Site icon TAJDID.ID

Ketika Iman Menguatkan Logika, Mugeb Berjaya di Robotika Dunia

TAJDID.ID~Semarang || Sorak sorai memecah keheningan Auditorium 2 Kampus 3 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, Semarang. Di antara ratusan pasang mata yang menatap panggung, beberapa anak berseragam sekolah dasar saling berpelukan. Senyum mereka mengembang, medali menggantung di leher, dan rasa bangga terpancar jelas. Nama SD Muhammadiyah GKB (Mugeb) Gresik baru saja diumumkan sebagai juara tiga di dua kategori dalam ajang International Islamic School Robot Olympiad (IISRO) 2025.

Ajang bergengsi yang berlangsung selama tiga hari, 22–24 Desember 2025, itu mempertemukan siswa-siswa terbaik dari sekolah Islam berbagai daerah. Mengusung tema “Together in Faith and Achievement”, IISRO 2025 menjadi ruang perjumpaan antara keteguhan iman dan kecanggihan teknologi. Di sinilah para inovator muda diuji—bukan hanya kecerdasan logika dan keterampilan teknis, tetapi juga ketenangan, kejujuran, dan nilai-nilai karakter.

Mugeb Gresik mengirimkan dua tim dari ekstrakurikuler Robotik Bina Prestasi. Di bawah pendampingan pembina Muchamad Rahmadhony, dua kategori diikuti dengan penuh kesungguhan. Tim Maze Solving First Step diperkuat oleh Bimo Arsenio Raditya, Arkan Naufal Assajid, dan Arrasy Zaidan Hernawan. Sementara kategori Robot Gathering First Step U12 diwakili Athaillah Adam Ar Rayyan, Arliyandra Kenzie Alkhalifi, dan Muhammad Alvaro Alviandra.

Perjalanan menuju panggung juara tidak ditempuh dalam semalam. Sejak Oktober 2025, anak-anak ini telah memulai riset dan latihan dasar. Memasuki November, intensitas latihan meningkat tajam. Setiap hari mereka mengasah logika pemrograman, merangkai komponen, memperbaiki kesalahan, lalu mencoba kembali—berulang kali. Di sela-sela itu, doa dan dukungan orang tua tak pernah putus.

 

Dukungan Orangtua

Dukungan tersebut terasa nyata saat perlombaan berlangsung. Dari tribun atas, para orang tua setia mendampingi, menyemangati, dan mengingatkan anak-anak agar tetap fokus menghadapi rintangan di lintasan lomba. Suasana kompetisi yang menegangkan seolah luluh oleh keyakinan bahwa usaha yang disertai doa tidak akan sia-sia. “Saya sudah terbiasa mengoperasikan komputer di rumah karena ayah dan kakak juga menyukai ilmu komputer,” tutur Bimo Arsenio Raditya, Ketua Tim Maze Solving. Kedekatannya dengan dunia teknologi sejak dini membuatnya lebih tenang saat harus memprogram robot di bawah tekanan waktu dan sorotan juri.

Di kategori Robot Gathering, tantangan terletak pada ketelitian dan kecepatan. Robot harus mampu mengambil objek dan meletakkannya secara presisi di titik tertentu. Waktu menjadi musuh utama. “Selesainya sangat mepet. Kami hanya punya waktu satu jam tiga puluh menit untuk memprogram robotnya,” kenang salah satu anggota tim. Ketegangan di area pit terasa begitu nyata, namun mereka berhasil menyelesaikan tantangan hingga akhir.

Sementara itu, kategori Maze Solving menuntut robot menavigasi labirin dan menabrak target tertentu dengan cepat. Konsistensi menjadi kunci. Kedua tim Mugeb tampil stabil hingga akhirnya pengumuman juara dibacakan. Saat nama SD Muhammadiyah GKB disebut sebagai peraih juara tiga di dua kategori, auditorium pun bergemuruh. Usaha panjang yang dirintis selama berbulan-bulan terbayar lunas.

Usai turun dari panggung, semangat para siswa justru semakin menyala. Mereka segera menghampiri pembina yang akrab disapa Tony, menyampaikan rasa syukur sekaligus harapan. Dengan mata berbinar, mereka menyatakan kesiapan untuk melangkah lebih jauh—mengikuti kompetisi robotik berikutnya yang direncanakan akan digelar di Malaysia tahun depan. “Alhamdulillah, anak-anak berhasil meraih juara pada kesempatan pertama mereka mengikuti kompetisi robotik,” ungkap Muchamad Rahmadhony.

Ia berharap capaian ini menjadi pemantik semangat untuk terus berlatih dan mempersiapkan diri menghadapi ajang yang lebih besar.

Bagi Mugeb, kemenangan ini bukan sekadar soal piala dan medali. Ini adalah bukti bahwa ketika iman menguatkan logika, anak-anak mampu melangkah percaya diri di dunia teknologi global. Dari ruang latihan sederhana hingga panggung internasional, mereka belajar bahwa ilmu, karakter, dan keyakinan dapat berjalan beriringan. Kini, pandangan mereka menatap masa depan—menyongsong tantangan robotika dunia dengan doa dan tekad yang lebih besar. (*)

 

Penulis: Sayyidah Nuriyah 

Exit mobile version