No Result
View All Result
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
SAVED POSTS
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
TAJDID.ID
No Result
View All Result

Ayah dan Rapor Anak: Refleksi atas Peran yang Kerap Terabaikan

19 Desember 2025
in Daerah, Muhammadiyah, Opini
Reading Time: 3 mins read
0
A A
0
Foto ilustrasi.

Foto ilustrasi.

Share on Facebook
Share on Twitter

Oleh: Miftah Fariz, S.Sos.I., S.Pd.I., M.A.

Dosen UMSU/Sekretaris Majelis Dikdasmen dan PNF PWM Sumut

 

Setiap akhir semester, sekolah-sekolah kembali menjadi ruang pertemuan antara orang tua dan guru melalui agenda pembagian rapor. Namun, ada satu pola yang hampir selalu berulang: kehadiran didominasi oleh para ibu, sementara ayah relatif jarang terlihat. Situasi ini tidak lagi sekadar fenomena kebetulan, melainkan cerminan cara pandang yang telah lama mengakar dalam praktik pengasuhan dan pendidikan keluarga.

Rapor sering dipersepsikan sebagai urusan administratif sekolah atau tanggung jawab ibu semata. Padahal, dokumen tersebut memuat gambaran menyeluruh tentang perkembangan akademik, sikap, kedisiplinan, dan proses belajar anak. Dengan demikian, rapor seharusnya menjadi perhatian bersama kedua orang tua, termasuk ayah.

Rapor sebagai Instrumen Evaluasi Pendidikan

Nilai-nilai yang tercantum dalam rapor bukan hanya angka, melainkan representasi dari proses pendidikan yang dijalani anak dalam satu periode tertentu. Di dalamnya terdapat catatan guru mengenai perilaku, kehadiran, serta kemampuan sosial anak di lingkungan sekolah. Ketika ayah melibatkan diri secara langsung, misalnya dengan mengambil rapor, keterlibatan tersebut memiliki makna simbolik dan substantif.

Bagi anak, kehadiran ayah di sekolah dapat menumbuhkan rasa dihargai dan diperhatikan. Anak memahami bahwa proses belajarnya mendapat perhatian serius, bukan hanya dari ibu dan guru, tetapi juga dari ayah sebagai figur penting dalam keluarga. Dampak psikologis semacam ini berkontribusi pada peningkatan motivasi dan kepercayaan diri anak dalam belajar.

Kesibukan dan Prioritas yang Dipertanyakan

Alasan yang paling sering dikemukakan oleh ayah terkait ketidakhadiran adalah kesibukan pekerjaan. Alasan ini tentu tidak sepenuhnya keliru, mengingat tuntutan ekonomi keluarga yang nyata. Namun, persoalan mendasarnya bukan semata-mata soal ketersediaan waktu, melainkan tentang penentuan prioritas.

Dalam banyak kasus, keterlibatan ayah justru muncul ketika anak menghadapi masalah serius, seperti penurunan prestasi atau pelanggaran disiplin. Padahal, keterlibatan sejak awal melalui komunikasi rutin dengan sekolah dan perhatian terhadap hasil belajar dapat menjadi langkah preventif yang efektif.

BACA JUGA

81 Tahun: Sudah Berapa Persen Merdeka Kita?

Seminar Kesejahteraan Ilmu PK IMM PAI UM Bandung: Generasi Progresif Islam Dimulai dari Guru Kreatif dan Berkualitas

Bupati Garut Dorong IPM Kuasai Literasi, Numerasi, dan Sains sebagai Modal Produktivitas Masa Depan

Medan Darurat Kejahatan Jalanan, Ethics of Care: Warga Harus Aman, Aparat Harus Tegas

Gantikan Akhyar, Sekda Jadi Orang Pertama yang Divaksin di Medan

Tiga Wakil Ketua PWM Jatim Perkuat Materi Raker PPI AMF Malang

Beban Asimetris dalam Pendidikan Anak

Ketidakhadiran ayah dalam urusan sekolah secara tidak langsung memperbesar beban yang harus ditanggung ibu. Selain menjalankan peran domestik dan mendampingi anak belajar di rumah, ibu juga menjadi satu-satunya pihak yang berinteraksi dengan guru dan pihak sekolah. Kondisi ini menciptakan ketimpangan peran dalam keluarga.

