No Result
View All Result
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
SAVED POSTS
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
TAJDID.ID
No Result
View All Result

Bangsa Pahlawan

10 November 2024
in Nasional, Opini, Tilikan
Reading Time: 4 mins read
0
A A
1
Ilustrasi.

Ilustrasi.

Share on Facebook
Share on Twitter

Oleh: M. Risfan Sihaloho


Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya

Ungkapan di atas disampaikan oleh Presiden pertama Indonesia Soekarno dalam pidatonya pada Peringatan Hari Pahlawan 10 November 1961 . Sebuah ungkapan yang sangat populer dan selalu dianggap relevan dikutip untuk jadi entry point di setiap perbincangan yang terkait dengan tema kepahlawanan.

Secara eksplisit, ungkapan tersebut menegaskan bahwa perihal menghargai jasa pahlawan adalah sebuah condition sine qua non, syarat mutlak bagi sebuah bangsa bila memang bangsa itu ingin menjadi sosok bangsa yang besar (the great nation).

Sebagai sebuah aforisma, tentunya ungkapan di atas bukan cuma sekedar untaian kata biasa. Galibnya, kita percaya sebuah pepatah itu pasti mengandung muatan pesan yang sarat dengan kearifan dan kebajikan. Cuma saja, masalahnya terkadang kita begitu naif dan tidak cukup cerdas untuk menangkap makna kontekstual dari pesan pepatah tersebut.

Adalah fakta yang tak terbantahkan, perihal menghargai pahlawan boleh jadi bangsa Indonesia adalah salah satu jagonya. Lebih dari seratus gelar Pahlawan Nasional telah disematkan kepada sosok yang dianggap berjasa sebagai pejuang bangsa di republik ini. Bahkan ada kecenderungan tiap tahun –setiap memperingati momentum Hari Pahlawan—daftar jumlah Pahlawan Nasional itu terus bertambah.

Namun tulisan ini sama sekali bukan ingin membahas soal tradisi penganugerahan gelar Pahlawan Nasional tersebut. Penulis cuma ingin mengajak kita semua untuk memperbincangkan ikhwal kepahlawan dari sisi dan perspektif lain yang lebih substantif dan esensial.

Jika kita hubungkan dengan ungkapan yang menjadi awal tulisan ini, adalah ironis jika sampai hari ini makna korelasi pepatah tersebut tak kunjung terbukti. Meskipun negara ini cukup produktif dalam memberikan penghargaan kepahlawan, nyatanya hingga kini kita belum juga menjelma jadi “bangsa yang besar”.

Paradoksal ini agaknya perlu kita renungkan. Boleh jadi selama ini ada kekeliruan dalam menghayati dan memaknai arti kepahlawanan tersebut.

Memang benar, selama ini ada kecenderungan setiap kali memperingati momentum hari besar negara –termasuk Hari Pahlawan– kita sering kali terjebak dalam kedangkalan dan kebanalan dalam mengapresiasi.

Sepertinya yang kita lakukan tahun ke tahun agaknya hanyalah ritual-ritual seremonial pengenangan belaka. Tidak lebih.

Selalu kita sejenak menghening cipta untuk mengenang jasa pahlawan bangsa yang telah gugur, namun setelah itu nyatanya tak ada kesan yang membekas dalam diri kita yang mampu mengilhami kita untuk berbuat sesuatu, sesuai apa yang telah diperbuat oleh para sosok pahlawan yang dikenang tersebut.

BACA JUGA

Allah itu Romantis Sekali

Heboh Rekening Alm Brigadir J, Pakar: Bisa Jadi Pintu Masuk Penyelidikan Dugaan Tindak Pidana Lain

Heboh! Curhat Karyawan Swasta Bergaji Rp 20 Juta Berharap Bansos

Pasca Disahkannya UU Omnibus Law, Busyro: Kedaulatan Agraria di Daerah Terancam

Pajak dan Nyinyir Tanpa Solusi?

Wamen Fajar di Kuningan, Kearifan Lokal “Seren Taun” Mendidik Karakter Generasi Muda

Dan melulu bangsa ini setiap tahun terus menambah daftar pahlawan nasionalnya, tapi nyatanya tetap saja tak ada nilai signifikansinya untuk kebesaran bangsa.

