Oleh : Jufri
Saya sengaja ingin menuliskan puasa dari tiga sudut pandang ini, pendidikan, komunikasi, dan manajemen sumber daya manusia, karena di sanalah jejak perjalanan akademik saya berlabuh. Latar awal saya adalah Tarbiyah, dunia pendidikan yang mengajarkan bagaimana manusia dibentuk, bukan sekadar diajari. Lalu saya memasuki Ilmu Komunikasi, disiplin yang memperhalus cara manusia menyampaikan makna dan mengelola relasi. Dan kini, entah oleh takdir akademik yang kadang terasa jenaka, saya “terdampar” secara dramatis di program Manajemen Sumber Daya Manusia, bidang yang berbicara tentang bagaimana manusia dikelola dalam sistem dan organisasi. Tidak satu pun dari tiga bidang itu pernah saya rencanakan secara kaku. Ia tidak mengalir seperti air sungai yang tenang, apalagi seperti air terjun yang deras dan liar. Ia lebih menyerupai bendungan yang direkayasa oleh alam, tenang di permukaan, tetapi menyimpan daya dorong yang pelan-pelan menggerakkan arah kehidupan.
Dari tiga disiplin itu, saya justru menemukan satu titik temu yang sama: semuanya berbicara tentang manusia. Dan puasa, dalam keyakinan saya, adalah proyek besar pembentukan manusia.
Dalam perspektif pendidikan, puasa adalah kurikulum karakter. Ia tidak mengandalkan ceramah panjang atau modul tebal. Ia langsung masuk pada praktik. Selama sebulan, seseorang dilatih menahan diri dari yang halal, makan, minum, dan hal-hal yang secara hukum diperbolehkan, demi sebuah nilai yang lebih tinggi. Pendidikan modern sering kali kesulitan menanamkan integritas. Tetapi puasa mengajarkan kejujuran dalam kondisi paling sunyi: ketika tidak ada yang melihat, kecuali Tuhan dan hati nurani. Di situ pendidikan mencapai puncaknya, ketika kontrol eksternal berubah menjadi kesadaran internal.
Puasa juga mendidik empati. Lapar bukan lagi teori, melainkan pengalaman. Rasa haus bukan lagi wacana, melainkan kenyataan. Dari pengalaman itulah lahir solidaritas sosial. Zakat, infak, dan sedekah di bulan Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, tetapi konsekuensi logis dari rasa yang pernah dialami. Pendidikan yang baik bukan hanya mencerdaskan otak, tetapi melembutkan hati. Dan puasa bekerja pada keduanya.
Dalam perspektif komunikasi, puasa adalah latihan pengendalian diri. Kita sering mengira komunikasi hanya soal kemampuan berbicara. Padahal, komunikasi yang matang justru lahir dari kemampuan menahan diri untuk tidak berbicara ketika tidak perlu. Dalam keadaan lapar dan lelah, emosi lebih mudah tersulut. Namun di situlah nilai puasa diuji: menahan amarah, menjaga lisan, dan memilih kata yang lebih teduh.
Ada pesan sederhana dalam ajaran puasa: jika diajak bertengkar, katakanlah bahwa kita sedang berpuasa. Itu bukan sekadar kalimat normatif, tetapi strategi komunikasi yang cerdas. Ia memutus potensi konflik tanpa mempermalukan lawan bicara. Ia menegaskan identitas tanpa perlu menyerang. Di era media sosial yang riuh, di mana setiap orang merasa perlu membalas setiap komentar, puasa seolah menjadi pengingat bahwa tidak semua respons harus diucapkan. Ada kalanya diam lebih bermakna daripada debat panjang.
Lalu dalam perspektif manajemen sumber daya manusia, puasa adalah pelatihan kepemimpinan diri. Organisasi apa pun, kampus, birokrasi, perusahaan, bahkan negara, pada akhirnya bergantung pada kualitas manusianya. Sistem yang baik bisa runtuh jika diisi oleh orang-orang yang rapuh integritasnya. Sebaliknya, sistem yang sederhana bisa berjalan baik jika dikelola oleh pribadi-pribadi yang kuat nilai dan karakternya.
Puasa melatih manajemen diri sebelum manajemen orang lain. Ia mengajarkan pengelolaan waktu melalui ritme sahur dan berbuka. Ia mengajarkan pengelolaan energi dengan tetap produktif dalam keterbatasan fisik. Ia melatih konsistensi selama tiga puluh hari penuh, bukan satu atau dua hari semangat lalu mengendur. Dalam bahasa manajemen, ini adalah proses pembentukan kebiasaan dan budaya. Jika seseorang mampu mengelola dirinya sendiri, ia akan lebih siap mengelola tanggung jawab yang lebih besar.
Saya sering membayangkan, bagaimana jika nilai-nilai puasa benar-benar meresap dalam kultur organisasi. Pejabat yang berpuasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan diri dari penyalahgunaan wewenang. Aparat yang berpuasa bukan hanya menahan haus, tetapi juga menahan diri dari ketidakadilan. Pendidik yang berpuasa bukan hanya mengurangi jam makan, tetapi juga meningkatkan kualitas keteladanan. Di situ puasa naik kelas: dari ritual personal menjadi energi moral kolektif.
Puasa bukan sekadar ibadah tahunan yang selesai saat takbir berkumandang. Ia adalah cermin. Ia menunjukkan kepada kita siapa diri kita sebenarnya ketika diuji oleh rasa lapar, oleh godaan, oleh emosi, dan oleh kesempatan. Dari pendidikan, saya belajar bahwa manusia harus dibentuk. Dari komunikasi, saya belajar bahwa manusia harus menjaga lisannya. Dari manajemen sumber daya manusia, saya belajar bahwa manusia harus mengelola potensinya. Dan dari puasa, saya belajar bahwa semua itu bermula dari satu hal sederhana namun sulit: kemampuan mengelola diri sendiri.
Barangkali di situlah kualitas puasa kita ditentukan, bukan pada seberapa lama kita menahan lapar, tetapi pada seberapa jauh kita berubah setelahnya.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