Keterlibatan ayah, meskipun dalam bentuk sederhana seperti mengambil rapor, dapat menjadi titik awal terciptanya pembagian tanggung jawab yang lebih seimbang. Pendidikan anak tidak lagi dipahami sebagai tugas individual, melainkan sebagai kerja kolektif dalam keluarga.
Kehadiran yang Bermakna

Perlu ditegaskan bahwa keterlibatan ayah tidak berhenti pada tindakan hadir secara fisik. Yang jauh lebih penting adalah sikap setelah rapor diterima. Membaca rapor secara cermat, mendiskusikan isinya dengan anak, serta menjadikannya sarana dialog yang konstruktif merupakan bentuk keterlibatan yang lebih substansial.

Pendekatan yang komunikatif dan tidak menghakimi akan membantu anak melihat rapor sebagai alat refleksi, bukan sebagai sumber tekanan. Dalam konteks ini, ayah berperan sebagai pendamping yang mendorong perbaikan, bukan sekadar penilai hasil akhir.

Kontribusi Lingkungan Sekolah

Sekolah juga memiliki peran strategis dalam mendorong keterlibatan ayah. Undangan resmi yang menyebut peran ayah dan ibu secara eksplisit, pengaturan waktu yang lebih fleksibel, serta komunikasi yang inklusif dapat menjadi pemicu tumbuhnya kesadaran kolektif akan pentingnya peran ayah dalam pendidikan.
Meski demikian, keputusan akhir tetap berada pada individu. Apakah ayah memilih untuk tetap berada di pinggir proses pendidikan anak, atau mulai mengambil peran lebih aktif sebagai bagian dari perjalanan belajar tersebut.

Langkah Sederhana dengan Dampak Jangka Panjang

Keterlibatan ayah dalam pengambilan rapor mungkin tampak sebagai tindakan kecil. Namun, dari langkah sederhana inilah relasi yang lebih dekat antara ayah dan anak dapat terbangun. Percakapan yang lahir dari rapor dapat membuka ruang kepercayaan, memperkuat ikatan emosional, dan membentuk pola komunikasi yang sehat dalam keluarga.

Jika tujuan pendidikan adalah membentuk generasi yang bertanggung jawab, percaya diri, dan merasa didukung, maka keterlibatan ayah sejak dini merupakan kebutuhan, bukan pilihan. Pertanyaan yang kemudian patut diajukan bukan lagi apakah ayah sempat, melainkan sejauh mana ayah bersedia hadir secara utuh dalam pendidikan anaknya. (*)

Tags: Miftah Fariz
Mujaddid

Mujaddid

Editor in chief

Konten Terkait

No Content Available

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

  • Qori Internasional UMSU Daud Sitorus Wakili Indonesia di Kroasia
  • Wabup Sergai Serahkan 1.036 Paket Perlengkapan Sekolah di Kompleks Perguruan Muhammadiyah Sei Rampah
  • Perkuat Tim Liputan Muktamar 49, MPI PWM dan PW IPM Sumut Sepakat Gelar Akademi Jurnalis Muda
  • IMM Kota Medan Apresiasi Langkah Cepat KPPG Medan Donal Simanjuntak Tinjau Korban Erupsi Sinabung
  • Membanggakan, Dosen UMJT Madiun Raih Peserta Terbaik Praktik Mengajar Program PEKERTI Kemendikti Saintek
  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

OPINI

Konten Kreator ‘Parmitu’
Daerah

Konten Kreator ‘Parmitu’

Jangan Biarkan Nias Sendirian: PW Muhammadiyah Sumut Wajib Turun Membangun SDM
Daerah

Jangan Biarkan Nias Sendirian: PW Muhammadiyah Sumut Wajib Turun Membangun SDM

Wujudkan Kemandirian Ekonomi Daerah: Pemda Gali Potensi Pengelolaan Usaha Daerah
Daerah

Wujudkan Kemandirian Ekonomi Daerah: Pemda Gali Potensi Pengelolaan Usaha Daerah

Bingkisan Usaha Kecil, Semangat Besar: UMKM Serdang Bedagai Menyambut Muktamar 49
Daerah

Bingkisan Usaha Kecil, Semangat Besar: UMKM Serdang Bedagai Menyambut Muktamar 49

Stop Ekstraksi Modal! Saatnya Bank Wajib Pihaki Ekonomi Daerah
Daerah

Stop Ekstraksi Modal! Saatnya Bank Wajib Pihaki Ekonomi Daerah

Ekonomi Umat Tanpa Dominasi Hulu Tak Berdaulat
Islam

Ekonomi Umat Tanpa Dominasi Hulu Tak Berdaulat

TAJDID.ID

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.