Oleh: Jufri
Pegiat Sosial Politik dan Dakwah Kebangsaan
Bermuhammadiyah sejatinya bukan sekadar menjadi anggota sebuah organisasi besar. Ia adalah pilihan nilai, pilihan jalan hidup, dan pilihan perjuangan. Di dalamnya ada ikrar batin: ber-Islam secara murni, beramal secara nyata, dan berjuang tanpa pamrih. Karena itu, ruh utama dari bermuhammadiyah adalah keikhlasan.
Ikhlas berarti bekerja tanpa menunggu tepuk tangan, berjuang tanpa menghitung untung-rugi pribadi. Dalam Muhammadiyah, keikhlasan itu hidup dalam ribuan amal usaha: sekolah, rumah sakit, panti asuhan, masjid, dan berbagai gerakan sosial. Semua itu tidak lahir dari ambisi kekuasaan, tetapi dari kesadaran bahwa hidup adalah ladang amal dan dakwah adalah jalan pengabdian.
Di sinilah Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCH) menjadi fondasi ideologis. MKCH menegaskan bahwa Muhammadiyah adalah gerakan Islam, dakwah amar ma’ruf nahi munkar, yang bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah. Artinya, seluruh aktivitas kader—baik di ranting, cabang, daerah, maupun pusat—harus bertumpu pada nilai kebenaran, keadilan, dan kemaslahatan. Ikhlas bukan hanya soal niat batin, tetapi tentang memastikan bahwa setiap amal benar-benar menjadi ibadah sosial.
MKCH juga menegaskan cita-cita Muhammadiyah untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Masyarakat yang beriman, berilmu, berakhlak, adil, dan sejahtera. Dalam konteks Muhammadiyah berkemajuan, cita-cita ini tidak dicapai dengan nostalgia masa lalu, tetapi dengan kerja nyata yang profesional, rasional, dan terbuka terhadap perubahan zaman—tanpa kehilangan ruh keikhlasan.
Muhammadiyah berkemajuan berarti Islam yang bergerak ke depan: memadukan iman dengan ilmu, akhlak dengan teknologi, dan dakwah dengan peradaban. Namun semua itu akan kosong jika kadernya terjebak pada ambisi pribadi, perebutan posisi, atau konflik kepentingan. Karena itu, spirit kader Muhammadiyah adalah spirit orang yang siap menempatkan kepentingan umat di atas kepentingan diri.
Kader ikhlas bukan kader yang sibuk mencari jabatan, tetapi kader yang sibuk mencari peran. Ia tidak gelisah jika tak disebut, tidak kecewa jika tak dipuji, dan tidak berhenti walau tak dilihat. Ia sadar bahwa nilai dakwah tidak diukur dari sorotan, melainkan dari kebermanfaatan.
Dalam Muhammadiyah berkemajuan, kader juga dituntut kompeten sekaligus amanah. Ilmu tanpa ikhlas melahirkan kesombongan. Ikhlas tanpa ilmu melahirkan kelambanan. Maka kader Muhammadiyah harus memadukan keduanya: cerdas membaca zaman, dan bersih menjaga niat. Profesional dalam kerja, tetapi sederhana dalam gaya hidup. Tegas dalam prinsip, tetapi santun dalam sikap.
Di era digital, dakwah tidak lagi berlangsung hanya di mimbar dan masjid. Ia hadir di layar gawai, media sosial, ruang publik, dan percakapan sehari-hari. Tantangannya bukan hanya bagaimana agar dakwah terdengar, tetapi bagaimana agar dakwah tetap mencerahkan. MKCH menuntun agar Muhammadiyah menjadi gerakan pencerahan, bukan gerakan kegaduhan. Kader ikhlas hadir dengan adab, data, dan solusi—bukan dengan provokasi dan kebencian.
Bermuhammadiyah yang ikhlas dalam kerangka MKCH dan Muhammadiyah berkemajuan adalah bermuhammadiyah yang bergerak maju tanpa kehilangan ruh, modern tanpa tercerabut dari nilai, kritis tanpa kehilangan adab, dan kuat dalam kompetensi sekaligus bersih dalam niat.
Pada akhirnya, Muhammadiyah tidak dibesarkan oleh gedung-gedungnya, tidak dimuliakan oleh struktur organisasinya, tetapi oleh kader-kader yang bekerja dalam senyap dan berjuang dalam ikhlas untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Karena di situlah letak kemajuan sejati: bukan pada seberapa tinggi jabatan kita, tetapi pada seberapa dalam keikhlasan kita. (*)
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

