No Result
View All Result
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
SAVED POSTS
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
TAJDID.ID
No Result
View All Result

Paradoks Kepercayaan Publik: Saat Polri Dipuji, Namun Reformasi Mendesak

13 Januari 2026
in Nasional, Opini, Ulasan
Reading Time: 3 mins read
0
A A
0
Gambar ilustratif by AI

Gambar ilustratif by AI

Share on Facebook
Share on Twitter

Oleh: Shohibul Anshor Siregar

Dosen FISIP UMSU, Ketua LHKP PW Muhammadiyah Sumut

 

Baru-baru ini, publik Indonesia disuguhi kabar menggembirakan mengenai tingkat kepercayaan terhadap Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri). Survei dari lembaga internasional sekelas Gallup, melalui The Global Safety Report 2023, menempatkan Indonesia pada peringkat ke-19 dari 144 negara dalam Law and Order Index, dengan skor impresif 89. Bahkan, dalam indikator rasa aman berjalan sendirian di malam hari, Indonesia berada di peringkat ke-25 dengan 83% responden merasa aman. Angka-angka ini seakan menegaskan bahwa masyarakat Indonesia merasa aman dan percaya pada penegak hukumnya.

Tidak hanya itu, survei Litbang Kompas pada November 2023 juga menguatkan sentimen positif ini, menempatkan Polri dalam tiga besar lembaga negara paling dipercaya, bahkan menduduki peringkat pertama di antara lembaga penegak hukum dengan tingkat kepercayaan mencapai 78,2%. Sebuah pencapaian yang patut diacungi jempol, apalagi di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian.

Namun, di balik angka-angka yang memukau ini, terbentang sebuah paradoks yang menarik untuk diurai. Jika kepercayaan publik begitu tinggi, mengapa justru dibentuk Tim Percepatan Reformasi Kepolisian (TPRP) yang bertugas merumuskan berbagai urgensi tindakan untuk perbaikan kelembagaan dan pelayanan Polri? Bukankah ini menyiratkan adanya masalah serius yang perlu dibenahi, terlepas dari hasil survei yang positif? Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika kita menilik berbagai skandal dan kasus besar yang selama ini menggerogoti citra dan integritas institusi, seolah menjadi antitesis dari angka-angka survei yang membanggakan.

 

Dua Sisi Mata Uang Kepercayaan

Untuk memahami fenomena ini, kita perlu melihat kepercayaan publik dari dua sisi yang berbeda:

Pertama, kepercayaan fungsional. Survei-survei tersebut, terutama Gallup, cenderung mengukur rasa aman masyarakat dan keyakinan mereka terhadap kemampuan Polri dalam menjaga ketertiban umum. Di tengah kondisi dunia yang seringkali bergejolak, stabilitas dan keamanan yang relatif terjaga di Indonesia menjadi poin penting. Masyarakat merasa bahwa Polri, sebagai institusi penjaga keamanan, telah menjalankan fungsi dasarnya dengan baik. Kemampuan Polri dalam mengamankan event-event besar, penanganan bencana, atau bahkan respons terhadap pandemi, seringkali menjadi bukti nyata kehadiran negara yang diapresiasi. Dalam konteks ini, tingginya angka kepercayaan adalah cerminan dari keberhasilan Polri dalam memenuhi ekspektasi dasar masyarakat akan keamanan.

Kedua, kebutuhan akan kepercayaan normatif. Di sinilah letak urgensi reformasi yang sesungguhnya. Meskipun masyarakat merasa aman secara fisik, mereka juga memiliki ekspektasi yang jauh lebih tinggi terhadap integritas, akuntabilitas, dan profesionalisme aparat penegak hukum. Pembentukan TPRP adalah pengakuan internal bahwa ada celah lebar antara kinerja yang dirasakan masyarakat dalam hal keamanan dasar, dengan standar etika dan keadilan yang diharapkan.

