Site icon TAJDID.ID

Jejak yang Menyambung Zaman: Belajar Keberanian dari Pak Dalmi dan Buya Chairuman

Hazmanan Khair, SE., M.B.A., Ph.D (kiri) dan Prof. Satria Tirtayasa (kanan)

 

Oleh: Jufri

Pegiat sosial politik dan Dakwah kebangsaan

Di sela kunjungan dosen dan mahasiswa Program Doktor Manajemen ke Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM), saya mengalami sebuah pertemuan yang bagi saya terasa sederhana, namun sesungguhnya sarat makna sejarah. Saya bertemu dan bersama dua orang senior yang belakangan saya ketahui merupakan putra dari tokoh-tokoh legendaris Muhammadiyah dan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU).

Mereka adalah Prof. Satria Tirtayasa, putra dari almarhum Dalmi Iskandar—Rektor legendaris UMSU periode 1981–1996—dan Hazmanan Khair, SE., M.B.A., Ph.D, putra dari Buya Chairuman Pasaribu, Wakil Rektor yang kemudian melanjutkan pengabdian sebagai Rektor UMSU periode 1996–2000. Keduanya kebetulan alumni dari institusi yang sama, dan pertemuan itu seolah menjadi simpul kecil dari sejarah panjang yang terus berjalan.

Pertemuan tersebut segera menarik ingatan saya jauh ke awal 1990-an. Sekitar tahun 1993, ketika saya masih tinggal di Pasaman, saya sering melihat kalender UMSU yang memuat berbagai kegiatan kampus bersama para pejabat dan tokoh nasional maupun daerah. Kalender itu bukan sekadar penanda waktu, melainkan medium komunikasi visi. Dari sanalah saya mengenal UMSU sebagai kampus yang aktif, terbuka, dan percaya diri menempatkan diri dalam dinamika sosial-politik dan kebangsaan.

Belakangan saya pahami, itu adalah bagian dari ikhtiar Pak Dalmi Iskandar dalam membangun dan membesarkan UMSU. Sebagai eksponen ’66, Pak Dalmi memiliki naluri kuat membangun komunikasi lintas sektor. Ia sadar, perguruan tinggi Muhammadiyah tidak bisa tumbuh hanya dengan idealisme, tetapi juga dengan jejaring, keberanian, dan kerja sama berkelanjutan. Kalender-kalender itu, tanpa disadari banyak orang, telah menyalakan api mimpi bagi generasi seperti saya—hingga akhirnya mendorong saya hijrah dan memilih kuliah di UMSU.

Tahun 1996, ketika saya benar-benar menjadi mahasiswa UMSU, saya menyaksikan langsung denyut perjuangan itu. Dari kejauhan, saya melihat bagaimana Pak Dalmi dan kemudian Buya Chairuman Pasaribu bekerja dengan disiplin tinggi dan karakter kepemimpinan yang tegas. Jarak generasi membuat saya belum bisa dekat secara personal, namun saya cukup melihat untuk belajar: tentang kegigihan, tentang ketegasan dalam prinsip, dan tentang keberanian mengambil keputusan demi masa depan institusi.

Buya Chairuman Pasaribu melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan dengan semangat pengabdian yang sama kuatnya. Keduanya dikenal sebagai pribadi yang keras pada diri sendiri, disiplin dalam kerja, dan konsisten dalam perjuangan. Dalam cerita yang saya dengar hari ini dari putra-putra mereka, tergambar bahwa kebersamaan dan kekompakan adalah nilai yang dijaga, bukan sekadar slogan. Mereka berbeda gaya, tetapi satu arah: membesarkan UMSU sebagai amal usaha Muhammadiyah yang bermartabat.

Hari ini, ketika saya berdiri bersama generasi penerus mereka di sebuah kampus di Malaysia, saya merasakan getar sejarah itu kembali hidup. Saya pun berinisiatif mengabadikan momen kebersamaan tersebut. Bagi saya, itu bukan sekadar foto, melainkan simbol kesinambungan. Bahwa Muhammadiyah tidak pernah kekurangan kader, selama nilai perjuangan dan keberanian terus diwariskan, bukan hanya dikenang.

Melalui Pak Dalmi dan Buya Chairuman, kita belajar bahwa perjuangan tidak selalu riuh, tetapi selalu menuntut konsistensi. Bahwa kebersamaan bukan berarti tanpa perbedaan, melainkan kesediaan untuk saling menguatkan demi tujuan yang lebih besar. Dan bahwa keberanian adalah syarat utama membangun institusi, berani bermimpi, berani membuka diri, dan berani bertanggung jawab atas pilihan.

Sebagai generasi yang lebih muda, saya merasa bersyukur menjadi bagian dari mata rantai sejarah ini. Muhammadiyah dan dunia akademik di Sumatera Utara dibangun bukan oleh satu generasi saja, melainkan oleh keberlanjutan nilai, keteladanan, dan pengabdian lintas zaman.

Di tanah perantauan, jauh dari kampung halaman, saya kembali diyakinkan: sejarah yang dirawat dengan ingatan dan kejujuran tidak akan pernah usang. Ia akan terus menyambung zaman, dan memberi arah bagi masa depan. (*)

Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

Exit mobile version