Site icon TAJDID.ID

Dakwah dalam Kerja Nyata: Belajar dari Pak Zaki dan Pak Mas’ud

Oleh: Jufri

Pegiat sosial politik dan dakwah kebangsaan/Mahasiswa Program Doktor Manajemen Sekolah Pascasarjana UMSU

 

Ada satu momen menarik dan sarat makna dalam acara penutupan pertemuan antara Sekolah Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) dengan Universitas Teknologi MARA (UiTM) Selangor, Malaysia. Wakil Direktur Sekolah Pascasarjana UMSU, Dr. Adi Mansar Lubis, menyampaikan apresiasi tulus kepada Pak Zaki, seorang tokoh masyarakat dari Kampung Malaka, Tanjong Karang, Selangor, Malaysia, yang dikenal memiliki beragam usaha, mulai dari persawahan hingga homestay.

Dalam sambutannya, Dr. Adi Mansar menegaskan bahwa kebermanfaatan dan pengayoman yang dilakukan Pak Zaki kepada masyarakat merupakan wujud nyata dakwah Islam berkemajuan, sebuah misi utama yang menjadi ruh gerakan Muhammadiyah. Dakwah, menurut beliau, tidak semata-mata disampaikan melalui mimbar atau forum keagamaan, tetapi diwujudkan melalui karya nyata, keteladanan hidup, dan keberpihakan sosial.

Pak Zaki telah menunjukkan bahwa dakwah bisa tumbuh dari kerja keras dan kesabaran. Ia menapaki hidup secara bertahap, penuh perjuangan, dan dimulai dari titik paling bawah. Dalam penuturannya, Pak Zaki mengisahkan bahwa dirinya berasal dari keluarga yang tidak mampu. Ia pernah bekerja serabutan, dan pada masa hidup yang sangat sulit, untuk sekadar merokok pun pernah mengutip puntung rokok. Sebuah kisah yang jujur, apa adanya, tanpa romantisasi kemiskinan.

Usaha Pak Zaki bermula dari menjadi buruh tani di sawah milik masyarakat di wilayah Tanjong Karang. Upah yang diterima tidak dihabiskan, melainkan ditabung untuk menyewa sebidang tanah. Dari titik nadir itulah roda kehidupan perlahan bergerak. Kini, tanah dan sawah yang dikelola Pak Zaki telah mencapai sekitar 98 hektare, dilengkapi dengan usaha lain berupa homestay dan penyewaan traktor. Usaha homestay miliknya hampir selalu penuh, terutama pada hari libur Sabtu dan Minggu. Sementara dari penyewaan traktor saja, penghasilan hariannya mencapai sekitar 300 hingga 500 Ringgit Malaysia.

Di hadapan kisah perjuangan tersebut, Dr. Adi Mansardengan penuh kerendahan hati menyampaikan refleksi personal. Meski telah menempuh pendidikan selama kurang lebih dua belas tahun hingga meraih gelar doktor, beliau menyatakan penghargaan dan penghormatan yang tinggi kepada Pak Zaki. Sebuah pengakuan yang menunjukkan bahwa ukuran kemuliaan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh gelar akademik, melainkan oleh sejauh mana ia memberi manfaat dan pengayoman kepada masyarakat sekitarnya.

Sementara itu, Ketua Program Studi Doktor Manajemen UMSU, Prof. Dr. Sabrina, menyampaikan bahwa apa yang dilihat dan dipelajari dari perjalanan hidup serta usaha Pak Zaki merupakan pelajaran yang sangat penting dan bernilai strategis. Menurutnya, pengalaman konkret tersebut bukan hanya relevan bagi mahasiswa Program Doktor Manajemen, tetapi juga menjadi bahan refleksi dan pembelajaran berharga bagi para dosen. Praktik manajemen yang lahir dari ketekunan, kejujuran, dan keberpihakan sosial memberikan dimensi nyata tentang kepemimpinan dan kewirausahaan yang berkelanjutan.

Pada kesempatan yang sama, Pak Mas’ud bin Mansyur, juga berasal dari Kampung Malaka, Tanjong Karang, Selangor, Malaysia, turun menjelaskan secara singkat perjalanan hidup dan kiprahnya. Ia dengan rendah hati menyampaikan bahwa dirinya bukan seorang pebisnis. Namun demikian, Pak Mas’ud aktif membina masyarakat melalui rumah keselamatan, sebuah ruang pembinaan bagi masyarakat dan remaja agar tetap hidup sehat, baik secara jasmani maupun rohani. Selain itu, ia juga terlibat dalam berbagai kegiatan nGO (non-Governmental Organization) atau LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), yang berfokus pada edukasi, pendampingan sosial, dan penguatan kehidupan masyarakat.

Kiprah Pak Mas’ud menegaskan bahwa pengabdian sosial tidak selalu harus lahir dari kekuatan modal ekonomi. Kepedulian, konsistensi, dan keberanian untuk turun langsung ke tengah masyarakat merupakan modal utama dalam membangun kehidupan sosial yang sehat dan berdaya.

Dari Pak Zaki dan Pak Mas’ud, kita belajar memaknai hidup sebagai proses perjuangan dan keberlanjutan. Perjuangan yang tidak berhenti pada keberhasilan pribadi, tetapi terus berlanjut dalam bentuk kebermanfaatan bagi masyarakat luas. Inilah wajah dakwah yang hidup—dakwah yang bekerja, membumi, dan menumbuhkan harapan.

 

Penutup Refleksi Keislaman

Dalam perspektif Islam, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Nilai ini tidak berhenti sebagai nasihat moral, tetapi menuntut pembuktian dalam kehidupan nyata. Apa yang ditunjukkan Pak Zaki dan Pak Mas’ud adalah tafsir hidup dari ajaran tersebut—bahwa iman menemukan ujiannya dalam kerja, kesabaran, dan keberpihakan kepada sesama.

Dakwah Islam berkemajuan, sebagaimana diperjuangkan Muhammadiyah, tidak memisahkan kesalehan individual dan kesalehan sosial. Ia hadir untuk mengangkat martabat manusia dan menebarkan rahmat. Pada titik inilah dakwah menjadi terang: bukan karena kerasnya suara, tetapi karena nyatanya manfaat.

Semoga kisah ini menjadi pengingat bahwa jalan pengabdian selalu terbuka bagi siapa pun—apa pun latar belakangnya—selama ia memilih untuk hidup memberi arti. Sebab pada akhirnya, amal yang paling panjang umurnya adalah amal yang menumbuhkan kehidupan orang lain.

Silaturahmi kolaborasi sinergi Harmoni

Exit mobile version