No Result
View All Result
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
SAVED POSTS
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
TAJDID.ID
No Result
View All Result

Koruptor Ekuivalen dengan Tikus Ladang

23 Maret 2022
in Opini
Reading Time: 3 mins read
0
A A
0
Share on Facebook
Share on Twitter

Oleh: Moses Ria Turus

Cerpen Kakek Kumara dan Tikus Ladang, karya Novita Devi merupakan cerpen inspiratif dan menarik. Cerpen terbitan tahun 2008 ini menyajikan kisah tentang hidup seorang kakek bernama Kumara. Kakek Kumara adalah seorang petani yang mempunyai ladang berukuran luas, sekitar 2 hektar. Ladang itu ditanami jagung.

Pada suatu hari, kakek Kumara memanen jagung. Akan tetapi, ia sangat kecewa sebab hasil panen yang diperolehnya tidak memuaskan. Apa yang telah terjadi? Ladang jagung milik kakek Kumara diserbu pasukan tikus. Segerombolan tikus datang dengan mengumpat, lalu mencuri jagung-jagung. Melihat itu, kakek Kumara sangat marah. Ia kemudian melempar segerombolan tikus yang sedang asyik memakan jagung dengan batu sambil berkata: “Dasar binatang pengerat! Hidupmu hanya tahu mencuri dan malas untuk bekerja. Kau mencuri jagung-jagungku dan memakannya sampai habis. Awas kau tikus liar, akan kuhabisi kau dengan racun. Biar kau tahu rasa.”

Dari sekilas cerita tentang Kakek Kumara dan Tikus Ladang di atas, kita dapat mengetahui bahwa tikus adalah pencuri yang tidak tahu malu. Ia tidak bekerja, tetapi bisa memperoleh makanan dengan mudah. Lihat saja! Jagung milik kakek Kumara diambilnya dengan seenaknya. Tikus itu tidak kenal kenyang, rakus-rakus bukan kepalang. Otak tikus bukan otak udang. Saat kakek Kumala datang, tikus menghilang. Hal inilah yang membuat kakek Kumara begitu geram melihat tingkah tikus itu. Apa yang dikerjakan selama ini ternyata tidak membuahkan hasil, malah merugikan kakek Kumara.

Namun bagi tikus, mencuri jagung itu seperti sebuah pekerjaan wajib yang harus dilakukan. Ke mana lagi ia harus mencari makanan kalau ia tidak ke ladang jagung milik kakek Kumara? Inilah hidup tikus ladang. Hampir setiap hari mereka mencuri dan mengerat jagung.

Dalam kehidupan dewasa ini, kita sering melihat tikus-tikus itu. Namun, kali ini bukan tikus ladang, melainkan tikus kantor. Siapakah tikus kantor itu? Jenis tikus yang satu ini rupanya lebih berbahaya lagi ketimbang tikus ladang. Tampaknya ia lebih pintar dan lihai dalam mencuri. Barang curiannya bukan jagung, melainkan lembaran uang kertas yang ada di kantor. Kalau tikus ladang biasanya ramai-ramai mencuri, tikus kantor malah lebih senang sendiri. Mengapa sendiri? Mungkin saja ia mau ‘kenyang’ sendiri dengan hasil curian itu dan tidak peduli dengan orang lain, atau ia merasa sungguh tidak bebas kalau mencuri bersama-sama. Tampak ada ketamakan dan egoisme yang tumbuh dalam pribadi tikus kantor ini. Tamak karena ia ingin meraup harta sebanyak-banyaknya dan egois karena ia ingin menikmatinya sendiri.

Tikus kantor tidak lain adalah koruptor. Ia ekuivalen dengan seekor tikus, binatang pengerat yang rajin mencuri, tapi malas bekerja. Ia mendapat uang bukan dari hasil kerjanya, melainkan dari hasil mencuri. Di atas kursi, koruptor duduk berpangku kaki sambil menunggu datangnya uang. Uang adalah santapan lezatnya. Ketika melihat uang, koruptor tak dapat menahan nafsunya untuk segera ‘melahap’. Ia selalu berusaha untuk memperolehnya demi mencapai kenikmatan sepuas-puasnya, meski harus dengan cara yang haram.

