No Result
View All Result
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
SAVED POSTS
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • Jufri Daily
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Nukilan
    • Celotehan
    • Kiat
    • Ringan
  • Jepretan
    • Foto
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
TAJDID.ID
No Result
View All Result

Bero(n)tak

20 Agustus 2025
in Nasional, Opini, Tilikan
Reading Time: 3 mins read
0
A A
0
Foto ilustrasi.

Foto ilustrasi.

Share on Facebook
Share on Twitter

Oleh: M. Risfan Sihaloho

Pemred TAJDID.ID

 

Belakangan ini ada fenomena anomali yang cukup dominan mencoraki kehidupan berbangsa dan bernegara kita, yakni maraknya muncul perilaku kontroversial — bertolak belakang dengan akal sehat — yang dipertontonkan oleh elit penguasa. Berbarengan dengan itu, fakta-fakta kezaliman dan ketidakadilan juga sedemikian telanjang hadir di depan mata, terjadi berulang-ulang, hingga kadang terasa jadi rutinitas pahit bangsa ini.

Bangsa ini sering kali dibuat seolah-olah lupa cara berpikir waras. Seakan-akan wajar ketika rakyat kecil harus antre bantuan beras, sementara pejabatnya bisa pesta pora dengan gaya hidup super hedon. Seakan wajar ketika gaji DPR dinaikkan dengan alasan “tugas berat”, sementara guru honorer masih digaji di bawah upah minimum.

Baca juga: Ketika yang Lemah Melawan

Puncaknya, kita bisa lihat di kasus Bupati Pati. Bayangkan, seorang pemimpin daerah bisa dengan pongah menantang rakyatnya sendiri, seolah rakyat hanyalah beban, bukan pemilik sah kedaulatan. Itu bukan sekadar arogansi, itu penghinaan terhadap akal sehat publik. Dan di titik inilah, rakyat memang berhak — bahkan wajib — “membangkang”.

BACA JUGA

Muhammadiyah Kirim EMT Nasional ke Mamuju

AJI Indonesia: Peretasan dan Serangan Disinformasi terhadap Akun Medsos Sasmito Madrim adalah Ancaman Serius bagi Kebebasan Pers

LLHPB PP ‘Aisyiyah Jaring Masukan Terkait Penyusunan Modul Lingkungan

Rakornas ke-XI APPPTMA, Mahasiswa Pascasarjana UMSU Raih Best Paper dan Best Presenter

Bahas Pemilu 2024, Politisi Demokrat Sindir Bahlil Lahadalia

Gila Berkuasa

Sebelumnya, beberapa waktu yang lalu fenomena “pembangkangan” rakyat juga sempat muncul dalam corak yang lebih soft namun terasa begitu menohok, yakni viralnya tagar “IndonesiaGelap” dan “KaburAjaDulu”. Walaupun cuma dalam bentuk hastag di media sosial, ternyata pola protes publik itu cukup membuat pemerintah merasa tersudutkan dan gerah.

Baca juga: Otoritarianisme: Ketika Kekuasaan Berhenti Mendengar, Rakyat Berhenti Bersuara

Belum lama ini, jelang HUT RI ke 80 juga muncul gerakan “pembangkangan” dalam bentuk lain, dengan pola yang lebih simbolik dan satir. Tiba-tiba satu pemandangan tak biasa ikut menyita perhatian publik: berkibarnya bendera “One Piece”, lengkap dengan lambang tengkorak khas bajak laut, di samping bendera kebangsaan Indonesia.Fenomena ini viral di media sosial. Foto dan video bendera One Piece—yang dikenal dengan lambang Jolly Roger milik kru Topi Jerami pimpinan Monkey D. Luffy—berkibar berdampingan dengan bendera merah-putih, memicu beragam reaksi, dari gelak tawa, kekaguman, hingga kritik dan kekhawatiran soal nasionalisme generasi muda.

Mengapa Rakyat Harus Melawan?

Sejarah membuktikan: setiap kekuasaan yang dibiarkan sewenang-wenang, pada akhirnya akan merampas lebih banyak hak rakyat. Diam adalah pupuk bagi tirani. Membiarkan berarti menyalakan karpet merah untuk kesewenang-wenangan berikutnya.

Secara akal-sehat dan nalar waras, sesungguhnya tidak ada lagi alasan buat rakyat untuk terus diam, memaklumi, dan menutup mata.

Maka, melawan bukan sekadar pilihan emosional, tapi logika akal sehat. Ketika hukum seringkali tunduk pada mereka yang berkuasa, rakyat tidak boleh lagi menunggu “keadilan turun dari langit”. Rakyat harus menjemput keadilan itu sendiri.

 

Perlawanan yang Cerdas dan Beradab

Namun, perlu diingat,sesungguhnya melawan tidak harus selalu berarti baku hantam, apalagi anarki. Ada banyak bentuk perlawanan cerdas dan beradab yang bisa dilakukan rakyat:

Misalnya, perlawanan dengan mengintensifkan “Gerakan Informasi Publik”. Pola ini efektif membongkar kebusukan kekuasaan lewat media sosial, media alternatif, dan kanal rakyat. Melawan propaganda dengan fakta, melawan citra dengan data.

