No Result
View All Result
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
SAVED POSTS
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
TAJDID.ID
No Result
View All Result

Demokrasi yang Terpenjara di Menara Gading

Sebuah Renungan tentang Kedaulatan yang Tersandera

12 Januari 2026
in Esai, Nasional, Opini, Ulasan
Reading Time: 3 mins read
0
A A
0
Foto ilustrasi.

Foto ilustrasi.

Share on Facebook
Share on Twitter

Oleh: Shohibul Anshor Siregar

Ketua LHKP PW Muhammadiyah Sumut dan Dosen FISIP UMSU

 

Indonesia bagai sebuah perahu besar yang mengarungi samudera demokrasi, namun nahkodanya terbelenggu di menara gading Jakarta.

Di geladak, rakyat berjejal merindukan suara; di menara, segelintir elite berbisik dalam bahasa yang asing dari denyut nadi kampung-kampung.

Inilah paradoks zaman kita: pesta demokrasi yang ramai dirayakan, sementara kedaulatan rakyat diam-diam tersandra dalam ruang-ruang rapat yang gelap.

Sentralisasi kekuasaan telah menjadi penyakit kronis dalam tubuh politik kita. Seperti akar pohon beringin yang menggurita, segala keputusan penting—dari siapa yang akan memimpin di tingkat daerah hingga undang-undang yang mengatur nasib jutaan orang—harus menunggu restan dari ibu kota.

Calon kepala daerah ditentukan oleh mereka yang tak pernah mencium bau tanah tempat calon itu akan memimpin. Kebijakan disusun oleh tangan-tangan yang tak pernah merasakan getirnya hidup di pelosok.

Hasilnya adalah sebuah ironi pahit: demokrasi yang seharusnya menghidupkan justru mematikan; yang seharusnya memerdekakan justru membelenggu.

BACA JUGA

Akun Twitter Ade Armando Cs Kena Suspend, Hastag #BuzeRp Jadi Trending

Potensi Regional Istimewa untuk Solo: Waktunya jadi ‘Special Region of Surakarta’

Menanam Batu, Meneguhkan Persahabatan

Rakernas Bersama LSB dan LPO PP Muhammadiyah Bahas Olah Raga Diabilitas

HMJ Kessos FISIP UMSU Lolos ke Abdidaya PPK Ormawa 2024 di Bali

Sinergitas Muhammadiyah-PAN Timbul Kembali dan Menguat

Oligarki tumbuh subur dalam tanah yang demikian. Mereka bukan lagi tamu yang tak diundang, melainkan tuan rumah yang menentukan menu demokrasi kita.

Produk hukum lahir tidak dari rahim kebutuhan publik, melainkan dari kandungan kepentingan yang sempit. Undang-undang yang seharusnya melindungi justru sering menggilas; yang seharusnya memanusiakan justru kadang memperdagangkan martabat.

Ruang sidang parlemen, yang semestinya menjadi kuil kedaulatan rakyat, berubah menjadi pasar tempat suara dan hati nurani diperjualbelikan.

Namun, di tengah kegelapan, selalu ada cahaya yang pantang padam. Gagasan tentang affirmative action di tubuh legislatif bagai embun di tengah kemarau—kecil, segar, dan memberi harapan.

Ini bukan sekadar usulan teknis belaka, melainkan sebuah upaya untuk mengembalikan ruh pada tubuh demokrasi yang hampir menjadi zombie.

Bayangkan jika di gedung dewan yang megah itu, duduk berdampingan para politisi karier dengan petani yang tangannya berlumpur, nelayan yang kulitnya terbakar matahari, perempuan-perempuan adat yang menyimpan kearifan nenek moyang, dan kaum muda idealis yang masih percaya pada keadilan.

Mereka bukan datang melalui pintu-pintu gelap transaksi politik, melainkan melalui jalan terang seleksi yang jernih. Mereka tidak membawa beban hutang pada oligarki, melainkan membawa janji pada rakyat.

Kehadiran mereka bisa menjadi penyeimbang dalam orkestra politik yang selama ini dimainkan dalam nada-nada sumbang. Mereka dapat menjadi suara bagi yang bisu, mata bagi yang buta, dan kaki bagi yang lumpuh dalam perjalanan panjang bangsa ini.

Jalan menuju perubahan tak pernah mulus. Selalu akan ada suara sumbang yang meragukan, yang menganggap segala upaya perbaikan sebagai mimpi di siang bolong. Mereka berdalih pada aturan yang kaku, pada konstitusi yang tak lentur, pada “realitas” yang tak bisa diubah.

Tapi sejarah membuktikan: perubahan besar selalu dimulai dari mimpi yang dianggap mustahil. Lautan dapat diseberangi karena seseorang berani melepaskan sauh dari pantai yang nyaman. Kita memerlukan keberanian untuk membayangkan ulang demokrasi kita. Bukan sekadar memperbaiki yang retak, melainkan merancang ulang fondasinya.

Bukan sekadar menambal yang bocor, melainkan membangun atap yang lebih luas agar lebih banyak suara dapat berteduh di bawahnya.

Ini tentang menciptakan sebuah tarian baru dalam politik—bukan tarian kaki yang diatur dari pusat, melainkan tarian hati yang bergerak sesuai irama lokal masing-masing.