Ternyata benar kata Marcuse de Sade, bahwa manusia memiliki tendensi untuk meraih kenikmatan sepuas-puasnya. Menurutnya, sikap korup sebetulnya sudah tertanam di dalam hasrat manusia. Korupsi, bagi de Sade, adalah bentuk konkret dari perburuan kenikmatan tanpa batas yang dilakukan manusia, yang selalu diselubungi kemunafikan penampilan dan pencitraan. Memburu rasa nikmat tanpa batas itu sesungguhnya disebabkan oleh karena rasa kurang dalam diri manusia.

Hal ini dipertegas kembali oleh Savoj Zizek bahwa rasa kurang yang menggerogoti manusia menjadikan manusia bebas dari isolasi diri, teralienasi, dan akhirnya mengikuti dorongan purbanya, yakni dorongan untuk selalu merasa kurang, tanpa pernah terpuaskan. Sifat rasa tidak puas inilah yang merayu orang untuk melakukan tindakan korupsi. Korupsi dalam bahasa Savoj Zizek merupakan sebuah kekosongan jiwa manusia.

Koruptor atau tikus kantor biasanya hidup di kantor-kantor mewah berlantai puluhan hingga ratusan. Kantor yang mewah itu bak ladang, tempat untuk mencuri uang rakyat.

BACA JUGA

Pejuang Sejati

Dicari! Politisi Tanpa Make-up

Bahasa dalam Cengkraman Politik dan Kekuasaan

Lazismu sebagai Gerakan Sosial Muhammadiyah

Jadal dalam Al~Qur’an: Seni Dialog Ilmiah untuk Mencari Kebenaran

Pilkada Solo dan Medan

Ada tiga hal yang perlu diketahui bersama yaitu: pertama, tindakan mencuri uang milik rakyat adalah tindakan yang membawa di dalam dirinya kejahatan (intrinsince malum), sehingga itu merupakan keburukan moral. Akibat langsung dari tindakannya, bukan saja merugikan dan meresahkan rakyat, tetapi juga menghilangkan hak rakyat: mendapat kesejahteraan dan kelayakan hidup.

Kedua, koruptor itu sebenarnya miskin. Ia tidak ingin hidup di bawah kemiskinan dan penderitaan atau cemoohan. Keinginannya adalah keluar dari hal-hal itu sehingga tidak heran jika ia mempunyai hasrat yang besar untuk memperkaya diri dan mengejar kenikmatan sepuas-puasnya tanpa mempedulikan masyarakat.

Ketiga, kemungkinan kasus korupsi terjadi oleh karena tidak adanya sanksi yang keras dan tegas bagi para koruptor. Celakanya bila para aparat penegak hukum, aparat pemerintahan pun terlibat korupsi.

Barangkali benar kata Elias Carmetti dalam bukunya yang berjudul “Corruption: Expression of Human Greed” bahwa bumi ini cukup untuk memenuhi kebutuhan manusia, tetapi tidak akan pernah cukup untuk memenuhi kerakusan manusia. Pesan moral dari Elias ini hendak mengatakan bahwa kerakusan manusia dapat merusak kehidupan di bumi ini. Pikiran manusia yang rakus tidak pernah puas dengan keuntungan berapa pun (avarus animus nullo satiatur lucro) dapat merusakkan tatanan kehidupan sosial. Koruptor adalah manusia yang rakus. Oleh karena itu, koruptor sebaiknya dienyahkan. (*)

Penulis adalah Guru SMPK Firgo Videllis Maumere

Tags: Kakek Kumara dan Tikus LadangkorupsiKoruptorMoses Ria TurusTikus
Mujaddid

Mujaddid

Editor in chief

Konten Terkait

Jika Korupsi Sudah Seperti Fardu Ain
Nasional

Jika Korupsi Sudah Seperti Fardu Ain

by Mujaddid
24 Juli 2026
22
Perang Geng Berjubah Hukum
Nasional

Perang Geng Berjubah Hukum

by Mujaddid
11 Juli 2026
21
Mahupiki Apresiasi Peningkatan Kinerja Kejaksaan Agung
Nasional