Kemudian perlawanan “Gerakan Boikot Politik dan Ekonomi”. Caranya, jangan pilih partai, tokoh, atau kelompok yang jelas-jelas melukai rakyat. Jangan beli, jangan dukung, jangan lirik produk dan kebijakan yang lahir dari keserakahan elit.

Baca juga: Suara (Hati) Rakyat

Selanjutnya, perlawanan juga bisa ditegaskan melalui “Konsolidasi Rakyat”. Caranya, bentuk komunitas solidaritas rakyat, dari tingkat desa sampai kota. Jangan biarkan perlawanan berlangsung sendirian, sebab suara rakyat yang bersatu jauh lebih keras daripada teriakan pejabat di podium.

Terakhir, perlawanan melalui “Tekanan Konstitusional”. Jika perlu lakukan aksi demonstrasi damai, petisi, hingga gugatan hukum. Perlawanan yang cerdas adalah yang menekan negara dengan instrumen yang sah, sehingga rakyat tak bisa lagi diremehkan dengan tuduhan “preman politik”.

 

Karena Berotak, Makanya Berontak

Satu hal yang perlu senantiasa ditegaskan dan ingatkan kepada pemangku kekuasaan, bahwa sesungguhnya resistensi rakyat itu tidak lahir dari kebencian buta, melainkan dari cinta yang kritis. Ya, cinta tulus terhadap bangsa ini agar tidak terus-menerus ditipu oleh penguasa yang hanya pandai berkata “demi rakyat”, padahal di benaknya cuma “demi kekuasaan”.

Karena itu, jika kita masih punya otak, mari gunakan. Jika masih punya hati, mari resapi. Jika masih punya nalar waras, mari kobarkan perlawanan. Sebab diam di tengah ketidakadilan bukanlah kebajikan, melainkan pengkhianatan terhadap masa depan bangsa.

Dan ingat, mengaku berotak tanpa berontak di tengah kepungan anomali dan ketidakwarasan ini hanyalah bentuk kepengecutan yang dibungkus kepatuhan. (*)

Tags: BerontakotakPembangkanganPembangkangan RakyatPerlawananPerlawanan Rakyat
Mujaddid

Mujaddid

Editor in chief

Konten Terkait

Kondisi Otak Saat Shalat (Sebuah Analisis Ilmiah)
Keislaman

Kondisi Otak Saat Shalat (Sebuah Analisis Ilmiah)

by Mujaddid
8 Agustus 2023
1.6k
Drama Satu Babak
Nukilan

Drama Satu Babak

by Mujaddid
2 April 2021
666

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

  • Orang Lucu Bicara Serius: Sore-Sore dari Pak Zai
  • Siswa SMP Muhammadiyah 2 Yogyakarta Juara 1 Nasional ISPO 2026 Lewat Sistem IoT Penyiraman Cabai
  • Ekstrakurikuler Karawitan SMK Muhammadiyah 1 Wonosobo Latih Ibu-Ibu Sekolah Lansia, Perkuat Pelestarian Budaya dan Kepedulian Antargenerasi
  • Perkuat Pengabdian kepada Masyarakat, SPs UMSU Gelar Bazar UMKM, Donor Darah, dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis
  • Kuliah Umum SPs UMSU Hadirkan Pemprov Sumut, Bahas Digitalisasi UMKM dan Ekonomi Kreatif
  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

OPINI

Orang Lucu Bicara Serius: Sore-Sore  dari Pak Zai
Jufri Daily

Orang Lucu Bicara Serius: Sore-Sore dari Pak Zai

Kepemimpinan Muhammadiyah dan Masa Depan Persyarikatan
Jufri Daily

Kepemimpinan Muhammadiyah dan Masa Depan Persyarikatan

Tantangan Dakwah Islam Abad Kontemporer Era Digital
Islam

Tantangan Dakwah Islam Abad Kontemporer Era Digital

Rocky Gerung Masuk Istana, Masihkah Suaranya Segarang Dulu?
Nasional

Rocky Gerung Masuk Istana, Masihkah Suaranya Segarang Dulu?

Pertanyaan Hakim dan Pertanyaan Munkar-Nakir
Jufri Daily

Pertanyaan Hakim dan Pertanyaan Munkar-Nakir

Sang Surya di Horison Pesisir: Dakwah Muhammadiyah Berbasis Pemberdayaan Ekonomi Bahari
AUM

Sang Surya di Horison Pesisir: Dakwah Muhammadiyah Berbasis Pemberdayaan Ekonomi Bahari

TAJDID.ID

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • Jufri Daily
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Nukilan
    • Celotehan
    • Kiat
    • Ringan
  • Jepretan
    • Foto

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.