Padahal, kalau mau dimaknai lebih arif lagi, sesungguhnya spirit kepahlawanan (heroisme) itu bukan cuma sekedar persoalan simbol dan atribut semata yang identik dengan romantisme masa lalu. Tidak cukup hanya berhenti pada apresiasi seremonial saja. Dan tidak signifikan juga tentunya hanya dengan menambah daftar pahlawan nasional setiap tahunnya.

Lebih dari itu, mestinya kita harus pahami bahwa kepahlawan itu juga adalah sebuah konsep dinamis tentang nilai-nilai keluhuran dan idealitas yang notabene selalu dibutuhkan kapanpun oleh sebuah bangsa untuk menjaga dan menjamin survivalitasnya.

Artinya, kisah pahlawan (epos) bukan hanya ada di masa lampau saja, tapi juga idealnya harus bisa tetap dimunculkan dan dilestarikan dalam narasi kekinian, bahkan untuk masa depan bangsa ini.

Dalam konteks kekinian, untuk mendapatkan nilai relevansi dari tradisi penghargaan terhadap jasa pahlawan tersebut, tentunya perlu dilakukan upaya reaktualisasi nilai-nilai kepahlawanan secara kontekstual.

Maksudnya, sudah saatnya kita memaknai ikhwal kepahlawanan itu lebih lentur lagi, di mana pahlawan itu bukan lagi melulu dipahami sebagai istilah historis-subjektif-personal an sich, yang khas melulu disematkan pada segelintir anak-anak bangsa pilihan yang dinilai pantas dinobatkan sebagai sosok pahlawan. Bukan sekedar itu.

Di sini, kepahlawanan lebih dipahami sebagai sebuah wujud konfigurasi mentalitas-kolektif seluruh elemen anak bangsa yang peduli dan menghargai nilai-nilai sejati kepahlawanan.

Secara konseptual, gagasan ini sangat mengidealkan agar seluruh anak bangsa dapat aktif menginternalisasi nilai-nilai luhur kepahlawanan dalam diri pribadinya dan kemudian bisa pula secara kreatif mengejawantahkannya dalam realitas kehidupan sosial berbangsa dan bernegaranya.

Jika kultur apresiasi kepahlawanan seperti ini benar-benar berkembang dan tumbuh-subur secara massif dan maksimal di tengah-tengah masyarakat bangsa, maka sebagai implikasinya, diharapkan akan melahirkan sebuah atribut mentalitas kepahlawan yang lebih determinan dan komunal, yakni dengan nama “Bangsa Pahlawan”, bukan “Pahlawan Bangsa”.

Terminologi “Bangsa Pahlawan” yang dimaksud di sini adalah sosok sebuah bangsa yang mayoritas warganya memiliki mentalitas dan etos kepahlawanan yang sangat menonjol, sehingga secara akumulatif mampu mengukuhkan dan menjastifikasi bangsa tersebut layak disebut sebagai “Bangsa Pahlawan”.

Adapun standar sebuah “Bangsa Pahlawan” adalah meniscayakan rakyatnya secara komunal selalu menempatkan kepentingan bangsa di atas segala kepentingan sektoral yang ada. Sehingga dengan demikian sangat dimungkinkan sosok bangsa pahlawan akan lebih kuat dan progresif mengantisipasi segala tantangan dan prahara yang melanda.

Lantas, bagaimana dengan Indonesia, sudah pantaskah dikategorikan sebagai “Bangsa Pahlawan”?

Jawabannya, sepertinya belum. Tapi bukan tidak mungkin.

Bercermin dari potret kontemporer Indonesia yang buram dan carut-marut dewasa ini, justru sepertinya lebih pas bila Indonesia dikatakan sebagai “bangsa-pecundang”, di mana warganya cenderung lebih gemar memainkan lakon “pahlawan picik”, yakni menjadi pahlawan untuk kepentingan diri dan kelompoknya sendiri. Sedangkan kepentingan bangsa selalu dinomorsekiankan.

Dan kiranya dapat diduga, inilah penyebab mengapa bangsa Indonesia tampaknya begitu sulit bangkit dari keterpurukan selama ini. Indonesia belum menjadi “Bangsa Pahlawan”, pahlawan untuk dirinya sendiri, apakah lagi pahlawan untuk dunia.

Kendati demikian, tentunya sebagai sebuah bangsa yang (katanya) berdaulat dan bermartabat, selayaknya kita pantas tetap optimis untuk bisa menjadi sosok “Bangsa Pahlawan”. Bangsa Indonesia punya potensi untuk itu.

