Site icon TAJDID.ID

Ramadan yang Menyatukan: Moderasi, Ilmu, dan Persaudaraan

Oleh: Jufri

Pegiat Sosial Politik dan Dakwah Peradaban

 

Alhamdulillah, tahun ini kita kembali dipertemukan dengan Ramadan 1447 H. Perjumpaan ini bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi anugerah kehidupan. Tidak semua yang bersama kita tahun lalu masih diberi kesempatan menyambut bulan suci ini. Karena itu, Ramadhan selalu menghadirkan rasa syukur sekaligus kesadaran untuk memperbaiki diri.

Sebagaimana diketahui, Muhammadiyah telah menetapkan awal Ramadan jauh hari melalui metode hisab. Sementara pemerintah menetapkannya melalui sidang isbat dengan pendekatan rukyat. Perbedaan metode ini bukan hal baru dalam khazanah keilmuan Islam. Ia sudah menjadi dinamika yang lumrah dan dewasa kita sikapi bersama.

Tahun ini, semuanya bermuara pada tanggal yang sama: 1 Ramadan 1447 H. Yang berbeda hanya prosesnya, bukan tujuannya. Yang berbeda hanya metodenya, bukan semangat ibadahnya.

 

OIF UMSU: Ikhtiar Ilmiah dalam Semangat Kebersamaan

Observatorium Ilmu Falak (OIF) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara sudah terbiasa menjadi lokasi pengamatan hilal untuk menentukan awal Ramadan. Dengan peralatan modern yang disiapkan UMSU, proses rukyatul hilal dilakukan secara profesional, ilmiah, dan terbuka.

Meski Muhammadiyah telah menetapkan awal Ramadhan sejak jauh hari melalui hisab, OIF UMSU tetap menjadi ruang kolaborasi dalam kegiatan rukyat yang digagas pemerintah bersama ormas-ormas Islam dari tahun ketahun. Ini menunjukkan bahwa perbedaan metode tidak menghalangi kontribusi nyata dalam kebersamaan.

Sikap ini patut disyukuri. Amal Usaha Persyarikatan Muhammadiyah hadir bukan untuk membangun sekat, tetapi untuk membangun jembatan.

 

FGD Awal Ramadan: Dialog dalam Moderasi

Semangat kebersamaan itu juga tampak dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) awal Ramadan di Sekolah Pascasarjana UMSU yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Kota Medan bersama Majelis Ulama Indonesia dan berbagai ormas Islam.

Dalam forum tersebut hadir Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, Rektor UMSU sebagai tuan rumah, para ulama dan tokoh umat, serta narasumber seperti Dr. Arwin Butar-butar dan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Data astronomi dipaparkan secara terbuka. Argumentasi fiqh disampaikan secara ilmiah. Semua berlangsung dalam suasana saling menghargai perbedaan dengan sikap moderasi. Tidak ada yang merasa paling benar sendiri. Yang ada adalah semangat mencari titik temu dalam bingkai ukhuwah.

 

Hikmah Ramadan: Menyatukan Ilmu dan Iman

Ramadan adalah madrasah ruhani. Ia melatih kesabaran, kejujuran, dan empati sosial. Kita menahan lapar dan dahaga agar belajar merasakan kesulitan sesama. Kita menahan amarah agar belajar mengendalikan ego.

Ramadan juga menyatukan. Orang yang berbeda latar organisasi, berbeda pendekatan, bahkan berbeda pandangan, tetap berdiri dalam satu saf dan menghadap kiblat yang sama.

Moderasi bukan berarti melemahkan keyakinan. Ia adalah kemampuan untuk teguh dalam prinsip, tetapi tetap lapang dalam sikap. Dan Ramadan adalah ruang terbaik untuk melatih kedewasaan itu.

Alhamdulillah, kita menyaksikan bahwa perbedaan metode tidak lagi menjadi jurang pemisah, tetapi menjadi ruang dialog dan kolaborasi. Semoga Ramadan 1447 H ini benar-benar menjadi bulan yang menyatukan, menyatukan ilmu dan iman, pemerintah dan ulama, ormas dan masyarakat, serta menyatukan hati kita sebagai umat dan bangsa.

Selamat menunaikan ibadah puasa.
Semoga Ramadan kali ini memperkuat moderasi, memperluas persaudaraan, dan menghadirkan keberkahan bagi Kota Medan, Sumatera Utara, dan Indonesia tercinta. (*)

Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

Exit mobile version