No Result
View All Result
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
SAVED POSTS
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • Jufri Daily
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Nukilan
    • Celotehan
    • Kiat
    • Ringan
  • Jepretan
    • Foto
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
TAJDID.ID
No Result
View All Result

Suara (Hati) Rakyat

8 Maret 2022
in Opini, Tilikan
Reading Time: 4 mins read
0
A A
0
Ilustrasi.

Ilustrasi.

Share on Facebook
Share on Twitter

Oleh: M. Risfan Sihaloho

Bagi yang masih suka nonton tivi dan pecinta Sinetron Indonesia (bukan Drama Korea), tentu sudah tidak asing lagi dengan mega series sinetron “Suara Hati Istri” yang ditayangkan di salahsatu stasiun tivi swasta nasional.

Kabarnya, sinetron itu jadi favorit dan selalu ditunggu-tunggu pemirsa, dikarenakan kisahnya yang sangat menguras perasaan. “Suara Hati Istri” adalah kisah drama tentang problematika rumah tangga dari sudut pandang seorang wanita yang terinspirasi dari curahan hati para istri yang terzalimi.

Tentunya menarik dan menggelitik untuk dicermati, betapa tema kesedihan, duka-lara, kegetiran dan kemasygulan ternyata masih mendapat tempat di hati masyarakat. Lantas timbul pertanyaan, mengapa kebanyakan masyarakat kita masih begitu melankolis? Apakah ini ada kaitannya dengan realitas sosial yang akrab dirasakan oleh masyarakat kita dalam kehidupan keseharianya?

Ya, boleh jadi demikian. Karena praktik-praktik tentang pengkhianatan, ketidakadilan dan kezaliman yang kemudian melahirkan cerita-cerita tragedi dan elegi — seperti yang selalu dikisahkan dalam sinetron “Suara Hati Istri” — juga galib mereka saksikan dalam realitas kehidupan sehari-hari, tidak hanya dalam lingkungan keluaraga, tapi juga dalam bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan bahkan berdunia. Sehingga kemudian menimbulkan empati yang berbuah sikap melankolis.

Penulis tidak ingin membahas lebih jauh tentang ihwal sinetron “Suara Hati Istri” yang fenomenal itu. Penulis cuma ingin mengatakan, sebenaranya ada tema kisah yang lebih tragis di republik ini ketimbang “Suara Hati Istri”. Apa itu?

“Suara Hati Rakyat”! Ya, itulah tema kisah yang sebenarnya lebih mengenaskan, bikin trenyuh dan menyesakkan dada, karena kejadiannya berlaku lebih massif, menyangkut nasib sebahagian besar rakyat negeri ini. Namun, sayangnya belum ada yang tertarik mengangkatnya menjadi judul sinetron.

Bagi penulis, “Suara Hati Rakyat” adalah varian suara yang paling menyedihkan dalam konteks bahtera rumahtangga berbangsa dan bernegara kita. Kendati sudah lebih tujuh dasawarsa republik ini merdeka, namun sepertinya panggung kehidupan berbangsa dan bernegara tak pernah sepi dari kisah ironi dan anomali suara rakyat.

Adalah fakta yang dapat dipungkiri, bahwa suara rakyat memang selalu dihitung, tapi tak pernah diperhitungkan. Dan boro-boro mendapat apresiasi, suara rakyat justru lebih sering dimanipulasi dan dapat perlakuan represi.

 

Serba salah

Sebenarnya, dalam sistem demokrasi kita sudah menyedikan instrumen tempat rakyat menyalurkan suaranya, yakni lewat para wakil mereka lembaga Dewan Perwakilan Rakyat. Namun sepertinya, selama ini peran DPR sebagai penyambung suara rakyat itu  masih jauh dari ekspektasi.

BACA JUGA

Ramadan Tanpa Al-Qur’an: Ibadah Ramai, Tapi Hati Sepi?

Seni dalam Kacamata Islam

Republik Paliatif

Gaza: Satu-Satunya Wilayah Muslim yang “Bebas”

Jebakan Teknologi dan Jalan Reputasi Akademik

Iqbal, Islam dan Barat

Ketika wakil mereka tidak bisa banyak diharapkan mendengar dan memperjuangkan suara hati mereka, lantas mereka mencari kanal lain, diantaranya ada yang berteriak di jalan dan tak sedikit pula yang berkicau di media sosial.

Anehnya, ketika rakyat memilih opsi lain, yakni menerikkan suaranya melalui aksi unjuk rasa atau demonstrasi di jalan, lagi-lagi inipun tidak selalu mendapat respek. Faktanya, masih saja ada sekelompok pihak tertentu yang memandang sinis, alergi dan antipati terhadap aksi unjuk rasa yang dilakukan rakyat dengan menyebutnya sebagai kegiatan yang barbar dan tak beradab, menggagu ketertiban umum. Padahal demonstrasi adalah salahsatu bentuk refleksi dari sistem demokrasi.

Sadar opsi unjuk rasa di jalan juga kurang efektif, kemudian belakangan ada kecenderungan rakyat lebih memilih  “memuntahkan” suaranya di dunia maya melalui instrumen media sosial.