Pada akhirnya, demokrasi bukanlah tentang angka-angka di lembar suara semata. Demokrasi adalah tentang apakah seorang ibu di pelosok Papua bisa merasakan bahwa suaranya berarti; apakah seorang nelayan di pesisir Jawa bisa yasin bahwa hidupnya dilindungi; apakah anak muda di mana pun bisa bermimpi tanpa takut dihantam oleh ketidakadilan.

Matahari demokrasi tidak boleh terbit dan terbenam hanya di Jakarta. Ia harus menyinari setiap sudut dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote.

Dengan membuka ruang bagi suara-suara yang selama ini tersembunyi di balik gemuruh politik elit, kita bukan hanya memenuhi kuota keterwakilan. Kita sedang menghidupkan kembali jiwa dari gagasan besar bernama Indonesia: Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi satu, bukan dalam penyeragaman yang dipaksakan, melainkan dalam keragaman yang dirayakan.

Dan mungkin, dari sanalah kita akan menemukan kembali jalan pulang menuju demokrasi yang sesungguhnya: demokrasi yang tidak hanya berada di atas kertas, tetapi hidup dalam setiap denyut nadi bangsa. (*)

 

Tags: demokrasiDemokrasi Indonesiamenara gadingTulisan Shohibul Anshor Siregar
Mujaddid

Mujaddid

Editor in chief

Konten Terkait

Demokrasi yang Bau Bangkai
Nasional

Demokrasi yang Bau Bangkai

by Mujaddid
29 Agustus 2026
9
Menakar Koordinasi Keislaman: Tantangan Fatwa, Pendanaan, hingga Tata Kelola
Islam

Menakar Koordinasi Keislaman: Tantangan Fatwa, Pendanaan, hingga Tata Kelola

by Mujaddid
3 Agustus 2026
10
Menelusuri Metodologi Baru untuk Peradaban Islam Modern
Esai

Menelusuri Metodologi Baru untuk Peradaban Islam Modern

by Mujaddid
3 Agustus 2026
13
Demokrasi yang Kehilangan Suara: Ketika Kritik Dipandang sebagai Ancaman Negara
Nasional

Demokrasi yang Kehilangan Suara: Ketika Kritik Dipandang sebagai Ancaman Negara

by Mujaddid
20 Juli 2026
16
Oposisi Jalanan Berbaju “Kabinet Bayangan”
Nasional

Oposisi Jalanan Berbaju “Kabinet Bayangan”

by Mujaddid
19 Juli 2026
36
Menjinakkan Watak “Raja” Presiden: Belajar dari Sjafruddin, Assaat, dan Ilusi Konstitusi Sempurna
Kebangsaan

Menjinakkan Watak “Raja” Presiden: Belajar dari Sjafruddin, Assaat, dan Ilusi Konstitusi Sempurna

by Mujaddid
28 Mei 2026
27
Modernisasi Sistem Demokrasi Nagari melalui E-Voting
Daerah

Modernisasi Sistem Demokrasi Nagari melalui E-Voting

by Mujaddid
24 Mei 2026
30
Demokrasi Tanpa Oposisi Resmi
Jufri Daily

Demokrasi Tanpa Oposisi Resmi

by Mujaddid
9 April 2026
30
Menjaga Oksigen Demokrasi: Membongkar Krisis Struktural Keselamatan Jurnalis di Indonesia
Esai

Menjaga Oksigen Demokrasi: Membongkar Krisis Struktural Keselamatan Jurnalis di Indonesia

by Mujaddid
22 Februari 2026
93
Otentikasi “Gerakan Rakyat”
Nasional

Otentikasi “Gerakan Rakyat”

by Mujaddid
19 Januari 2026
102

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

  • Budak Tahta (Buta)
  • Korban Dugaan Kriminalisasi, Nenek Marlina Diputus Lepas oleh Hakim di PN Lubuk Pakam
  • Muhammadiyah Gerakanku: Bergerak dengan Ilmu, Berkemajuan dan Berkelanjutan
  • 50 Petugas LazisMu Sumut akan Ikuti Program Akademi Jurnalistik Filantropi
  • KKN Tematik UMSU Ajak Kaum Ibu Desa Sicanggang Bijak Bermedia Sosial
  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

OPINI

Budak Tahta (Buta)
M. Risfan Sihaloho

Budak Tahta (Buta)

Muhammadiyah Gerakanku: Bergerak dengan Ilmu, Berkemajuan dan Berkelanjutan
Jufri Daily

Muhammadiyah Gerakanku: Bergerak dengan Ilmu, Berkemajuan dan Berkelanjutan

Sastra, Pendidikan, Religiositas, dan Jagat Batin Manusia
Daerah

Sastra, Pendidikan, Religiositas, dan Jagat Batin Manusia

Catatan Kritis Puisi-puisi Mantra Karya Heri Isnaini
Daerah

Catatan Kritis Puisi-puisi Mantra Karya Heri Isnaini

Alumni PTM Garda Terdepan Islam Berkemajuan
Muhammadiyah

Alumni PTM Garda Terdepan Islam Berkemajuan

Konten Kreator ‘Parmitu’
Daerah

Konten Kreator ‘Parmitu’

TAJDID.ID

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.