Site icon TAJDID.ID

Seminar Pendidikan UMSU dan Ponpes Kwala Madu Angkat Isu Asmara Subuh di Kalangan Remaja

TAJDID.ID~Langkat || Fenomena remaja yang populer dengan istilah Asmara Subuh menjadi sorotan dalam Seminar Pendidikan bertema “IPM Berdampak: Berilmu, Berakhlak, dan Berkontribusi” yang digelar Pondok Pesantren Muhammadiyah Kwala Madu, Kabupaten Langkat, bekerja sama dengan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Sabtu (15/2/2026).

Kegiatan yang diikuti para pelajar ini merupakan bagian dari upaya penguatan pembinaan karakter generasi muda, khususnya dalam momentum bulan suci Ramadan.

Dalam forum tersebut, para narasumber menyoroti maraknya aktivitas Asmara Subuh, yakni kebiasaan remaja berkumpul di ruang publik selepas salat Subuh. Aktivitas seperti jalan santai, bersepeda, hingga sekadar berkumpul awalnya dipandang sebagai hiburan positif. Namun belakangan, fenomena tersebut dinilai mengalami pergeseran karena kerap dikaitkan dengan perilaku negatif, seperti balap liar, konvoi kendaraan, hingga menyalakan petasan yang mengganggu ketertiban umum.

Akademisi UMSU, Dr. Robie Fanreza, M.Pd.I., menegaskan bahwa Ramadan seharusnya menjadi momentum strategis untuk meningkatkan kualitas ibadah sekaligus membentuk karakter remaja.

“Energi kebersamaan anak muda perlu diarahkan pada kegiatan yang lebih produktif dan bernilai sosial,” ujarnya di hadapan peserta seminar.

Ia mencontohkan sejumlah alternatif kegiatan yang dinilai lebih konstruktif, seperti sahur on the road, berbagi takjil, serta aktivitas sosial-keagamaan yang dapat menumbuhkan kepedulian dan empati. Menurutnya, perubahan perilaku remaja tidak cukup dilakukan melalui imbauan semata.

“Harus ada niat kuat dan keterlibatan semua pihak—keluarga, masyarakat, pemerintah daerah, hingga penegak hukum—agar pembinaan berjalan efektif dan berkelanjutan,” tegasnya.

Pandangan serupa disampaikan Mudir Pondok Pesantren Muhammadiyah Kwala Madu, H. Ramdani, Lc. Ia menekankan pentingnya literasi etika berlalu lintas di kalangan pelajar, mengingat sebagian aktivitas Asmara Subuh melibatkan penggunaan kendaraan bermotor di jalan raya.

Dalam kesempatan tersebut, ia turut memperkenalkan buku “Etika di Jalan Raya” sebagai bacaan edukatif yang relevan dengan kondisi saat ini. Buku itu mengulas realitas perilaku pengguna jalan yang kerap mengabaikan nilai keimanan, norma, moral, dan aturan lalu lintas.

“Ketidaktertiban dan sikap egois di jalan bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi juga persoalan moral yang bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain,” ujarnya.

Melalui penyelenggaraan seminar ini, panitia berharap Ramadan benar-benar menjadi ruang pembinaan moral bagi generasi muda. Selain meningkatkan keilmuan, para pelajar diharapkan mampu menumbuhkan akhlak mulia serta berkontribusi positif di tengah masyarakat. (*)

 

Exit mobile version