Site icon TAJDID.ID

Nama yang Ditinggalkan, Makna yang Ditinggikan

Oleh : Jufri

Pegiat Sosial Politik dan Dakwah Peradaban

Senin kemarin, di sela suasana khidmat pengukuhan guru besar di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, saya menerima sebuah buku berjudul Puasa sebagai Gerakan Sosial. Isinya, saya yakin, menarik. Penulisnya bukan orang sembarangan. Ia dikenal sebagai komunikator yang piawai, yang mampu menjembatani gagasan dengan bahasa yang hangat.

Namun kali ini, yang terlebih dahulu menyentuh perhatian saya bukanlah isinya, melainkan namanya.

Di sampul itu tertulis sederhana: ABDUL MU’TI.

Tanpa profesor. Tanpa doktor. Tanpa kiyai. Dan tanpa jabatan apa pun.

Di ruang yang penuh dengan toga, gelar, dan protokol akademik, pilihan itu terasa seperti bisikan kecil yang bermakna besar. Seolah ada pesan yang ingin disampaikan: ketika berbicara tentang puasa, kita semua kembali menjadi manusia biasa. Bukan jabatan. Bukan status. Bukan struktur.

Puasa memang unik. Ia ibadah yang paling sunyi, tetapi dampaknya paling sosial. Ia melatih disiplin pribadi, tetapi efeknya merambat ke solidaritas. Orang yang lapar belajar merasakan yang lapar. Orang yang kuat belajar menahan diri. Orang yang punya kuasa belajar membatasi nafsunya.

Karena itu, ketika puasa disebut sebagai gerakan sosial, saya memahaminya bukan sekadar program filantropi atau kegiatan berbagi takjil. Gerakan sosial yang paling awal justru terjadi di dalam diri: menaklukkan ego, meredam kesombongan, menertibkan hasrat.

Dan mungkin di situlah relevansi kesederhanaan nama itu.

Di zaman ketika gelar sering menjadi identitas utama, bahkan kadang menjadi alat legitimasi sosial, ada pilihan untuk kembali ke akar: cukup nama. Cukup sebagai hamba. Bukankah inti puasa memang menanggalkan atribut duniawi agar kita lebih dekat kepada Yang Maha Tinggi?

Gelar akademik tentu penting. Ia buah dari proses panjang dan kerja keras. Jabatan pun penting sebagai amanah dan tanggung jawab. Tetapi puasa mengajarkan kita bahwa semua itu bukan pusatnya. Pusatnya adalah keikhlasan.

Dalam lapar yang sama, profesor dan petani setara. Dalam dahaga yang sama, pejabat dan rakyat biasa tidak berbeda. Yang membedakan hanyalah ketakwaan, yang tak pernah bisa diukur dengan huruf di depan atau di belakang nama.

Saya jadi teringat, kadang yang membuat tulisan terasa manusiawi bukanlah kompleksitas teorinya, melainkan kesederhanaan sikap penulisnya. Dan kesederhanaan itu sudah tampak bahkan sebelum satu halaman pun dibaca.

Mungkin inilah pelajaran kecil yang bisa kita ambil: bahwa puasa bukan panggung status sosial.

Ia bukan ruang untuk menegaskan gelar, bukan pula untuk mengukuhkan sebutan.

Ia adalah latihan mencintai perintah Allah tanpa pamrih.

Ia adalah pendidikan batin agar kita tak terlalu sibuk meninggikan nama, tetapi lebih serius meninggikan makna.

Dan dari sana, gerakan sosial yang sesungguhnya dimulai, diam-diam, dari dalam diri. (*)

Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

Exit mobile version