Bila kita cermati, sepertinya dunia maya menjadi ruang alternatif yang cukup efektif  bagi rakyat yang dijuluki warganet atau netizen untuk  menyalurkan suaranya. Terbukti, bisingnya suara  warganet mampu “mengusik” pihak-pihak tertentu. Apalagi kalau sempat jadi viral, suara warganet tersebut bisa-bisa sangat merepotkan, sehingga kemudian memaksa pihak-pihak pemangku kebijakan mengambil sikap dan menindaklanjuti tuntutan suara rakyat tersebut.

Tapi lucunya, lagi-lagi ada pihak tertentu yang tidak senang dengan fenomena ini dengan menyebut suara warganet  bukan voice, melainkan noice. Lebih parah lagi, ada pula pihak-pihak tertentu yang berusaha mememcah gelombang suara rakyat di dunia maya itu dengan memunculkan pasukan buzzer. Bahkan dalam bentuk yang lebih represif, tak jarang pula suara rakyat di dunia maya itu coba diredam dan dibungkam, salah satunya dengan  memanfaatkan senjata UU ITE.

Serba salah memang. Jika demikian,  lantas dengan cara apa lagi rakyat merasa nyaman untuk mencurahkan suara hatinya? Atau jangan-jangan memang dasarnya mereka memang alergi dengan rakyat bersuara. Mereka ingin rakyat pasrah, nrimo dan vatalistik, melazimkan apa yang terjadi.

 

Suara Rakyat dalam Demokrasi

Dalam narasi demokrasi, eksistensi suara rakyat adalah tema yang sangat sentral, vital dan diagungkan. Kemuliaan suara rakyat dapat dilihat dari sebuah adagium yang sangat populer, yakni Vox Populi Vox Dei. Artinya suara rakyat adalah suara Tuhan.

Coba perhatikan, dalam adagium itu rakyat begitu disanjung dan diagungkan secara eksesif. Tidak tanggung-tanggung, bahkan harkat rakyat telah dilambungkan setinggi langit, dimana suaranya disetarakan dengan suara Tuhan.

Namun ironisnya, seketika keluar dari wilayah filosofis, secara praksis, dalam praktiknya demokrasi justru ternyata lebih sering memperlihatkan kesan yang paradoks. Tatkala demokrasi telah menjelma jadi sebuah perangkat sistem, mekanisme dan prosedur yang formal juga kaku, keberadaan rakyat justeru cenderung mengalami degradasi. Rakyat justru lebih lebih sering diabaikan dan dinistakan.

Rakyat memang masih tetap sering disanjung dan dipuja. Akan tetapi itu hanya sebatas dalam jargon dan retorika saja, tidak lebih. Faktanya, rakyat bukan hanya sering ditipu, dikhianati dan dikebiri, tapi juga kerap dizalimi di dalam rumahnya sendiri.

Begitu juga dengan suara rakyat telah mengalami pendangkalan makna. Di benak kebanyakan para politisi dan pemburu kekuasaan yang senantiasa mengaku sebagai wakil dan pelayannya masyarakat, suara rakyat itu tidak lebih dari “sampah” berserakan yang hanya dianggap berharga dalam waktu musim tertentu.

Biasanya, cuma di musim pemilu saja suara rakyat dianggap bernilai, sehingga kemudian banyak yang antusias berebut memungutnya. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang rela mengeluarkan banyak uang untuk membeli suara rakyat tersebut.

Sedikit lebih tinggi nilainya dari pada “sampah”, paling-paling suara rakyat dimaknai sebagai “angka-angka” semata yang akumulasinya bisa dikonversi atau disulap jadi “kursi kekuasaan”.

Sungguh miris memang. Namun itulah faktanya, dalam tradisi kehidupan demokrasi dan bernegara di negeri ini suara rakyat belum mendapat apresiasi sebagaimana mestinya. Lalu, sampai kapan? Tergantung cara kita memandang dan memaknai hakikat suara rakyat itu. Sepanjang masih banyak yang memandang secara banal suara rakyat — misalnya dengan menganggapnya cuma sekedar “angka-angka” dan ancaman terhadap kekuasaan — maka musykil hal itu bisa terwujud.

Lantas, sebenarnya apa makna sejati suara rakyat itu? Mungkin defenisi yang pernah dituliskan sastrawan Hartojo Andangdjaja dalam sebuah penggalan puisinya di bawah ini bisa jadi bahan referensi dan kontemplasi bagi kita anak bangsa yang tulus ingin memperjuangkan perubahan dan perbaikan di republik tercinta ini.

