Site icon TAJDID.ID

“Ojo Piya-Piye, Lakoni Wae” Just Do It dalam Spirit Ramadhan

Oleh : Jufri

“Ojo piya-piye, lakoni wae. Just do it .”

Kalimat sederhana itu menjadi penutup tulisan singkat Mas Abdul Mu’ti tentang puasa. Sederhana, membumi, tetapi menghunjam. Dalam bahasa Jawa yang akrab di telinga, ia mengingatkan: jangan terlalu banyak alasan—kerjakan saja.

Puasa, sebagaimana ia gambarkan, bukanlah beban administratif keislaman. Ia bukan sekadar perintah formal yang ditunaikan dengan wajah muram. Puasa adalah panggilan keimanan. Ia adalah bentuk perhatian dan kasih sayang Allah kepada orang-orang beriman. Sebuah kehormatan karena dipercaya menjaga diri. Sebuah penghargaan karena dianggap mampu menahan yang halal demi yang lebih mulia.

Karena itu, “ojo piya-piye” bukan ajakan untuk berpikir dangkal, tetapi seruan agar kita tidak terjebak dalam drama batin yang berlebihan. Kadang kita terlalu lama bernegosiasi dengan lapar, terlalu sibuk mengeluhkan lelah, terlalu mudah menjadikan kantuk sebagai alasan. Padahal puasa melatih ketegasan hati. Lakoni wae—just do it (lakukan saja).

Puasa mestinya dijalani dengan gembira. Puasa dengan spirit iman menuju taqwa dan Idul Fitri, bukan puasa penuh beban dan drama dengan tujuan sekadar lepas kewajiban lalu berujung pada “yang penting Lebaran”.

Idul Fitri berbeda dengan Lebaran. Idul Fitri adalah momentum spiritual—kembali kepada fitrah, kembali kepada kejernihan jiwa, kembali kepada komitmen ketaatan. Sementara Lebaran seringkali berhenti pada tradisi: pakaian baru, hidangan melimpah, dan suasana perayaan. Tidak salah dengan tradisi, tetapi jika puasa hanya ditujukan untuk sampai pada pesta, maka ruhnya hilang di tengah jalan.

Jika karena puasa kita lapar, itu memang wajar. Jika karena puasa kita lelah, itu biasa. Sejak awal kita tahu konsekuensinya. Tapi lapar bukan alasan untuk tidak produktif. Lelah bukan alasan untuk berhenti berbuat baik. Justru di situlah nilai puasa diuji: ketika keterbatasan fisik tidak mematikan produktivitas ruhani.

Puasa bukan proyek melemahkan diri. Ia adalah proses menguatkan kendali. Kita menahan makan bukan karena tidak mampu, tetapi karena memilih taat. Kita menahan amarah bukan karena tidak punya keberanian, tetapi karena memilih kematangan. Di situlah letak kemuliaannya: pada kesadaran, bukan keterpaksaan.

Ramadhan mengajarkan kita agar beriman tanpa banyak drama. Tidak perlu menunggu suasana sempurna untuk taat. Tidak perlu menunggu hati sepenuhnya ringan untuk beribadah. Kadang yang dibutuhkan hanyalah keputusan sederhana: saya jalani dengan cinta.

Ojo piya-piye. Lakoni wae.
Just do it — lakukan saja.

Puasa dengan gembira. Puasa dengan iman. Menuju taqwa. Menuju Idul Fitri yang sejati.

Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

Exit mobile version