Pakar Kritisi Pidato Klarifikasi Jampidsus: Hukum Membaca Bukti, Bukan Orasi!

by Mujaddid
10 Juli 2026
27
Komedi Hitam Penegakan Hukum
Nasional

Komedi Hitam Penegakan Hukum

by Mujaddid
1 September 2026
43
Korupsi dan Hilangnya Akal Sehat Kekuasaan: Catatan Muhammadiyah untuk Indonesia Berkemajuan
Muhammadiyah

Korupsi dan Hilangnya Akal Sehat Kekuasaan: Catatan Muhammadiyah untuk Indonesia Berkemajuan

by Mujaddid
7 Juli 2026
16
Begal Jalanan
Daerah

Begal Jalanan

by Mujaddid
15 Juni 2026
22
Dosen Hukum Pidana: Tragedi Daycare Yogya adalah Penyiksaan Terencana, Bukan Sekadar Kelalaian
Nasional

Mengapa Koruptor Baru Terus Lahir Pasca-OTT? Ini Analisis Pakar Hukum Pidana

by Mujaddid
8 Juni 2026
78
Busyro Muqoddas: Karakter Muhammadiyah itu Memberi, Tidak Meminta Apalagi Mengemis kepada Pemerintah
Muhammadiyah

Korupsi Lebih Berat dari Pandemi, Busyro Muqoddas Serukan Muhasabah Politik di Indonesia

by Mujaddid
22 Mei 2026
47
Menghitung Kerugian Negara
Nasional

Menghitung Kerugian Negara

by Mujaddid
7 April 2026
66
Berburu di Kebun Binatang
Jufri Daily

Berburu di Kebun Binatang

by Mujaddid
12 Maret 2026
38

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

  • Qori Internasional UMSU Daud Sitorus Wakili Indonesia di Kroasia
  • Wabup Sergai Serahkan 1.036 Paket Perlengkapan Sekolah di Kompleks Perguruan Muhammadiyah Sei Rampah
  • Perkuat Tim Liputan Muktamar 49, MPI PWM dan PW IPM Sumut Sepakat Gelar Akademi Jurnalis Muda
  • IMM Kota Medan Apresiasi Langkah Cepat KPPG Medan Donal Simanjuntak Tinjau Korban Erupsi Sinabung
  • Membanggakan, Dosen UMJT Madiun Raih Peserta Terbaik Praktik Mengajar Program PEKERTI Kemendikti Saintek
  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

OPINI

Konten Kreator ‘Parmitu’
Daerah

Konten Kreator ‘Parmitu’

Jangan Biarkan Nias Sendirian: PW Muhammadiyah Sumut Wajib Turun Membangun SDM
Daerah

Jangan Biarkan Nias Sendirian: PW Muhammadiyah Sumut Wajib Turun Membangun SDM

Wujudkan Kemandirian Ekonomi Daerah: Pemda Gali Potensi Pengelolaan Usaha Daerah
Daerah

Wujudkan Kemandirian Ekonomi Daerah: Pemda Gali Potensi Pengelolaan Usaha Daerah

Bingkisan Usaha Kecil, Semangat Besar: UMKM Serdang Bedagai Menyambut Muktamar 49
Daerah

Bingkisan Usaha Kecil, Semangat Besar: UMKM Serdang Bedagai Menyambut Muktamar 49

Stop Ekstraksi Modal! Saatnya Bank Wajib Pihaki Ekonomi Daerah
Daerah

Stop Ekstraksi Modal! Saatnya Bank Wajib Pihaki Ekonomi Daerah

Ekonomi Umat Tanpa Dominasi Hulu Tak Berdaulat
Islam

Ekonomi Umat Tanpa Dominasi Hulu Tak Berdaulat

TAJDID.ID

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.