Rakyat ialah kita
beragam suara di langit tanah tercinta
suara bangsi di rumah berjenjang bertangga
suara kecapi di pegunungan jelita
suara bonang mengambang di pendapa
suara kecak di muka pura
suara tifa di hutan kebun pala
Rakyat ialah suara beraneka
darah di tubuh bangsa
debar sepanjang masa

Mujaddid

Mujaddid

Editor in chief

Konten Terkait

Orang Lucu Bicara Serius: Sore-Sore  dari Pak Zai
Jufri Daily

Orang Lucu Bicara Serius: Sore-Sore dari Pak Zai

by Mujaddid
10 Oktober 2026
77
Siswa SMP Muhammadiyah 2 Yogyakarta Juara 1 Nasional ISPO 2026 Lewat Sistem IoT Penyiraman Cabai
AUM

Siswa SMP Muhammadiyah 2 Yogyakarta Juara 1 Nasional ISPO 2026 Lewat Sistem IoT Penyiraman Cabai

by Mujaddid
10 Oktober 2026
102
Ekstrakurikuler Karawitan SMK Muhammadiyah 1 Wonosobo Latih Ibu-Ibu Sekolah Lansia, Perkuat Pelestarian Budaya dan Kepedulian Antargenerasi
AUM

Ekstrakurikuler Karawitan SMK Muhammadiyah 1 Wonosobo Latih Ibu-Ibu Sekolah Lansia, Perkuat Pelestarian Budaya dan Kepedulian Antargenerasi

by Mujaddid
10 Oktober 2026
62
Perkuat Pengabdian kepada Masyarakat, SPs UMSU Gelar Bazar UMKM, Donor Darah, dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis
'Aisyiyah

Perkuat Pengabdian kepada Masyarakat, SPs UMSU Gelar Bazar UMKM, Donor Darah, dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis

by Mujaddid
10 Oktober 2026
59
Kuliah Umum SPs UMSU Hadirkan Pemprov Sumut, Bahas Digitalisasi UMKM dan Ekonomi Kreatif
Daerah

Kuliah Umum SPs UMSU Hadirkan Pemprov Sumut, Bahas Digitalisasi UMKM dan Ekonomi Kreatif

by Mujaddid
10 Oktober 2026
52
Berlangsung Meriah, PKKMB SPs UMSU Diisi dengan Kuliah Umum, Bazar UMKM, hingga Aksi Sosial
Daerah

Berlangsung Meriah, PKKMB SPs UMSU Diisi dengan Kuliah Umum, Bazar UMKM, hingga Aksi Sosial

by Mujaddid
10 Oktober 2026
58
FSPPB: Jangan Sampai BUK Migas Cuma Ganti Baju SKK
Nasional

FSPPB: Jangan Sampai BUK Migas Cuma Ganti Baju SKK

by Mujaddid
10 Oktober 2026
56
Jalan Keluar
Cerpen

Jalan Keluar

by Mujaddid
9 Oktober 2026
59
Kepemimpinan Muhammadiyah dan Masa Depan Persyarikatan
Jufri Daily

Kepemimpinan Muhammadiyah dan Masa Depan Persyarikatan

by Mujaddid
9 Oktober 2026
65
Tantangan Dakwah Islam Abad Kontemporer Era Digital
Islam

Tantangan Dakwah Islam Abad Kontemporer Era Digital

by Mujaddid
9 Oktober 2026
87

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

  • Orang Lucu Bicara Serius: Sore-Sore dari Pak Zai
  • Siswa SMP Muhammadiyah 2 Yogyakarta Juara 1 Nasional ISPO 2026 Lewat Sistem IoT Penyiraman Cabai
  • Ekstrakurikuler Karawitan SMK Muhammadiyah 1 Wonosobo Latih Ibu-Ibu Sekolah Lansia, Perkuat Pelestarian Budaya dan Kepedulian Antargenerasi
  • Perkuat Pengabdian kepada Masyarakat, SPs UMSU Gelar Bazar UMKM, Donor Darah, dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis
  • Kuliah Umum SPs UMSU Hadirkan Pemprov Sumut, Bahas Digitalisasi UMKM dan Ekonomi Kreatif
  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

OPINI

Orang Lucu Bicara Serius: Sore-Sore  dari Pak Zai
Jufri Daily

Orang Lucu Bicara Serius: Sore-Sore dari Pak Zai

Kepemimpinan Muhammadiyah dan Masa Depan Persyarikatan
Jufri Daily

Kepemimpinan Muhammadiyah dan Masa Depan Persyarikatan

Tantangan Dakwah Islam Abad Kontemporer Era Digital
Islam

Tantangan Dakwah Islam Abad Kontemporer Era Digital

Rocky Gerung Masuk Istana, Masihkah Suaranya Segarang Dulu?
Nasional

Rocky Gerung Masuk Istana, Masihkah Suaranya Segarang Dulu?

Pertanyaan Hakim dan Pertanyaan Munkar-Nakir
Jufri Daily

Pertanyaan Hakim dan Pertanyaan Munkar-Nakir

Sang Surya di Horison Pesisir: Dakwah Muhammadiyah Berbasis Pemberdayaan Ekonomi Bahari
AUM

Sang Surya di Horison Pesisir: Dakwah Muhammadiyah Berbasis Pemberdayaan Ekonomi Bahari

TAJDID.ID

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • Jufri Daily
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Nukilan
    • Celotehan
    • Kiat
    • Ringan
  • Jepretan
    • Foto

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.