Oleh: Jufri
Pegiat sosial politik dan dakwah Kebangsaan
Di sela-sela kegiatan akademik dan pengabdian masyarakat Program Doktor Manajemen UMSU di Malaysia, kami mengalami sebuah perjumpaan sederhana namun sarat makna. Perjumpaan itu bukan di ruang kuliah, bukan pula dalam forum resmi, melainkan di ruang publik, bersama para biksu asal Sri Lanka yang tengah mempersiapkan diri menyambut hari istimewa umat Hindu yang setiap tahun diperingati pada awal Februari di Malaysia, dikenal luas sebagai perayaan Thaipusam.
Dengan sedikit keisengan yang jujur dan tanpa prasangka, kami mengajak mereka berfoto bersama. Gestur kecil ini bukan sekadar dokumentasi perjumpaan, melainkan ekspresi sikap: merawat pluralisme dengan kesadaran iman dan kejernihan akal. Dalam keisengan itu tersimpan pesan bahwa perbedaan tidak selalu harus dibicarakan secara teoretik; ia cukup dirawat dengan sikap yang tulus, beradab, dan humanis.
Bagi Islam berkemajuan, perbedaan bukan ancaman, melainkan kenyataan penciptaan. Manusia tidak diciptakan seragam, baik dalam keyakinan, budaya, maupun jalan hidup. Al-Qur’an menegaskan bahwa keberagaman adalah kehendak Ilahi agar manusia saling mengenal, bukan saling meniadakan. Maka keberagamaan yang matang bukanlah yang membangun jarak dengan yang berbeda, melainkan yang mampu hadir secara bermartabat di tengah perbedaan itu.
Di titik inilah sikap intelektual menemukan relevansinya. UMSU, sebagai institusi akademik yang berakar pada nilai-nilai Muhammadiyah, tidak cukup hanya memproduksi pengetahuan dan gelar akademik. Kampus harus menghadirkan kebijaksanaan, sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Intelektualisme sejati tidak berhenti pada kemampuan analisis dan publikasi ilmiah, tetapi tercermin dalam cara bersikap: terbuka, rasional, beradab, dan peduli pada konteks sosial.
Kegiatan study tour sekaligus pengabdian masyarakat di Malaysia bukan hanya soal pertukaran ilmu dan pengalaman akademik, tetapi juga praktik nyata nilai kemanusiaan. Perjumpaan singkat dengan para biksu menjadi pengingat bahwa ilmu dan iman semestinya melahirkan kerendahan hati, bukan keangkuhan. Islam berkemajuan tidak menjadikan identitas keagamaan sebagai tembok pemisah, melainkan sebagai sumber etika sosial yang memuliakan sesama manusia. Keberislaman yang tercerahkan adalah keberislaman yang memberi rasa aman, bukan rasa takut; menghadirkan dialog, bukan kecurigaan.
Dalam konteks Asia Tenggara yang majemuk, di mana agama, etnis, dan budaya hidup berdampingan, sikap ini bukan sekadar pilihan moral, melainkan kebutuhan intelektual dan sosial. Tanpa itu, agama mudah tergelincir menjadi simbol eksklusivitas, dan ilmu kehilangan daya membebaskannya.
Peristiwa kecil tersebut mengingatkan bahwa dakwah dan pengabdian tidak selalu hadir dalam bentuk mimbar, ceramah, atau program formal. Kadang, ia hadir dalam senyum, sapaan, dan kesediaan berdiri sejajar sebagai sesama manusia, ciptaan Tuhan yang dimuliakan dalam ragam perbedaan.
Dari negeri jiran ini, kami kembali meneguhkan keyakinan bahwa Islam berkemajuan dan pengabdian masyarakat tidak bisa dipisahkan dari praktik hidup sehari-hari. Sivitas akademika UMSU memiliki tanggung jawab moral dan intelektual: menjaga agar iman tetap tercerahkan, ilmu tetap membumi, dan kemanusiaan tetap menjadi pusat orientasi, dalam setiap langkah akademik maupun pengabdian sosial. (*)
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

