Site icon TAJDID.ID

Ismail Fahmi Ungkap Efek Streisand: Usai Dilaporkan, “Mens Rea” Pandji Justru Meledak di Mesin Pencari

TAJDID.ID~Medan || Pelaporan karya stand-up comedy Mens Rea ke aparat penegak hukum justru memicu lonjakan atensi publik. Alih-alih meredam pengaruh, langkah hukum tersebut memperluas jangkauan diskursus dan menjadikan *Mens Rea* topik nasional lintas platform digital.

Pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi, menilai fenomena ini sebagai contoh klasik Efek Streisand dalam komunikasi publik, yakni kondisi ketika upaya membungkam suatu konten justru membuatnya semakin dikenal luas.

“Begitu masuk ke ranah hukum, algoritma media sosial dan mesin pencari langsung merespons. Kontroversi hukum jauh lebih ‘menjual’ dibandingkan konten hiburan biasa,” tulis Ismail Fahmi di laman Facebook pribadinya, Jumat (10/1).

 

Lonjakan Pencarian Usai Pelaporan

Berdasarkan pemantauan Drone Emprit dan data Google Trends, kata Ismail, volume pencarian kata kunci Mens Rea mengalami kenaikan signifikan setelah pelaporan yang dilakukan pada 8 Januari.

“Sebelum pelaporan, indeks pencarian berada di kisaran rendah hingga menengah, sekitar 15–40 poin. Setelah pelaporan, melonjak hingga di atas 50 poin. Bahkan lebih tinggi dibanding saat isu ini ramai dibicarakan setelah tayang di Netflix,” jelasnya.

Menurut Ismail, data tersebut menunjukkan perubahan motivasi publik. Jika sebelumnya orang mencari Mens Rea karena faktor hiburan, pasca pelaporan publik terdorong oleh rasa ingin tahu terhadap substansi kritik yang dianggap bermasalah secara hukum.

“Pertanyaannya bergeser dari ‘lucu atau tidak’ menjadi ‘sebenarnya apa yang dikritik sampai dilaporkan?’,” ujarnya.

Dari Komedi ke Simbol Kritik Kekuasaan

Ismail menilai pelaporan tersebut juga menggeser framing publik terhadap Mens Rea. Karya yang semula diposisikan sebagai pertunjukan komedi satir, berubah menjadi simbol perdebatan kebebasan berekspresi dan relasi negara dengan warga.

“Begitu seni diperlakukan sebagai objek kriminalisasi, ia berhenti menjadi hiburan. Ia berubah menjadi artefak politik-budaya,” kata Ismail.

Perubahan frame ini, lanjutnya, membuat Mens Rea memperoleh bobot simbolik yang lebih besar di ruang publik digital.

Efek Martir dan Simpati Publik

Ismail juga menyoroti munculnya apa yang ia sebut sebagai efek martyrdom. Relasi yang timpang antara seorang komedian dengan aparat hukum serta klaim representasi ormas besar, memicu simpati publik digital.

“Dalam psikologi media sosial, publik cenderung bersimpati pada pihak yang tampak lebih lemah, apalagi jika isu menyentuh kebebasan berpendapat,” ungkapnya.

Situasi ini semakin menguat setelah pernyataan Anwar Abbas dari PP Muhammadiyah yang menegaskan bahwa kritik seharusnya disikapi dengan dialog, bukan kriminalisasi.

“Pernyataan elite ormas yang tidak mengafirmasi pelaporan itu secara tidak langsung mendelegitimasi klaim moral pelapor. Dampaknya, Mens Rea justru mendapatkan validasi etis,” kata Ismail.

Algoritma Memperbesar Kontroversi

Menurut Ismail, kontroversi hukum memiliki daya sebar algoritmik yang tinggi. Media daring, podcast, talkshow, hingga konten pendek di media sosial memproduksi ulang isu tersebut dalam berbagai format.

“Interaksi pro–kontra menghasilkan engagement tinggi. Algoritma membaca ini sebagai konten bernilai untuk disebarkan lebih luas,” jelasnya.

Akibatnya, nama Mens Rea menjangkau audiens baru, termasuk mereka yang sebelumnya tidak pernah menonton stand-up comedy.

 

Dampak Jangka Panjang

Ismail memprediksi, dalam jangka menengah hingga panjang, Mens Rea akan terus dirujuk dalam diskursus kebebasan berekspresi di Indonesia.

“Kasus ini berpotensi menjadi referensi setiap kali seni, kritik, dan pasal pidana saling bersinggungan,” ujarnya.

Ia juga menilai peristiwa ini memberi pelajaran penting bagi institusi dan aktor sosial.

“Di era digital, kriminalisasi kritik sering kali bukan akhir cerita. Justru ia menjadi titik awal amplifikasi,” pungkas Ismail Fahmi.

***

Mens Rea adalah spesial stand-up comedy milik Pandji Pragiwaksono yang baru-baru ini meraih popularitas yang luar biasa setelah tayang di Netflix pada 27 Desember 2025.

Hingga 5 Januari 2026, tayangan ini menjadi yang paling populer di kategori TV Shows di Netflix Indonesia, mengalahkan beberapa tayangan internasional ternama.

Meskipun Mens Rea berhasil mendapatkan popularitas tinggi, materi yang dibawakan Pandji dalam pertunjukan ini juga memicu kontroversi.

Pandji Pragiwaksono dilaporkan ke Polda Metro Jaya pada Rabu (7/1/2026), oleh Angkatan Muda Nahdlatul Ulama (NU) dan Aliansi Muda Muhammadiyah dengan dugaan pencemaran nama baik.

Kabarnya, laporan tersebut menyoroti beberapa bagian materi yang dianggap menghina dan menimbulkan kegaduhan. (*)

 

 

Exit mobile version