Ibu dan Sebuah Ejaan
Lisanku tak pandai mengeja abjad
Lisanku tak pandai menyebut nama indahmu
Lisanku hanya pandai merengek
Memanggilmu dengan sebuah TandaKau pun hadir menuntunku
Mengeja huruf demi huruf
agar fasih memanggilmu
menyebut nama indahmu
dalam setiap hari-harikuBu,
Kini lisanku mampu menyebut nama indahmu
Dengan ejaan-ejaan yang selalu kau sempurnakan dulu
Tapi, kenapa? Lisanku selalu lalai
Menyebut namamu dalam setiap doaku
Maafkan, Anakmu Bu?
Karanganyar, 28 Agustus 2025
Ibu Menjelang Sore
Ketika suara jangkrik menghiasi waktu sore
Kau tutup kaca jendela, pintu rumah,
Kau nyalakan lampu neon 5 watt
Kau sajikan sayur, nasi, hingga gorengan ikan
Semua beradu di meja makan
Untuk di santap para tuannya
Kau buka obrolan tentang keluarga
menyelami masa kecilmu dulu
Hidup di sebuah gubug, makan nasi jagung
Begitu bahagianya saat itu, ceritamu.
Kini di meja makan hanya ada aku dan kau, ibu!
Kita berdua bercerita tentang sebuah kehilangan
Cerita yang selalu kau ulang-ulang ketika di meja makan
Aku tahu betapa beratnya kehilangan
Tapi itukan takdir! Kataku menjelam menjadi malaikat
Matamu sendu menatap nanar wajahku
Kau berkelit tentang narasi di meja makanDan kau bercakap tentang sebuah tanya
kenapa kehilangan itu tiba di saat menjelang sore?
Aku tergugu hilang pandangan karena ada pengalaman
Menjelang sore kau ditinggalkan kekasih hatimu.
Karanganyar, 28 Agustus 2025
Perlawanan Ibu Reformasi
Ibu-ibu berkalung sorban berjejer padat merayap
Di depan gedung DPR
Berteriak lantang tentang kemanusiaan
Menjerit lekit tentang penindasan
Tanpa senapan cukup dengan teriakan;Turunkan Harga Pangan!
Tangkap Koruptor!
Tangkap Penindas rakyat!Suara penuh kobaran api
Menjelma menjadi kekuatan perlawanan ibu reformasi
Tanpa senapan cukup suara lantang bermodalkan wajan
Mengaum menggema di serambi ibu pertiwiMasih adakah hati nurani di dalam diri mereka yang kaku
Bahagia dengan tiga juta per hari di atas penderitaan rakyat yang semakin pilu
Lupakah mereka dengan janji-janji manis tentang kepedulian
Seorang ibu reformasi berteriak tanpa jeda
Hingga menunggu kabar kapan mereka akan bubar
Karanganyar, 28 Agustus 2025
Bionarasi
Agus Yulianto. Penulis cerita pendek, cerita anak, puisi dan esai. Karya-karyanya dipublikasikan di media cetak dan media online. Penulis aktif sebagai guru. Selain itu juga bergiat di Forum Lingkar Pena (FLP).