Oleh: M. Risfan Sihaloho
Pemred TAJDID.ID
Hidup tak pernah menawarkan keseragaman. Sejak kita membuka mata, dunia sudah penuh dengan warna: warna pikiran, warna keyakinan, warna pilihan, bahkan warna cara mencintai dan membenci sesuatu. Kita tumbuh di tengah perbedaan—dan sering kali justru di situlah kita diuji.
Perbedaan bukanlah gangguan dalam perjalanan hidup. Ia adalah bagian dari desain kehidupan itu sendiri. Yang kerap menjadi masalah bukanlah perbedaannya, melainkan cara kita menyikapinya. Ketika ego lebih dominan daripada empati, perbedaan berubah menjadi ancaman. Ketika merasa paling benar lebih penting daripada mencari kebenaran, dialog berubah menjadi pertengkaran.
Padahal setiap perbedaan pendapat adalah undangan untuk belajar. Ia membuka jendela yang sebelumnya tertutup. Kita mungkin tidak selalu setuju, tetapi kita selalu bisa memahami. Dan memahami adalah bentuk kedewasaan yang lebih tinggi daripada sekadar memenangkan argumen.
Dalam banyak situasi, kita terlalu cepat memberi label: “salah”, “sesat”, “tidak satu frekuensi”, atau “bukan bagian dari kita”. Padahal bisa jadi yang berbeda itu hanya memiliki pengalaman hidup yang tidak sama. Setiap orang berbicara dari latar belakangnya, dari luka dan harapannya, dari pendidikan dan lingkungannya. Kita melihat dunia dari tempat kita berdiri. Maka wajar jika pemandangannya berbeda.
Orang yang benar-benar pandai tidak merasa terancam oleh perbedaan. Ia tidak sibuk memaksakan keyakinannya agar diikuti semua orang. Ia tahu bahwa kebenaran tidak perlu dibentak-bentakkan. Ia juga paham bahwa memaksakan kehendak sering kali hanya menunjukkan ketidakmatangan berpikir.
Kebijaksanaan justru tampak dalam kemampuan berjalan berdampingan dengan mereka yang tidak sepemikiran. Bukan berarti menggadaikan prinsip, melainkan memahami bahwa prinsip pribadi tidak harus menjadi standar tunggal bagi seluruh dunia. Kita bisa teguh tanpa harus keras. Kita bisa yakin tanpa harus merendahkan.
Di era media sosial, perbedaan terasa semakin tajam. Algoritma mempertemukan kita dengan orang-orang yang berbeda pandangan, tetapi sayangnya tidak selalu disertai kedewasaan dalam berdiskusi. Komentar singkat sering kali lebih cepat daripada refleksi panjang. Emosi lebih dulu berbicara sebelum akal sehat mengambil peran.
Karena itu, menerima perbedaan bukan sekadar sikap sosial, melainkan latihan batin. Ia mengasah kesabaran, melatih kerendahan hati, dan memperluas cakrawala berpikir. Setiap kali kita mampu menahan diri untuk tidak menyudutkan orang lain, kita sedang membangun kualitas diri yang lebih matang.
Perbedaan membuat kita kaya—bukan dalam arti materi, tetapi dalam kedalaman rasa dan keluasan ilmu. Kita belajar bahwa hidup tidak sesederhana hitam dan putih. Ada wilayah abu-abu yang membutuhkan kebijaksanaan, bukan sekadar keberanian bersuara.
Kedewasaan sejati terlihat saat kita mampu berkata, “Saya berbeda denganmu, tetapi saya tetap menghargaimu.” Di situlah dialog menjadi mungkin. Di situlah persahabatan tetap terjaga. Dan di situlah masyarakat bisa tumbuh tanpa harus saling meniadakan.
Pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling keras mempertahankan pendapatnya, melainkan siapa yang paling lapang menerima kenyataan bahwa dunia memang diciptakan beragam.
Jika kita mampu menikmati perbedaan dengan hati yang lapang, kita bukan hanya menjadi lebih bijak—kita juga menjadi lebih manusia.
Karena hidup yang kaya bukanlah hidup yang seragam, melainkan hidup yang mampu merangkul keberagaman dengan penuh kesadaran dan kedewasaan. (*)