Dan peringatan Hari Pahlawan tahun ini adalah salah satu momentum yang tepat untuk segera memulai mewujudkan obsesi tersebut. Kita harus optimis, dengan menjadi bangsa pahlawan kelak Indonesia akan mampu keluar dari aneka persoalan yang menderanya dan benar-benar menjadi “Bangsa yang Besar”. Semoga. (*)


Penulis adalah Pemred TAJDID.ID

Tags: Bangsa PahlawanHeroismM Risfan SihalohoPahlawan Nasional
Mujaddid

Mujaddid

Editor in chief

Konten Terkait

Perjuangan WR Supratman Mewujudkan Indonesia Raya
Nasional

Perjuangan WR Supratman Mewujudkan Indonesia Raya

by Mujaddid
18 Agustus 2026
21
Maestro Sihaloho: Dari Mesin Tik Sebelas Jari hingga Dunia Jurnalistik
Daerah

Maestro Sihaloho: Dari Mesin Tik Sebelas Jari hingga Dunia Jurnalistik

by Mujaddid
15 Juni 2026
75
Jogetokrasi
Nasional

Jogetokrasi

by Mujaddid
23 Agustus 2025
83
Penjilat
Nasional

Penjilat

by Mujaddid
23 Juli 2025
179
Merindukan Politik Otentik di Tengah Kabut Kepalsuan Demokrasi
Nasional

Merindukan Politik Otentik di Tengah Kabut Kepalsuan Demokrasi

by Mujaddid
1 September 2026
58
Ketika yang Lemah Melawan
Nasional

Ketika yang Lemah Melawan

by Mujaddid
14 Juli 2025
85
Topeng Kekuasaan
Nasional

Topeng Kekuasaan

by Mujaddid
10 Juli 2025
114
Otoritarianisme: Ketika Kekuasaan Berhenti Mendengar, Rakyat Berhenti Bersuara
Esai

Otoritarianisme: Ketika Kekuasaan Berhenti Mendengar, Rakyat Berhenti Bersuara

by Mujaddid
8 Juli 2025
107
Demokrasi Distortif
Nasional

Demokrasi Distortif

by Mujaddid
29 Februari 2024
983
Politik Waktu
Nasional

Politik Waktu

by Mujaddid
3 Januari 2024
1k

Comments 1

  1. Rizal says:
    6 tahun ago

    Setuju

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

  • Cari Pewarta Foto Hilang Kontak, ANTARA Perkuat Koordinasi dengan Basarnas dan Polda Banten
  • Hari Kedua Pencarian 8 Korban Speedboat Hilang, Tim SAR Gabungan Sisir Perairan Krakatau
  • Cari Jurnalis yang Hilang Kontak di Perairan Anak Krakatau, PFI Pusat Berkoordinasi Intensif dengan Tim SAR Gabungan 
  • Muhammadiyah di Abad Kedua: Meneguhkan Gerakan Peradaban di Era VUCA
  • Belajar Profesionalitas dalam Bekerja, Mahasiswa Prodi Ilmu Aktuaria UMJT Madiun Ikuti Magang di BPJS Kesehatan Madiun
  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

OPINI

Muhammadiyah di Abad Kedua: Meneguhkan Gerakan Peradaban di Era VUCA
Kemuhammadiyahan

Muhammadiyah di Abad Kedua: Meneguhkan Gerakan Peradaban di Era VUCA

Gerakan Organisasi Pemuda: Cetak Pemimpin Publik Tangguh
Internasional

Gerakan Organisasi Pemuda: Cetak Pemimpin Publik Tangguh

85 Mahasiswa Prodi IAP FISIP UMSU PPL di Kabupaten Samosir
Daerah

Sinergisme PPL: Penguatan Kebijakan Pembangunan Daerah

Desil dan Bantuan: Antara Tepat Sasaran dan Gaya Hidup
Daerah

Desil dan Bantuan: Antara Tepat Sasaran dan Gaya Hidup

Budak Tahta (Buta)
M. Risfan Sihaloho

Budak Tahta (Buta)

Muhammadiyah Gerakanku: Bergerak dengan Ilmu, Berkemajuan dan Berkelanjutan
Jufri Daily

Muhammadiyah Gerakanku: Bergerak dengan Ilmu, Berkemajuan dan Berkelanjutan

TAJDID.ID

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.