Oleh: M. Risfan Sihaloho
Jeffrey Epstein (katanya) telah mati. Tetapi arsip tentangnya—The Epstein Files—terus hidup, beranak-pinak, dan menghantui lorong-lorong kekuasaan global. Ia seperti hantu yang tak mau pergi, mengetuk pintu istana, kantor pemerintahan, ruang rapat elite bisnis, hingga salon-salon filantropi yang selama ini dipoles sebagai altar moralitas modern.
Jutaan dokumen, kesaksian, dan catatan hukum yang belakangan kembali mencuat tidak serta-merta menjatuhkan vonis, tetapi cukup untuk membuat dunia bertanya: bagaimana mungkin begitu banyak tokoh besar—politik, ekonomi, hiburan—pernah berada dalam orbit seorang predator yang kini diakui secara hukum sebagai pelaku kejahatan seksual terorganisir? Apakah ini sekadar kebetulan sosial kelas atas, atau ada sesuatu yang lebih sistemik dari sekadar “salah bergaul”?
Di sinilah satir menjadi relevan. Dunia elite global tampak seperti klub eksklusif yang pintunya dijaga ketat, tetapi jendelanya bocor. Di panggung depan, mereka berbicara tentang hak asasi manusia, kesetaraan gender, dan masa depan peradaban. Di panggung belakang, menurut berbagai kesaksian dan dokumen yang diperdebatkan publik, ada pesta, jaringan kuasa, dan relasi gelap yang sulit dibedakan antara “privasi” dan “penyalahgunaan”.
The Epstein Files tidak hanya membuka nama, tetapi membuka pola. Pola tentang bagaimana kekuasaan bekerja ketika uang, status, dan akses bertemu dengan tubuh-tubuh rentan. Pola tentang bagaimana hukum bisa menjadi tumpul ketika berhadapan dengan mereka yang terbiasa memesan keadilan seperti memesan layanan premium. Dan pola tentang bagaimana diam sering kali lebih menguntungkan daripada kebenaran.
Menariknya, banyak dari tokoh yang disebut—baik secara langsung maupun tidak—adalah figur yang di siang hari tampil sebagai panutan moral. Mereka hadir di forum global, menandatangani deklarasi etika, menyampaikan pidato bernada kebajikan. Namun malam hari, sebagaimana disiratkan oleh berbagai laporan investigatif, menjadi wilayah abu-abu yang tak pernah masuk siaran pers.
Di titik ini, teori dramaturgi Erving Goffman menemukan relevansinya yang menohok. Dalam pandangan Goffman, kehidupan sosial adalah pertunjukan. Ada front stage, tempat aktor (dalam hal ini para pemimpin dan elite) menampilkan citra ideal: terhormat, bermoral, dan bertanggung jawab. Lalu ada back stage, ruang privat tempat topeng dilepas, peran ditanggalkan, dan kerap kali—di sinilah masalah bermula—nilai-nilai yang dikhotbahkan di depan publik justru dilanggar.
The Epstein Files adalah momen ketika backstage itu tersorot lampu. Tirainya tersibak, dan penonton melihat bahwa pertunjukan moral global tidak selalu seindah poster promosinya. Yang lebih mengkhawatirkan, sebagian aktor tampak yakin bahwa selama panggung depan tetap rapi, kebusukan di belakang layar bisa dinegosiasikan, ditunda, atau dilupakan.
Pesan moral dari kisah kelam ini sesungguhnya sederhana, meski pahit: integritas bukan soal kepiawaian berakting di depan publik, melainkan konsistensi antara panggung depan dan panggung belakang. Seorang pemimpin yang hanya bermoral saat kamera menyala bukanlah pemimpin, melainkan performer. Dan dunia yang dipimpin oleh para performer etika akan selalu rapuh, karena fondasinya adalah kepura-puraan.
The Epstein Files—terlepas dari kontroversi, perdebatan hukum, dan tafsir politiknya—harus dibaca sebagai peringatan keras: bahwa kekuasaan tanpa integritas akan selalu mencari ruang gelap. Dan bahwa masyarakat yang sehat bukanlah masyarakat yang terpesona oleh “panggung depan”, melainkan yang berani menuntut kejujuran hingga ke ruang “panggung belakang”.
Karena pada akhirnya, sejarah tidak menilai seberapa meyakinkan pidato seorang pemimpin, tetapi seberapa bersih kelakuannya ketika tak ada yang menonton. (*)

