Site icon TAJDID.ID

Ramadan Tanpa Al-Qur’an: Ibadah Ramai, Tapi Hati Sepi?

✍️ Nashrul Mu’minin

 

Ramadan selalu datang membawa suasana berbeda. Masjid penuh, suara adzan terasa lebih syahdu, dan malam-malam terasa lebih hidup. Namun di tengah semarak ibadah itu, ada pertanyaan yang jarang kita renungkan: apakah Ramadan kita benar-benar hidup, atau hanya sekadar rutinitas tahunan tanpa ruh? Banyak orang berpuasa, tetapi tidak semua merasakan kedekatan dengan Allah. Di sinilah Al-Qur’an menjadi penentu hidup atau matinya Ramadan seseorang.

Allah sendiri menegaskan bahwa Ramadan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga. Ramadan memiliki identitas yang sangat jelas, yaitu bulan turunnya Al-Qur’an. Allah berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَان

“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia…” (QS. Al-Baqarah: 185).

Ayat ini menegaskan bahwa ruh Ramadan sebenarnya adalah Al-Qur’an. Tanpa interaksi dengan kitab suci, Ramadan hanya menjadi aktivitas fisik. Puasa berubah menjadi sekadar perubahan jadwal makan, bukan perubahan jiwa.

Puasa memang diwajibkan untuk membentuk ketakwaan. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Namun takwa tidak lahir hanya dari lapar. Takwa lahir dari hati yang diterangi wahyu. Karena itu, puasa tanpa Al-Qur’an ibarat tubuh tanpa ruh—bergerak tetapi tidak hidup.

Fenomena yang sering terjadi setiap Ramadan adalah meningkatnya aktivitas ibadah, tetapi menurunnya kedalaman makna. Banyak yang rajin berburu takjil, namun jarang berburu ayat. Banyak yang kuat begadang scrolling media sosial, tetapi berat membuka mushaf. Padahal Ramadan adalah momentum kembali kepada Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.

Tradisi tadarus sebenarnya bukan budaya baru. Rasulullah ﷺ mencontohkannya langsung. Dalam hadis riwayat Ibnu Abbas disebutkan bahwa Malaikat Jibril menemui Nabi Muhammad setiap malam Ramadan untuk saling membaca Al-Qur’an.

Rasulullah bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

Hadis ini menunjukkan bahwa kemuliaan Ramadan bukan diukur dari banyaknya menu berbuka, tetapi dari kedekatan dengan wahyu Allah.

Ramadan juga menjadi istimewa karena adanya malam agung, Lailatul Qadar, malam ketika Al-Qur’an pertama kali diturunkan. Malam ini lebih baik dari seribu bulan dan diisi dengan ibadah serta tilawah Al-Qur’an. Ini membuktikan bahwa pusat spiritual Ramadan selalu kembali kepada kitab suci.

Ironisnya, sebagian orang hanya dekat dengan Al-Qur’an saat Ramadan, lalu menjauhinya setelah Syawal tiba. Seolah Al-Qur’an hanya tamu musiman. Padahal Al-Qur’an diturunkan bukan untuk dibaca sesekali, melainkan menjadi panduan hidup sepanjang waktu.

Tadarus bukan sekadar mengejar khatam. Membaca tanpa memahami juga belum cukup. Al-Qur’an menghendaki perubahan perilaku: dari marah menjadi sabar, dari lalai menjadi sadar, dari egois menjadi peduli. Ramadan adalah sekolah ruhani, dan Al-Qur’an adalah kurikulumnya.

Ketika seseorang membaca Al-Qur’an dengan hati, puasa menjadi ringan. Lapar berubah menjadi dzikir, haus berubah menjadi doa. Inilah mengapa banyak ulama menyebut Ramadan sebagai Syahrul Qur’an — bulan Al-Qur’an—karena di sanalah hubungan manusia dengan Allah diperbarui setiap tahun.

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan:

الصِّيَامُ جُنَّةٌ

“Puasa adalah perisai.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Namun perisai itu akan kuat jika diisi dengan bacaan Al-Qur’an. Tanpa itu, puasa mudah bocor oleh ghibah, amarah, dan kesia-siaan.

Realitas hari ini menunjukkan bahwa tantangan terbesar Ramadan bukan lagi rasa lapar, tetapi distraksi dunia digital. Waktu yang seharusnya dipenuhi tilawah justru habis oleh hiburan tanpa arah. Akibatnya Ramadan berlalu cepat tanpa meninggalkan bekas iman.

Padahal Al-Qur’an hadir untuk menghidupkan hati yang lelah oleh dunia. Membacanya menenangkan jiwa, memahami maknanya menuntun langkah, dan mengamalkannya mengubah kehidupan. Ramadan adalah kesempatan emas memperbaiki hubungan itu sebelum waktu berlalu.

Ramadan tanpa Al-Qur’an pada akhirnya hanyalah tradisi tahunan. Tetapi Ramadan bersama Al-Qur’an adalah perjalanan menuju takwa. Di sanalah puasa menemukan maknanya, ibadah menemukan ruhnya, dan manusia menemukan dirinya kembali di hadapan Allah.

Maka pertanyaan terbesar Ramadan ini bukanlah: sudah berapa kali kita berbuka bersama? Tetapi: sudah sejauh mana Al-Qur’an berbicara kepada hati kita?

Sebab ketika Al-Qur’an kembali hidup dalam diri seorang muslim, Ramadan tidak hanya datang setahun sekali—ia akan tinggal di dalam jiwa sepanjang hidup. (*)

Exit mobile version