Oleh: Jufri
Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi
Tiap tahun bahkan mungkin lebih, kita mengalami situasi yang sulit, karena alam kita sudah dirusak secara besar-besaran .
Sumbar, Sumut dan Aceh akan mengalami situasi yang sulit setiap tahun .
Biaya untuk pemulihan sangat besar, dan belum lagi pulih bencana itu datang lagi. Contohnya Lembah Anai di Sumatera Barat, tahun lalu baru saja kena bencana dan jalanya di perbaiki cukup panjang, dan sekarang hanya setahun jalan itu kembali rusak oleh bencana alam .
Sumut dan Aceh juga mengalami hal yang sama , sekarang kondisinya semakin buruk karena terlalu sering terjadi bencana alam yang merusak infrastruktur, terutama jalan dan jembatan.
Kerusakan alam kita menyumbang sangat besar terhadap penderitaan kita. Tentu saja kita yang saya maksud adalah rakyat kecil. Sementara, mereka yang menjadi penyebab dan penikmat mungkin saja sekarang berperan sebagai pihak yang peduli karena kemampuan keuangan mereka, tapi alam akan terus menyebabkan bencana .
Bayangkan hutan kita hilang signifikan selama beberapa tahun ini. Padahal hutan kita adalah paru-paru dunia, sekarang menjadi hutan yang rusak . Kerusakannya berimplikasi kepada perubahan iklim dan struktur alam itu sendiri.
Saya punya sahabat dan keluarga di tiga provinsi terdampak, dan saya sendiri sering berkeliling di tiga provinsinya itu. Tahun ini banyak laporan dari mereka yang menyebutkan bahwa bencana tahun ini sangat besar, banyak daerah yang selam ini belum pernah kena banjir, sekarang kena banjir. Bisa saja alasannya karena adanya badai senyar, tapi jika alam kita masih bagus , pastilah mampu memperkecil dampaknya. Sebab alam adalah perisai terbaik.
Sekarang kalau kita berkendara sepanjang pantai timur, bahkan pantai barat kebun sawit banyak sekali, udara lebih panas dari biasanya. Ketika musim panas sungai-sungai mengering dan gersang, tapi begitu musim hujan, sungai meluap dan bercampur lumpur. Pasti banyak hal negatif terjadi terhadap tanah itu sendiri.
Ke depan kita harus siap dengan situasi-situasi tak terduga lainnya, alam terus tidak mau lagi bersahabat dengan manusia, karena manusia memperlakukan alam dengan sangat kejam dan takus, akibatnya akan kembali kepada kita semua. Celakanya, para perusak itu kaya raya, jadi pengusaha dan penguasa . Mereka menari dan berpesta diatas penderitaan begitu banyak manusia yang menderita.
Ketika kita berdoa kepada Tuhan, doa kita seakan tertolak, karena bencana makin sering terjadi. Padahal bukan doa kita yang ditolak, tapi doa kita kalah dengan situasi dan fakta alam yang telah tidak mampu lagi melayani kerakusan sebagian dari kita.
Alam tidak pernah marah kepada manusia, alam hanya mengikuti alur yang dibuat manusia sendiri. Dalam hal ini Tuhan sudah katakan bahwa terjadinya kerusakan di darat dan di laut adalah akibat ulah tangan manusia itu sendiri.
Selagi regulasi bisa ditukangi bahkan disiapkan untuk merusak alam ini , dan penegakan hukum hanya sandiwara belaka , maka alam akan terus memberikan hukuman kepada kita semua. Lagi-lagi masyarakat yang tak berdaya yang makin menderita. (*)
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

