TAJDID.ID~Lubuk Pakam || Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Lubuk Pakam Pekan melaksanakan pengajian rutin dua mingguan yang dihadiri oleh pengurus, anggota, dan simpatisan PRM Lubuk Pakam Pekan. Kegiatan ini berlangsung pada Selasa, 20 Januari 2026, ba’da Isya, bertempat di rumah Ahli Bait Ade Irfan, Komplek Perumahan Uncle Sam Tanjung Asri 7 Nomor B03, Jalan Sempurna/Gang Buntu, Desa Sekip.
Pengajian kali ini menghadirkan penceramah Ustadz Fakhruddin AR Manurung, MA, yang menyampaikan tausyiah tentang hikmah di balik peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW.
Dalam pengantarnya, Ustadz Fakhruddin mengawali ceramah dengan mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Al-Isra’ ayat 1 serta Surat An-Najm ayat 1–19 yang mengisahkan perjalanan agung Isra’ dan Mi’raj Rasulullah SAW. Ia kemudian memaparkan secara runtut kronologis peristiwa tersebut, mulai dari perjalanan Isra’ Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha sebagaimana disebutkan dalam Surat Al-Isra’, hingga peristiwa Mi’raj yang termaktub dalam Surat An-Najm.
Ustadz Fakhruddin menegaskan bahwa Isra’ Mi’raj merupakan peristiwa yang sangat penting dalam sejarah Islam dan sarat dengan pelajaran bagi umat. Ia juga menjelaskan sikap Muhammadiyah dalam memaknai Isra’ Mi’raj. Menurutnya, dalam Persyarikatan Muhammadiyah, setiap kegiatan keagamaan tidak pernah dipersoalkan. Kendati tidak merayakan Isra’ Mi’raj secara seremonial khusus, warga Muhammadiyah tetap meyakini bahwa peristiwa tersebut adalah peristiwa istimewa yang penuh dengan hikmah dan pelajaran.
Lebih lanjut, Ustadz Fakhruddin memaparkan sejumlah hikmah utama dari peristiwa Isra’ Mi’raj.
Pertama, Nabi Muhammad SAW dalam perjalanannya bergerak dari masjid ke masjid. Hal ini, menurutnya, mengandung pesan bahwa pusat peradaban Islam adalah masjid. Oleh karena itu, umat Islam dituntut untuk kembali memakmurkan masjid dan menjadikannya sebagai pusat pembinaan umat.
Kedua, peristiwa Isra’ Mi’raj menjadi bukti bahwa ilmu dan kekuasaan Allah SWT tidak tertandingi. Perjalanan yang secara logika manusia memerlukan waktu berbulan-bulan, dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, ditempuh Rasulullah SAW hanya dalam satu malam. Saat peristiwa ini disampaikan Rasulullah kepada kaum Quraisy, banyak yang menyangkal dan menuduh beliau menyebarkan kebohongan. Dari sini, Ustadz Fakhruddin menekankan bahwa tidak semua hal harus diukur dengan rasionalitas semata, melainkan disikapi dengan keimanan yang kokoh.
Ketiga, sebelum peristiwa Isra’ Mi’raj, Rasulullah SAW mengalami masa yang sangat berat dengan wafatnya istri tercinta Siti Khadijah RA dan paman beliau Abu Thalib, sosok yang setia melindungi dan mendampingi Nabi hingga akhir hayatnya. Isra’ Mi’raj, lanjutnya, merupakan bentuk penghiburan (tasliyah) dari Allah SWT kepada Rasulullah, sekaligus menjadi ujian loyalitas keimanan bagi para pengikutnya.
Keempat, setelah peristiwa Isra’ Mi’raj, dakwah Islam semakin bergairah dan berkembang pesat, khususnya di Madinah. Hal ini menunjukkan bahwa ujian dan kesulitan sering kali menjadi pintu bagi kebangkitan dan kemajuan dakwah.
Kelima, salah satu misi utama Isra’ Mi’raj adalah penjemputan perintah shalat wajib lima waktu dalam sehari semalam. Dari perintah ini, Ustadz Fakhruddin menegaskan pentingnya menjadikan shalat sebagai prioritas utama dalam kehidupan pribadi dan keluarga. Ia mengajak jamaah untuk menunaikan shalat wajib lima waktu, melaksanakannya di awal waktu, mengupayakan shalat berjamaah di masjid, serta menjadikan shalat sebagai ibadah yang berdampak pada kehidupan sosial.
Pengajian rutin ini berlangsung dengan khidmat dan mendapat antusiasme jamaah. Melalui kegiatan ini, PRM Lubuk Pakam Pekan berharap nilai-nilai spiritual dan sosial dari peristiwa Isra’ Mi’raj dapat terus diinternalisasi dalam kehidupan bermasyarakat dan berpersyarikatan. (*)

