Oleh: Jufri
Pegiat sosial politik dan dakwah kebangsaan
Senin pagi, 29 Sya’ban 1447 H bertepatan dengan 16 Februari 2026, menjadi hari yang istimewa bagi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Di Auditorium Gedung Rektor I Kampus Utama UMSU, Jalan Kapten Mukhtar Basri No. 3 Medan, berlangsung pengukuhan Prof. Dr. Muhammad Qorib, MA sebagai Guru Besar dalam kepakaran Islamic Studies.
Pengukuhan guru besar bukan sekadar seremoni akademik. Ia adalah deklarasi kematangan intelektual. Dalam tradisi perguruan tinggi Muhammadiyah, jabatan guru besar bukan mahkota pribadi, melainkan amanah peradaban—tanggung jawab untuk merawat ilmu, membimbing generasi, dan menghadirkan gagasan yang relevan bagi umat dan bangsa.
Momentum ini semakin kuat dengan kehadiran Abdul Mu’ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. Turut hadir Irjen Pol Sony Sonjaya selaku Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), H. Surya BSc Wakil Gubernur Sumatera Utara, serta Rektor UMSU Agussani. Sinergi antara kampus, pemerintah, dan lembaga negara tampak nyata—menandakan bahwa pendidikan tinggi adalah simpul strategis pembangunan bangsa.
Dalam laporannya, Prof. Agussani menyampaikan bahwa UMSU kini memiliki 27 guru besar dari berbagai disiplin keilmuan. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan simbol akumulasi kerja panjang dalam membangun kualitas akademik.
Rektor yang juga menjabat sebagai Ketua Panitia Lokal Muktamar Muhammadiyah ke-49 Sumatera Utara itu menjelaskan bahwa perkembangan UMSU terus melaju—baik melalui pembukaan program studi baru maupun peningkatan akreditasi. Pertumbuhan tidak hanya terjadi pada jumlah mahasiswa atau gedung, tetapi juga pada kualitas dan reputasi institusi.
Kabar strategis lainnya datang dari Fakultas Kedokteran UMSU yang baru saja memperoleh izin membuka dua program pendidikan dokter spesialis: spesialis jantung dan spesialis bedah. Ini adalah lompatan besar. Penyakit jantung masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi, sementara kebutuhan dokter spesialis bedah terus meningkat. Dengan hadirnya dua program ini, UMSU tidak hanya memperkuat posisinya sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam pelayanan kesehatan masyarakat Sumatera Utara dan sekitarnya.
Rangkaian kegiatan hari itu juga diisi dengan peninjauan Auditorium Berkemajuan dan Sport Center Walidah yang dipersiapkan untuk menyambut Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah ke-49 tahun 2027. Perhelatan akbar tersebut bukan sekadar agenda organisasi, melainkan momentum konsolidasi gerakan dan gagasan pembaruan.
Progres pembangunan Kampus IV UMSU di Desa Saentis, Kabupaten Deli Serdang, turut dipaparkan. Kawasan ini akan menjadi salah satu pusat kegiatan muktamar sekaligus pengembangan akademik masa depan. Di lokasi tersebut direncanakan pembangunan Masjid KH Ahmad Dahlan dengan estimasi biaya sekitar 17 miliar rupiah.
Nama KH Ahmad Dahlan adalah fondasi ideologis bagi Muhammadiyah—gerakan yang mengintegrasikan iman, ilmu, dan amal. Pembangunan masjid itu bukan sekadar proyek konstruksi, tetapi simbol bahwa kemajuan fisik harus seiring dengan kedalaman spiritual.
Dari pengukuhan guru besar, pembukaan spesialis jantung dan bedah, hingga pembangunan infrastruktur besar menyongsong muktamar, satu pesan mengemuka: UMSU sedang melakukan akselerasi sejarahnya.
Namun pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan hanya pada megahnya gedung atau bertambahnya gelar, melainkan pada sejauh mana seluruh ikhtiar itu menghadirkan manfaat nyata. Kampus yang besar adalah kampus yang berani tumbuh—tanpa kehilangan ruh, tanpa melupakan tanggung jawab sosialnya.
Dan di titik itulah, kemajuan menemukan maknanya. (*)
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

