan memaksa kita melambat. Ia menghentikan laju dunia yang bising. Ia memberi ruang bagi jiwa untuk bernapas. Dan dalam ruang itu, kita menemukan Tuhan yang selama ini tertutup oleh hiruk pikuk ambisi dan kesibukan.
Mungkin bukan Tuhan yang kita jauhi, tetapi kesadaran kita yang kita matikan.
Rumi seolah ingin menggugah kita agar tidak menjadikan ibadah sebagai agenda tahunan. Jangan sampai shalat kita hanya khusyuk karena suasana. Jangan sampai sedekah kita hanya deras karena momentum. Jangan sampai tangis taubat kita hanya hadir karena bulan suci.
Sebab cinta sejati tidak mengenal musim.
Jika kita benar mencintai Tuhan, maka kedekatan itu tak akan habis bersama hilangnya hilal Ramadhan. Ia akan berlanjut dalam langkah kecil sehari-hari: dalam kejujuran saat tak ada yang melihat, dalam sabar ketika diuji, dalam menahan lisan ketika marah, dalam memilih yang halal meski sulit.
Ramadan adalah latihan. Syawal dan bulan-bulan setelahnya adalah ujian sebenarnya.
Di bulan puasa, setan dibelenggu. Tapi setelahnya, yang tersisa adalah nafsu dan kebiasaan kita sendiri. Di situlah kualitas takwa diuji. Apakah kita hanya saleh karena suasana, atau saleh karena kesadaran?
Mungkin muhasabah paling jujur adalah ini: apakah selepas Ramadan kita masih merindukan sajadah seperti kita merindukannya di sepuluh malam terakhir?
Apakah kita masih membaca Al-Qur’an meski tidak lagi berpacu dengan target khatam?
Apakah kita masih menjaga hati meski tidak lagi takut pahala puasa berkurang?
Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang sama—yang mendengar doa sahur kita dan juga bisikan hati kita di tengah kesibukan dunia. Ia tidak pernah menjauh. Kita lah yang kadang kembali sibuk dengan diri sendiri.
Rumi mengajak kita untuk tidak hanya menjadi hamba musiman. Menjadi hamba yang setia, bukan hanya saat suasana mendukung, tetapi juga ketika sunyi dan sepi.
Sebab hakikat ibadah bukan pada ramai atau sepinya masjid.
Bukan pada panjangnya rakaat di bulan tertentu. Tetapi pada kontinuitas cinta.
Ramadan datang setiap tahun. Namun kesempatan hidup belum tentu.
Maka sebelum waktu benar-benar habis, mungkin inilah saatnya kita bertanya pada diri sendiri dengan jujur: apakah kita mencari Tuhan, atau sekadar mencari suasana Ramadan?
Jika yang kita cari adalah Tuhan, maka jangan biarkan Dia hanya kita dekati setahun sekali. Dekatlah setiap hari. Sujudlah bukan karena bulan, tetapi karena rindu. (*)

