No Result
View All Result
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
SAVED POSTS
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
TAJDID.ID
No Result
View All Result

Partai Ummat

15 September 2021
in Nasional, Opini, Ulasan
Reading Time: 4 mins read
0
A A
0
Ketua Majelis Syuro Partai Ummat Amien Rais mendeklarasikan berdirinya Partai Ummat, Kamis (29/4/2021).(YouTube.com/Amien Rais Official).

Ketua Majelis Syuro Partai Ummat Amien Rais mendeklarasikan berdirinya Partai Ummat, Kamis (29/4/2021).(YouTube.com/Amien Rais Official).

Share on Facebook
Share on Twitter

Oleh: Shohibul Anshor Siregar

Namanya saja sudah menantang. Memberontak. Mengoreksi. “Ummat.”

Dalam kamus kosa kata “ummat” itu sudah lama dirubah menjadi “umat”, dihilangkan satu huruf. Ini politik bahasa yang banyak mengorbankan kosa kata Melayu yang sudah diadaptasi lama sekali dari bahasa Arab Islam. Jarang orang menyadari masalah besar ini. Itu satu hal.

Pendiri partai ini Mohammad Amien Rais. Lokomotif reformasi. Siapa yang tidak tahu Amien Rais dan partai yang didirikannya, yang sejak tahun 1999 ikut pemilu dan pernah mengantarkannya menjadi Ketua MPR?

Dalam jabatannya yang baru diemban beberapa bulan saja pada Lembaga Tertinggi Negara (MPR, waktu itu lembaga ini memang disebut dan berfungsi demikian) itu, ia pernah dihadapkan dengan masalah pelik.

Presiden BJ Habibie akan segera berakhir masa jabatannya setelah selesai pelaksanaan pemilu. Pertanggungjawabannya sebagai mandataris pun ditolak pada Sidang Umum MPR yang digalang oleh kekuatan politik tertentu.

BJ Habibie berfikir mencari figur yang tepat untuk menggantikannya dan menggalang dukungan. Ternyata ia beroleh dukungan. Kini BJ Habibie tidak sendirian. Hampir semua petinggi pemerintahan waktu itu, di luar pengetahuan Amien Rais, telah bersepakat meminta kesediannya menjadi Presiden Republik Indonesia.

Tetapi ia menolak. Malah ia segera membentuk sebuah koalisi yang dinamai “Poros Tengah” yang terdiri dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Keadilan (PK), dan Partai Bulan Bintang (PBB).

Koalisi inilah yang berhasil mengusulkan Abdurrahman Wahid sebagai calon presiden ketiga. Pada tanggal 20 Oktober 1999 Gus Dur pun terpilih sebagai presiden dengan perolehan 373 suara, sedangkan Megawati hanya mendapatkan 313 suara.

Sebagai kompromi, Gus Dur meyakinkan Megawati untuk ikut dalam pemilihan wakil presiden, dan pada 21 Oktober 1999 Megawati terpilih sebagai wakil presiden perempuan pertama Indonesia. Megawati adalah Ketum PDIP dengan perolehan suara mayoritas pada pemilu (1999).

Ternyata Gus Dur tak mampu mengawetkan jabatannya, dan itulah yang menjadi jalan bagi Megawati menjadi Presiden setelah sebuah dekrit Gus Dur gagal menghempang arus perlawanan tak lama sebelum dimakzulkan.

Oh iya, tentu sangat bernilai untuk dikemukakan sekarang, di tengah gila titel dan jabatan akademik yang menghinggapi beberapa elit politik Indonesia yang sekaligus merendahkan martabat perguruan tinggi, institusi yang mengurusi dunia akademis ilmiyah dan ilmu pengetahuan itu sendiri, tentu saja. Ia adalah mantan guru besar dalam Ilmu Politik. Dari sebuah universitas tersohor di tanah air: Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta.

Alumni dari kampus yang sama, kemudian belajar lagi untuk beroleh kepakaran dalam bidang keilmuannya di Amerika, Magister dan Doktor.

Di Universitas George Washington ia mengikuti program pascadoktoral tahun 1988-1989. Di Chicago University, Chicago, USA, ia beroleh gelar Ph.D dalam ilmu politik (1984). Ia pun pernah belajar di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir (1981), dan Universitas Katolik Notre Dame, Indiana, AS (1974).

Pasca Kongres terakhir PAN, Amien keluar dari partai yang didirikannya itu. Jika ia mau, sebetulnya ia pun bisa mengabadikan jabatan puncak hingga ia meninggal kelak atau hingga partai itu bubar. Amien tak memilih cara itu. Baginya demokrasi itu pro sirkulasi kekuasaan.

Tetapi pada kenyataannya dengan tak menjadi Ketua Umum partai otoritas otomatis menjadi lemah. Akhirnya ia malah hanya menjadi semacam simbol belaka.

Selama era Jokowi, Amien selalu opposisional secara pemikiran meski tak memantangkan kadernya masuk dalam kabinet.

Saat pilpres 2019 lalu misalnya, menteri dari PAN, satu-satunya, mundur terhormat karena partainya mendukung Prabowo-Sandi.

Sebagai perbandingan, selama masa kepemimpinan SBY yang dua periode itu, Mega terus beroposisi dan tak seorang pun kadernya menjadi menteri.

Itu sebuah cara berhitung yang terbukti efektif membangun fanatisme pendukung terutama di akar rumput.

