TAJDID.ID || Di tengah hiruk pikuk klaim kemewahan yang sering melekat pada tokoh-tokoh agama, muncul sebuah potret kontras yang menyejukkan, KH. Drs. Abdul Hakam Mubarok, Lc., MA.
Beliau adalah Pimpinan Pondok Pesantren Muhammadiyah Karangasem, Paciran, Lamongan, sebuah kompleks amal usaha yang asetnya ditaksir mencapai angka fantastis. Mulai dari jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga Perguruan Tinggi (STAI Muhammadiyah Paciran), Rumah Sakit, Klinik, bahkan Biro Haji dan Umrah, semuanya berada di bawah naungan kepemimpinannya.
Namun, di balik pengelolaan kekayaan organisasi yang masif ini, tersimpan sebuah gaya hidup yang jauh dari kata gemerlap.
Kesederhanaan di Jantung Hiruk Pikuk Kota
Pemandangan itu terjadi tepatnya Sabtu (29/11/2025) saat beliau memimpin langsung rombongan studi kampus STAI Muhammadiyah Paciran ke Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).
Pagi itu, di tengah lalu lalang kendaraan yang memadati jalanan, tak ada karpet merah, tak ada pengawalan ketat, bahkan tak ada meja makan khusus. KH. Abdul Hakam Mubarok dengan santainya terlihat duduk di pinggir jalan sebagaimana masyarakat biasa, di sampingnya ada beberapa dosen STAIM, beliau menikmati sarapan paginya.
Momen ini menjadi sebuah tamparan lembut bagi siapa pun yang menganggap jabatan tinggi harus diikuti dengan privilese dan kemewahan. Sosok seorang kiai, yang di mata sebagian kalangan dihormati bak raja, justru memilih untuk membumi dan menyatu dengan kesahajaan.
Ciri Khas Pimpinan Muhammadiyah: Aset Besar, Hidup Sederhana
Kisah Kiai Barok seolah menjadi penegasan atas sebuah filosofi yang lama dipegang teguh oleh Persyarikatan Muhammadiyah.
Hal ini diungkapkan oleh Kang Dedi Mulyadi (Gubernur Jawa Barat saat itu) dalam peringatan Milad ke-113 Muhammadiyah. Beliau dengan lugas mengatakan; “Ciri khas Pimpinan Muhammadiyah adalah, asetnya banyak, tapi pimpinannya hidup sederhana.”
Muhammadiyah, dengan ratusan rumah sakit, ribuan sekolah, dan puluhan perguruan tinggi yang megah, telah membuktikan bahwa kemapanan sistem tidak harus linier dengan kemewahan pribadi pemimpinnya.
Aset yang besar diarahkan untuk kemaslahatan umat pendidikan, kesehatan, dan dakwah bukan untuk memperkaya individu.
KH. Abdul Hakam Mubarok adalah representasi nyata dari etos ini. Ia adalah salah satu contoh seorang pemimpin yang berhasil memisahkan antara kekayaan institusi dengan kebutuhan pribadinya. Baginya, tugas mengurus umat adalah sebuah amanah, bukan peluang untuk mengejar kenikmatan duniawi.
Di tengah godaan harta dan kekuasaan, potret Kiai Barok yang sarapan di pinggir jalan menjadi pengingat yang indah: Kekayaan sejati seorang pemimpin bukan terletak pada harta yang ia miliki, melainkan pada ketulusan dan kesederhanaan yang ia jalani. (*)
✒️ Iwan Abdul Gani

