No Result
View All Result
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
SAVED POSTS
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • Jufri Daily
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Nukilan
    • Celotehan
    • Kiat
    • Ringan
  • Jepretan
    • Foto
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
TAJDID.ID
No Result
View All Result

Manusia

17 Februari 2022
in Opini, Percikan
Reading Time: 2 mins read
0
A A
0
Ilustrasi.

Ilustrasi.

Share on Facebook
Share on Twitter

Oleh: Nirwansyah Putra 

 

Syahdan, seorang arif berujar lembut. Katanya, persoalan manusia adalah masalah yang paling penting dari seluruh masalah yang ada. Problematika yang timbul dalam sejarah semuanya ditimbulkan oleh manusia. Persoalan dunia adalah persoalan manusia, memahami manusia, sikap manusia, dan reaksi manusia terhadap alam.

Pemahaman dan penghargaan terhadap manusia juga menjadi isu sentral di Eropa, kawasan yang sering disebut Barat. Barat adalah salah satu kutub pemikiran di dunia. Salah satu yang memperjuangkan manusia dan kemanusiaan adalah humanisme.

Humanisme memajukan kultus pada manusia. Argumen mereka, karena agama-agama di masa lalu merendahkan kepribadian manusia, meremehkan posisinya di atas dunia, dan memaksa agar mengorbankan dirinya di hadapan para dewa atau tuhan. Mereka meneruskan, agama-agama lama memaksa manusia untuk memandang kemauannya sendiri sebagai sepenuhnya tanpa daya jika dihadapkan dengan kemauan dewa dan tuhan.

Dia tidak sekedar fatalis, namun di sisinya yang lain, juga mendegradasikan manusia atas esensinya dan atas statusnya di alam semesta ini. Tak ayal, humanisme pun menjadi primadona di masa renaissance, fundamen modern Barat hingga kini.

Tapi, seorang arif yang lain, membentang kritik terhadap itu semua.

Dalam proses penciptaan manusia, ketika Tuhan memilih manusia sebagai wakilnya di muka bumi, maka itu adalah sebuah anugerah dan kehormatan yang luar biasa. Dia diciptakan dari dua bahan dasar: tanah dan ruh. Seluruh manusia memandang ruh atau jiwa, merupakan wilayah yang paling suci dari manusia, spirit yang maha sempurna, yang paling suci di antara semua spirit dan di antara seluruh entitas yang ada di dalam semesta. Level kesucian yang tidak dianugerahkan ke makhluk lain. Sementara bumi (tanah) merupakan kehidupan dunia yang penuh dengan intrik, manipulasi, dan ketidakadilan.

Nabi merupakan pengejawantahan dari kedua dimensi ini dalam tubuh manusia. Sebagai nabi, ia bertugas ia memerangi ketidakadilan sosial, membawa pada kesejahteraan dan keadilan,. Dan berbarengan dengan itu, ia juga menyampaikan amanat dan perintah-perintah Tuhan di muka bumi.

Argumen ini memang kontras dengan humanisme yang dibawa Eropa (dan Barat). Barat telah menjatuhkan martabat manusia pada titik nadir. Mereka tenggelamkan manusia ke sesuatu yang diciptakan oleh alam (naturalisme dan materialisme), lingkungan (behavioralisme), pikiran (rasionalisme), sampai pada manusia itu sendiri (egosentrisme dan eksistensialisme).

Saat renaissance mengalami zaman keemasannya, kaum intelektual banyak yang tertipu ketika agama, setelah kehilangan esensi sesungguhnya, diubah menjadi suatu bentuk spritualitas palsu, diubah menjadi semacam humanisme yang mesti disesuaikan dengan ilmu positif dan rasionalisme dengan elemen-elemen yang diturunkan dari logika dialektik dan insting manusia.

Maka terjadi kebingungan di atas dunia, seperti unta yang berputar-putar di gurun pasir. Mereka menyangka telah mengelilingi dunia, namun justru tidak pernah kemana-mana. Mereka mengagumi bikinan mereka seperti industri dan memberinya kode revolusi 1, 2, 3, 4 atau mungkin nanti sampai 9.0, lalu terhisap di dalamnya dan merelakan dirinya menjadi bagian dari “sumber daya” manusia. Mereka menjadi tak beda dengan baterai. (*)

Penulis adalah Dosen FISIP UMSU

BACA JUGA

Delayed Gratification sebagai Fondasi Keluarga Sakinah Muhammadiyah

Dakwah dalam Kerja Nyata: Belajar dari Pak Zaki dan Pak Mas’ud

Baliho Politik

Rusaknya Psikologi Bangsa: Ketika Orang Baik Tersingkir, Orang Licik Berkuasa

Ironi Jenazah Pandemi Corona

Budaya Tahu Diri di Muhammadiyah, Mereka Orang-orang Ikhlas dan Tidak Ambisius


 

 

 

 

 

 

Tags: bateraihumanismemanusiaNirwansyah Putra PanjaitanPercikanrobot
Mujaddid

Mujaddid

Editor in chief

Konten Terkait

Esai

Manusia di Jalur Kehancuran

by Mujaddid
4 September 2023
423
Raja
Nasional

Raja

by Mujaddid
5 November 2022
247
Pembohong Akut
Percikan

Pembohong Akut

by Mujaddid
5 November 2022
821

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

  • Setiap Orang Perlu Panggung dan Punggung
  • Lulusan Terbaik Medkom UMY Bahas Fenomena Jastip dan Guru Gembul dalam Seminar Media dan Komunikasi UMJT
  • Belajar dari Kelangkaan BBM di Bali: FSPPB Dorong Pembenahan Tata Kelola lewat RUU Migas 2026
  • Menulis: Dari Sekadar Merangkai Kata hingga Memahat Peradaban
  • Terpilih Secara Aklamasi, Arya Sinulingga Resmi Pimpin PSSI Sumut Periode 2026–2030
  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

OPINI

Setiap Orang Perlu Panggung dan Punggung
Jufri Daily

Setiap Orang Perlu Panggung dan Punggung

Menulis: Dari Sekadar Merangkai Kata hingga Memahat Peradaban
Esai

Menulis: Dari Sekadar Merangkai Kata hingga Memahat Peradaban

Kontribusi Gerakan Tajdid Muhammadiyah dalam Pencerahan Kehidupan Bangsa dan Bernegara
Daerah

Kontribusi Gerakan Tajdid Muhammadiyah dalam Pencerahan Kehidupan Bangsa dan Bernegara

Orang Lucu Bicara Serius: Sore-Sore  dari Pak Zai
Jufri Daily

Orang Lucu Bicara Serius: Sore-Sore dari Pak Zai

Kepemimpinan Muhammadiyah dan Masa Depan Persyarikatan
Jufri Daily

Kepemimpinan Muhammadiyah dan Masa Depan Persyarikatan

Tantangan Dakwah Islam Abad Kontemporer Era Digital
Islam

Tantangan Dakwah Islam Abad Kontemporer Era Digital

TAJDID.ID

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • Jufri Daily
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Nukilan
    • Celotehan
    • Kiat
    • Ringan
  • Jepretan
    • Foto

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.