Site icon TAJDID.ID

Ketaatan Tanpa Validasi: Menyikapi Perbedaan Awal Ramadan

Oleh: Padian Adi S. Siregar

Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kampung Durian Medan

 

Setiap Ramadan, pertanyaan klasik selalu muncul: kapan puasa dimulai? Bagi banyak umat Islam, jawabannya ditetapkan melalui mekanisme ijtihad kolektif, perhitungan hisab, atau keputusan otoritas keagamaan yang memiliki legitimasi ilmiah. Namun di era digital, sebagian orang merasa perlu membandingkan dengan keputusan di negara lain, seolah kesamaan tanggal menjadi bukti kebenaran. Fenomena ini bukan sekadar soal kalender, tetapi refleksi tentang ketaatan dan niat dalam menjalankan ibadah.

Seringkali, sebagian individu yang memulai puasa lebih dahulu kemudian melihat kapan negara lain memulai Ramadan. Kesamaan tanggal kadang dijadikan pembenaran bahwa ibadah yang dijalankan adalah benar. Dalam konteks ini, membandingkan bukan lagi sekadar memahami perbedaan metode penetapan, tetapi menjadi sarana untuk menegaskan diri sendiri. Padahal, ketaatan yang tulus terhadap keputusan otoritas yang sahih seharusnya tidak memerlukan pembanding eksternal.

Di era informasi global, akses terhadap keputusan keagamaan dari berbagai negara sangat mudah. Hal ini dapat menimbulkan dorongan psikologis untuk mencari konfirmasi, seolah-olah kebenaran ibadah bergantung pada kesamaan praktik di tempat lain. Namun bagi umat yang matang dalam pemahaman agama, ketaatan tidak diukur dari apakah pihak lain melakukannya sama atau tidak. Ketaatan berdiri di atas legitimasi proses dan niat yang tulus, bukan sekadar kesamaan tanggal atau praktik dengan orang lain.

Keputusan awal Ramadan, baik melalui rukyat atau hisab, selalu memiliki dasar ilmiah dan pertimbangan hukum yang jelas. Mengikuti keputusan ini bukan bentuk ketidakmandirian berpikir, melainkan bentuk tanggung jawab dan kesadaran beribadah. Individu yang menaati keputusan otoritas yang sah tanpa mencari pembanding eksternal menunjukkan kedewasaan spiritual dan pemahaman bahwa ketaatan adalah bagian integral dari ibadah.

Perbedaan penetapan awal Ramadan di berbagai negara bukanlah hal baru. Sejak dahulu, ulama memahami bahwa metode dan kondisi geografis dapat menghasilkan perbedaan. Namun bagi mereka yang benar-benar taat, perbedaan ini bukan alasan untuk meragukan atau mencari validasi eksternal. Ketaatan yang sejati menekankan kepercayaan terhadap proses yang sahih dan integritas otoritas, bukan kebutuhan psikologis untuk membenarkan diri.

Godaan untuk membandingkan dengan negara lain memang ada di era informasi modern. Namun membandingkan ibadah dengan pihak lain untuk menegaskan kebenaran justru dapat mengaburkan makna disiplin spiritual. Umat yang matang memahami bahwa ketaatan yang tulus tidak membutuhkan validasi dari luar. Keyakinan pada proses yang sahih dan niat yang ikhlas menjadi dasar utama dalam menjalankan ibadah dengan benar.

Ramadan bukan sekadar tentang tanggal mulai puasa, tetapi tentang bagaimana umat memaknai kepercayaan dan ketaatan. Mereka yang mengikuti keputusan otoritas keagamaan tanpa mencari pembanding eksternal menunjukkan kedewasaan, disiplin, dan kesadaran akan nilai kolektif. Sebaliknya, yang terus mencari pembanding eksternal justru menempatkan kebutuhan psikologis mereka di atas makna ibadah itu sendiri.

Ketaatan dalam ibadah bukan bersifat pasif; ia berdiri di atas ilmu, pertanggungjawaban, dan niat baik untuk kemaslahatan bersama. Ramadan menjadi momentum untuk meneguhkan disiplin kolektif, solidaritas, dan integritas spiritual umat. Kekuatan umat Islam tidak diukur dari siapa yang memulai lebih dahulu dibanding negara lain, tetapi dari keyakinan terhadap proses yang sah dan kesadaran untuk menjalankan ibadah dengan niat yang ikhlas.

Dengan memahami hal ini, umat dapat menyikapi perbedaan penetapan awal Ramadan dengan tenang, tanpa tergoda untuk membandingkan dengan pihak lain. Ketaatan yang tulus menunjukkan kedewasaan spiritual, komitmen pada nilai keilmuan, dan kesadaran akan tanggung jawab bersama. Ramadan bukan hanya soal tanggal, tetapi tentang membangun disiplin, kepercayaan, dan integritas dalam menjalankan ibadah.

Pada akhirnya, kekuatan umat Islam dalam menyambut Ramadan tidak diukur dari kesamaan praktik dengan orang lain atau negara lain, tetapi dari bagaimana mereka menempatkan kepercayaan pada proses yang sah, niat yang ikhlas, dan kedisiplinan dalam melaksanakan ibadah. Ramadan menjadi momen untuk memperkuat keyakinan, ketaatan, dan integritas spiritual umat, sekaligus meneguhkan nilai kolektif dalam kehidupan beragama. (*)

Exit mobile version