Site icon TAJDID.ID

Sirkel Pertemanan

Gambar ilustrasi.

Oleh: M. Risfan Sihaloho

 

“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang shalih dan orang yang jelek bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu; engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari)

 

Di zaman media sosial, kata sirkel terdengar lebih bergengsi daripada sekadar “teman”. Sirkel bukan cuma soal nongkrong bareng atau selera kopi yang sama, tapi juga soal akses, pengaruh, dan—sering kali—kepentingan. Orang-orang dalam satu sirkel merasa sefrekuensi, saling menguatkan, saling membenarkan, dan jika perlu, saling menutup mata. Di sinilah masalah bermula.

Islam sejak awal sudah memberi peringatan keras soal pergaulan. Nabi Muhammad SAW dengan metafora sederhana tapi tajam membandingkan teman baik dengan penjual minyak wangi, dan teman buruk dengan pandai besi. Pesannya jelas: pergaulan itu “menular”. Kalau bukan pakaianmu yang hangus, minimal hidungmu akan terbiasa dengan bau gosong. Dan yang lebih berbahaya: ketika bau itu lama-lama dianggap wajar.

Masalahnya, di era modern, bau besi sering dikemas seperti parfum mahal. Lingkaran pertemanan dibungkus istilah kolaborasi, sinergi, atau jejaring strategis. Padahal substansinya tetap sama: siapa berteman dengan siapa akan menentukan ke mana arah langkah, bahkan arah nurani.

Islam menekankan bahwa sirkel ideal bukan sekadar kumpulan orang “nyaman”, tapi kumpulan orang yang saling mengganggu—mengganggu dari kemalasan ibadah, dari kompromi moral, dari pembenaran dosa. Prinsip tawaashau bil haq menuntut keberanian untuk tidak selalu sepakat. Sirkel yang selalu kompak, selalu setuju, dan selalu tepuk tangan, justru patut dicurigai: jangan-jangan itu bukan lingkaran kebaikan, tapi lingkaran pembenaran.

Di titik ini, konsep sirkel menjadi sangat relevan ketika kita bicara politik. Kekuasaan, seperti pergaulan, tidak pernah netral. Ia selalu membentuk dan dibentuk oleh lingkaran. Keputusan Presiden Prabowo Subianto untuk bergabung dalam sirkel global Board of Peace, misalnya, bisa dibaca sebagai upaya menempatkan diri dalam jejaring elite dunia dengan label mulia: perdamaian. Secara simbolik terdengar indah. Siapa yang berani menolak kata “peace”?

Namun, pertanyaannya bukan sekadar apa nama sirkel itu, melainkan nilai apa yang benar-benar bekerja di dalamnya. Apakah ia sungguh menjadi penjual minyak wangi yang menyebarkan aroma keadilan dan kemanusiaan? Atau jangan-jangan hanya ruang eksklusif tempat para elit saling menegaskan citra, sambil dunia di luar lingkaran tetap terbakar konflik dan ketimpangan?

Islam mengajarkan bahwa pertemanan—termasuk pergaulan politik—seharusnya berlandaskan ketakwaan, bukan sekadar prestise. Ukurannya bukan seberapa tinggi meja pertemuan, tapi seberapa jauh dampaknya bagi kemaslahatan umat. Kalau sebuah sirkel membuat seseorang semakin jauh dari keberpihakan pada yang lemah, semakin lihai merasionalisasi ketidakadilan, maka betapapun elegan namanya, ia lebih mirip bengkel pandai besi daripada toko parfum.

Satirnya, banyak orang hari ini bangga masuk sirkel tertentu, padahal yang mereka banggakan sebenarnya adalah bau yang sama. Bau kekuasaan, bau kepentingan, bau aman karena berada “di dalam”. Kritik dianggap pengkhianatan, nasihat dianggap gangguan. Padahal dalam Islam, teman sejati justru adalah yang berani mengingatkan dan berkata: “Ini salah!”.

Akhirnya, pertanyaan tentang sirkel bukan cuma soal dengan siapa kita duduk, tapi ke mana duduk itu membawa kita. Apakah pergaulan kita—di level pribadi maupun negara—mendekatkan pada Allah dan nilai-nilai keadilan, atau justru menjauh sambil meyakinkan diri bahwa semuanya “baik-baik saja”?

Karena seperti diingatkan Nabi Muhammad SAW dalam sebuah haditsnya: “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian”.

Begitulah. Dan dalam dunia yang makin penuh asap dan api, memilih sirkel bukan lagi soal gaya hidup, melainkan soal keselamatan iman dan masa depan.(*)

Exit mobile version