Oleh: Jufri
Pegiat Sosial Politik dan Dakwah Kebangsaan/Mahasiswa Doktor Manajemen UMSU
Di antara hal paling menarik dari perjalanan wisata akademik bersama Program Doktor Manajemen Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) selama empat hari ke Malaysia adalah kebersamaan—bukan dalam pengertian ideal atau sloganistik, melainkan dalam makna kemanusiaan yang sederhana dan nyata.
Para mahasiswa datang dari beragam latar belakang budaya dan kepercayaan. Namun kebersamaan dengan para dosen dan mahasiswa justru memperlihatkan kedewasaan kita dalam memaknai multikulturalisme dalam kenyataan, bukan sekadar teori. Di sini, perbedaan tidak dirayakan sebagai simbol, tetapi dihidupi sebagai pengalaman.
Tidak semua mahasiswa adalah warga Muhammadiyah, bahkan sebagian adalah non-Muslim. Namun di UMSU—sebagaimana yang telah lama berlangsung dan sering “viral”—perjalanan ini kembali memperlihatkan wujudnya secara alamiah, tanpa rekayasa. Semua mengalir membentuk lanskap akademik dan kebudayaan khas Muhammadiyah, tanpa seseorang harus menjadi warga Muhammadiyah, apalagi harus menjadi seorang Muslim.
Perjalanan empat hari ini bukan sekadar perjalanan akademik biasa. Karena dilakukan oleh perguruan tinggi amal usaha Muhammadiyah, maka sekaligus ia menjadi cermin sikap Muhammadiyah pada umumnya: terbuka, berkemajuan, dan memanusiakan.
Kita mengenal istilah seperti Krismu (Kristen Muhammadiyah) atau sebutan lain yang merujuk pada pengalaman hidup orang-orang di luar Muhammadiyah—bahkan di luar Islam—ketika menimba ilmu di amal usaha Muhammadiyah. Istilah itu bukan label ideologis, melainkan penanda pengalaman kultural: bahwa di Muhammadiyah, orang merasa menjadi bagian tanpa harus diseragamkan.
Saya sendiri, pada awalnya, berada dalam “komunitas” ini secara tidak sengaja. Menjadi mahasiswa Program Doktor Manajemen UMSU bukan sesuatu yang saya rencanakan dengan matang atau persiapan yang mapan. Ia datang begitu saja, seperti banyak hal lain dalam hidup.
Namun sebagaimana hakikat kehidupan, tidak ada yang benar-benar kebetulan. Setiap peristiwa selalu membawa maknanya sendiri. Hingga akhirnya, saya bukan hanya menjalani, tetapi menikmati perjalanan akademik tersebut.
Sebagai warga sekaligus pimpinan Muhammadiyah di daerah, saya melihat apa yang terjadi dalam perjalanan ini sebagai bentuk nyata pengakuan kita terhadap perbedaan—yang tidak kita pandang sebagai ancaman, tetapi kita maknai sebagai kekayaan.
Dunia akademis adalah dunia yang pada dasarnya sangat egaliter. Di dalamnya, dosen dan mahasiswa dapat dekat sebagai sesama manusia, tanpa kehilangan adab, tanpa mengaburkan peran, dan tanpa meniadakan fungsi masing-masing. Kedekatan itu bukan untuk menurunkan wibawa ilmu, melainkan justru untuk memuliakannya.
Kebersamaan dalam perjalanan ke Malaysia itu meninggalkan sisi indah tentang kemanusiaan dan persaudaraan. Ia menjadi bekal moral agar kita tetap kokoh merawat persatuan dan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia—bukan dengan seragam yang sama, tetapi dengan hati yang saling memahami.
Penutup
Semoga misi Muhammadiyah terus berjalan secara alamiah dalam bingkai Islam Berkemajuan dan dakwah kebangsaan, dan UMSU menjadi model nyata bagaimana nilai-nilai itu terus dihidupkan dalam dunia pendidikan tinggi.
Unggul, Cerdas , Terpercaya.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