Celah ini bukan sekadar retakan kecil, melainkan jurang yang kerap menganga lebar, terutama saat publik dihadapkan pada serangkaian skandal dan kasus besar yang mengguncang. Sebut saja kasus Ferdy Sambo yang mengungkap mafia internal dan penyalahgunaan kekuasaan di tubuh institusi, kasus narkoba yang menyeret nama besar seperti Teddy Minahasa, hingga kontroversi dalam penanganan kasus-kasus seperti Jessica Wongso yang memicu perdebatan sengit tentang profesionalisme penyidikan dan keadilan prosedural. Kasus-kasus ini, dan banyak lainnya yang mungkin tidak sepopuler itu, telah menjadi sorotan tajam. Berbagai kalangan, termasuk akademisi dan pengamat hukum seperti Dr. Rismon, tak henti-hentinya melontarkan kritik pedas, menyoroti tidak hanya pelanggaran individu, tetapi juga potensi kelemahan sistemik dalam pengawasan, akuntabilitas, dan penegakan kode etik.

BACA JUGA

Menakar Popularitas Calon Walikota Medan 2020 (Bagian 2)

Alvin Lie: Andai Jokowi Tangani Covid-19 Segesit Seperti Tangani Rangkap Jabatan Rektor UI, Kondisi Hari ini Bisa Jauh Lebih Baik

Pendidikan Indonesia Mau Kemana?

Akankah UU Ketenagakerjaan Baru Menjadi Jalan Keluar atau Justru Melahirkan Masalah Baru?

Menolak Jadi Penonton Pasif: 5 Langkah Taktis Aceh Amankan Kekayaan Gas Blok Andaman

Liberalisme Ala Muhammadiyah

Skandal-skandal ini bukan hanya sekadar ‘noda’ pada institusi, melainkan pukulan telak terhadap fondasi kepercayaan normatif. Masyarakat tidak hanya ingin merasa aman, tetapi juga ingin melihat proses penegakan hukum yang adil, transparan, bebas dari praktik korupsi, penyalahgunaan wewenang, dan intervensi yang merusak integritas. Mereka ingin melihat aparat yang melayani, bukan yang ditakuti atau dipertanyakan motifnya. Inilah inti dari “kepercayaan normatif” yang menjadi fondasi legitimasi institusi dalam jangka panjang, dan inilah yang terancam ketika kasus-kasus tersebut mencuat.

 

Reformasi sebagai Investasi Kepercayaan

Maka, tingginya kepercayaan dalam survei, yang mencerminkan apresiasi terhadap fungsi dasar Polri, bukanlah alasan untuk berpuas diri. Sebaliknya, ia harus dipandang sebagai modal berharga yang justru menuntut investasi lebih besar pada reformasi. Keberadaan TPRP, yang dibentuk dengan kesadaran akan urgensi perbaikan pasca-berbagai insiden besar, menunjukkan kematangan institusi yang tidak alergi terhadap kritik dan siap berbenah. Ini adalah sinyal positif bahwa pimpinan Polri menyadari bahwa kepercayaan publik tidak statis, melainkan harus terus diperjuangkan dan ditingkatkan melalui perbaikan internal yang nyata, terutama dalam menanggapi sorotan tajam dari kasus-kasus yang merusak citra.

Reformasi kepolisian bukan hanya tentang peningkatan kapasitas teknis atau fasilitas, melainkan juga transformasi budaya yang mendalam. Ini mencakup penanaman nilai-nilai integritas, akuntabilitas, dan pelayanan prima di setiap lini, serta penguatan sistem pengawasan internal dan eksternal. Ketika masyarakat melihat komitmen nyata Polri untuk memberantas praktik korupsi, menindak tegas oknum yang melanggar hukum tanpa pandang bulu, dan meningkatkan kualitas pelayanan publik yang humanis dan profesional, maka kepercayaan yang ada akan semakin kokoh dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, paradoks ini mengajarkan kita bahwa kepercayaan publik adalah entitas yang kompleks. Ia bisa hadir dalam bentuk apresiasi terhadap fungsi dasar, namun juga menuntut perbaikan mendalam pada aspek moral, etika, dan sistemik. Polri memiliki modal kepercayaan yang besar. Kini, tantangannya adalah bagaimana mengelola modal tersebut melalui reformasi yang jujur dan konsisten, agar dapat menjadi lembaga penegak hukum yang tidak hanya diandalkan untuk keamanan, tetapi juga dicintai dan dipercaya sepenuhnya oleh seluruh lapisan masyarakat. Reformasi bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti keberanian untuk menjadi lebih baik dan menjawab tuntutan keadilan yang terus bergema. (*)

