Sulung
Karya: Devi Safitri Yuliani
Kak,
Manusia itu, gudangnya banyak gagal
Gudangnya banyak ego yang disemai
Jadi manusia itu, modalnya nggak mahal
Kita butuh satu mantra, yaitu memulai
Bahunya sulung itu kaku, tapi sesekali boleh jadi ulan
Kamu boleh menangis kalau memang itu diperlukan
Boleh marah kalau memang itu yang dirasakan
Boleh rehat jika memang sudah terlalu melelahkan
Kak,
Aku tahu betul bagaimana bisingnya kepalamu
Seperti apa cerewetnya orang-orang menuntutmu ini itu
Lelahnya ragamu meladeni semua yang kelabu
Sekarang, kamu sedang banyak takutnya,
Banyak ragunya,
Banyak gagalnya
Tapi kak, kamu kan manusia
Kak,
Kamu nggak pernah kurang sebagai anak sulung
Kamu hebat karena kamu orang pertama di keluarga
Aku bersyukur karena kamu yang jadi kakakku
Lebih dari itu kak,
Kamu selalu membanggakan,
Dan akan selalu begitu.
Bungsu
Karya: Devi Safitri Yuliani
Dik,
Permata di keluarga meski paling muda
Tak kurang berarti kaulah bunga terakhir
Melengkapi keindahan tak terbantahkan
Kasih sayangmu menyinari
Anak bungsu,
Si kecil manis bermimpi menjelajah angkasa
Kamu selalu ingin terbang bebas menjelajahi alam semesta
Dengan semangat yang tak pernah pudar
Kamu berlari di antara bunga-bunga menyisir hutan dan pantai yang luas
Mencari petualangan yang menantang
Tak jarang, kamu jatuh dan terluka
Tapi kamu bangun dengan tegar
Karena kamu adalah anak bungsu
Yang penuh semangat dan berani
Dik,
Tetaplah berkembang menjadi pribadi yang hebat
Teruslah bermimpi dan berani
Karena kau adalah penerus generasi yang tangguh
Kamu adalah titipan terakhir
Yang selalu disayangi dan dikasihani
Tapi jangan salah,
Kamu bukanlah lemah namun sebuah pilar keluarga yang tegar
Dik,
Si kecil yang unik dengan mimpi-mimpi yang besar
Kau tak akan pernah berhenti bermimpi
Dan mengejar cita-cita yang diimpikan
Dalam keluarga, kamu memang sering dimanja
Tapi di luar, jiwamu tumbuh menjadi kuat
Teruslah berjalan di jalan yang benar
Karena kau adalah cinta dan kebanggaan bagi keluarga dan bangsa ini.
Anak Rantau
Karya: Devi Safitri Yuliani
Anak rantau,
Jiwa yang merantau menelusuri jalan yang tak pernah terjamah
Meninggalkan tanah yang tercinta untuk menggapai impian dan cita
Meski jarak memisahkan kita
Tak ada yang bisa menghentikan cinta dan doa yang kuat dari ibu dan bapak
Di bawah langit yang tak dikenal
Di atas tanah yang asing dan berbeda
Berjuang sendiri, menapaki kesulitan
Namun tetap teguh, tak goyah iman
Di ujung sana, kau mencari pelangi
Di tengah hujan yang tak kunjung berhenti
Menghadapi rindu yang tak terperi
Namun tetap bertahan, tak lelah berjuang
Di antara kerinduan dan kesepian
Kau tetap tegar, tak mengeluh dan meratap
Karena kau tahu, ini adalah pilihan
Untuk masa depan yang lebih cerah dan mulia
Anak rantau, kini kau tumbuh dewasa
Di tanah yang kian terasa seperti rumah
Membangun karier, mengejar mimpi
Namun tak pernah melupakan akar dan asal usulmu
Di balik senyumanmu yang merekah
Terpatri kekuatan dan perjuangan
Menjadi inspirasi bagi mereka yang melihat
Bahwa anak rantau takkan pernah surut dalam melangkah
Teruslah bersinar, anak rantau
Dalam cintamu untuk negeri
Biarlah puisi ini menggambarkan keteguhanmu, anak rantau yang mulia.
Devi Safitri Yuliani adalah Mahasiswi Perbankan Syariah UIN Prof. K.H Saifuddin Zuhri Purwokerto