Tags: PolriReformasi Polrishohibul anshor siregar
Mujaddid

Mujaddid

Editor in chief

Konten Terkait

NTP Naik Tapi Petani Tetap Miskin: Sosiolog Sebut Data BPS Hanya Manipulasi Realitas
Daerah

NTP Naik Tapi Petani Tetap Miskin: Sosiolog Sebut Data BPS Hanya Manipulasi Realitas

by Mujaddid
28 Juli 2026
27
Shohibul: Presiden Sebaiknya Rombak Struktur Anggaran
Nasional

Sosiolog Soroti Universitas Republik Indonesia: “Institusi Pendidikan atau Reproduksi Elit Kekuasaan?”

by Mujaddid
24 Juli 2026
31
Oposisi Jalanan Berbaju “Kabinet Bayangan”
Nasional

Oposisi Jalanan Berbaju “Kabinet Bayangan”

by Mujaddid
19 Juli 2026
36
Gincu vs Garam: Opera Buffa Politik Islam di Republik yang Selalu “Demokratis”
Esai

Gincu vs Garam: Opera Buffa Politik Islam di Republik yang Selalu “Demokratis”

by Mujaddid
3 Agustus 2026
27
Perang Geng Berjubah Hukum
Nasional

Perang Geng Berjubah Hukum

by Mujaddid
11 Juli 2026
21
Komedi Hitam Penegakan Hukum
Nasional

Komedi Hitam Penegakan Hukum

by Mujaddid
1 September 2026
43
Potret Reformasi Polri
Nasional

Potret Reformasi Polri

by Mujaddid
30 Juni 2026
16
Penyiksaan oleh Aparat TNI-Polri di Sumut Ancam Demokrasi dan Hak Asasi Warga
Internasional

Kesaksian Akademisi: AI Menipu Saya, Jangan Percaya Buta!

by Mujaddid
14 Juni 2026
71
Akademisi ini Paparkan Peta Pilpres 2024 di Sumatera Utara
Nasional

Rupiah Sekarat Bertengkar dengan Siapa? Ini Jawaban Menohok Akademisi

by Mujaddid
12 Juni 2026
91
Menolak Jadi Penonton Pasif: 5 Langkah Taktis Aceh Amankan Kekayaan Gas Blok Andaman
Nasional

Menolak Jadi Penonton Pasif: 5 Langkah Taktis Aceh Amankan Kekayaan Gas Blok Andaman

by Mujaddid
9 Juni 2026
58

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

  • Rimbawati, Dosen UMSU yang Mengubah Rongsokan dan Limbah Menjadi Energi untuk Desa
  • Membangun Ekosistem Dakwah dan Gerakan Terpadu Wujudkan Kesejahteraan Nasional
  • Cari Pewarta Foto Hilang Kontak, ANTARA Perkuat Koordinasi dengan Basarnas dan Polda Banten
  • Hari Kedua Pencarian 8 Korban Speedboat Hilang, Tim SAR Gabungan Sisir Perairan Krakatau
  • Cari Jurnalis yang Hilang Kontak di Perairan Anak Krakatau, PFI Pusat Berkoordinasi Intensif dengan Tim SAR Gabungan 
  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

OPINI

Membangun Ekosistem Dakwah dan Gerakan Terpadu Wujudkan Kesejahteraan Nasional
Muhammadiyah

Membangun Ekosistem Dakwah dan Gerakan Terpadu Wujudkan Kesejahteraan Nasional

Muhammadiyah di Abad Kedua: Meneguhkan Gerakan Peradaban di Era VUCA
Kemuhammadiyahan

Muhammadiyah di Abad Kedua: Meneguhkan Gerakan Peradaban di Era VUCA

Gerakan Organisasi Pemuda: Cetak Pemimpin Publik Tangguh
Internasional

Gerakan Organisasi Pemuda: Cetak Pemimpin Publik Tangguh

85 Mahasiswa Prodi IAP FISIP UMSU PPL di Kabupaten Samosir
Daerah

Sinergisme PPL: Penguatan Kebijakan Pembangunan Daerah

Desil dan Bantuan: Antara Tepat Sasaran dan Gaya Hidup
Daerah

Desil dan Bantuan: Antara Tepat Sasaran dan Gaya Hidup

Budak Tahta (Buta)
M. Risfan Sihaloho

Budak Tahta (Buta)

TAJDID.ID

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.