Usai pilpres 2019 semua partai mengevaluasi diri. Pendukung capres menang menanti jatah jabatan kementerian. Pendukung capres kalah mencari cara agar dengan tak jatuh air muka tetapi melakukan pendekatan agar tak dianggap musuh dan apalagi dapat diberi jatah menteri sekalius bermakna disertakan dalam koalisi nenentukan arah pemerintahan.

Memang tidak semua berpendirian sama. Ada partai yang sama sekali tak berminat, karena merasa partainya akan lebih sehat jika berada di luar pemerintahan. Mungkin itu pendirian PKS.

Gerbong kalah pilpres ini makin sunyi karena capres dan cawapres yang mereka dukung “minta suaka” kepada Jokowi dan diganjar jabatan menteri.

Makin sempurnalah kesepian mereka di tengah keterbelahan politik yang terus dipelihara.

Kongres terakhir PAN agaknya menjadi titik tolak baru yang tegas memecah Amien dengan semua yang berbeda pendapat dengannya dalam partai itu.

Susunan kepengurusan di bawah Ketum satu-satunya penjabat dua periode, tak berhasil meyakinkan Amien agar misalnya dengan atau tanpa memiliki jabatan dalam partai Amien tenteram saja.

Selain Ketum ada dua jabatan puncak prestisius dalam partai ini yang keduanya dijabat oleh mantan Ketum PAN masing-masing dari periode yang berbeda.

Semula orang tak begitu serius menanggapi isu akan didirikannya partai baru oleh Amien. Orang PAN tentu merasa ada ancaman serius karena bisa membelah kader dan berbagi paksa konstituen yang sama.

Orang tak lupa Amien adalah mantan Ketua PP Muhamadiyah dan direlakan keluar dari jabatan itu karena rencana mendirikan PAN.

Tidak dapat disangkal bahwa jejaring Muhammadiyah begitu besar andilnya dalam proses pendirian partai ini. Begitu pun dalam menyumbang suara pada setiap pemilu.

Akhirnya partai baru itu lahir dan sudah beroleh legalstatus berdasarkan verifikasi keberadaan sesuai regulasi. Siap bertarung untuk pemilu 2024.

BACA JUGA

Tanggapi Jokowi, Said Didu: Rakyat Menjerit Bukan karena PPKM, Tapi karena Kebutuhannya Tidak Dijamin

Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

Mengingat Kembali Pesan-pesan Jenderal Soedirman

Sambut Baik SK PP Muhammadiyah tentang Pencalegan, Ridho Al-Hamdi: Lebih Longgar dari Aturan Sebelumnya

Nasionalisme Kaum Islamofobia

Islam Anti Rasisme

Apa masalah khas Partai Ummat? Pertama tentu sumberdaya, baik insaniyah maupun yang lain, uang misalnya.

Siapa pun yang mendirikan partai saat ini tentu temannya separtai adalah tokoh yang sama yang sudah capek bersama yang lain berpartai dan kurang puas di sana atau kurang sukses.

Kedua, konstituen. Hanya jika ada sesuatu yang amat istimewa sekali yang diperhitungkan dapat membelokkan dukungan rakyat ke partai baru ini.

Lalu apa keistimewaan yang dipersembahkan Partai Ummat? Figur Amien Rais mungkin masih begitu anggun pada daerah dan segmen tertentu sehubungan dengan sejarahnya sebagai mantan Ketua PP Muhammadiyah pendiri PAN dan lokomotif reformasi.

Khususnya di lingkungan Muhammadiyah, hal ini akan sangat terasa.

Karena sifat partai, maka konstituen sasaran adalah pilahan umat yang selama ini mendukung PPP, PKS, PKB, PBB, Msyumi dan sesama pendatang baru, Gelora (pecahan dari PKS).

Seberapa anggun Partai Ummat untuk membelokkan dukungan dari partai-partai lama itu? Seberapa istimewa ia untuk menjadi pilihan di antara pendatang baru yang beririsan konstituen?

Memang melihat proses perolehan legitimasi sebagai partai peserta pemilu, Partai Ummat telah menunjukkan potensinya.

Tetapi, sama seperti partai keumatan lainnya, masalah klasik mereka ialah tak memiliki sumberdaya yang mencukupi untuk membiayai seluruh programnya.

Dalam pemilu transaksional tentu saja partai umat nan sabana umat mengharamkan uang sogok. Bagaimana ia bisa beroleh suara?

Untuk menjaga suaranya selama ini pun, hasil pemilu, pasca pencoblosan, banyak pengurus dan caleg partai keumatan yang tak mampu melakukannya. (*)

Penulis adalah Dosen FISIP UMSU, Ketua LHKP PW Muhammadiyah Sumut dan Koordinator n’BASIS

Tags: Amien RaisparpolPartai Ummat
Mujaddid

Mujaddid

Editor in chief

Konten Terkait

Mundur dari Ketum Partai Ummat, Ini Penjelasan Ridho Rahmadi
Nasional

Mundur dari Ketum Partai Ummat, Ini Penjelasan Ridho Rahmadi

by Mujaddid
2 September 2026
55
Pilkada dan Tirani Parpol
Nasional

Pilkada dan Tirani Parpol

by Mujaddid
2 September 2024
368
Pakar: Putusan Progresif MK Runtuhkan Hegemoni Parpol
Daerah

Pakar: Putusan Progresif MK Runtuhkan Hegemoni Parpol

by Mujaddid
20 Agustus 2024
192
Surati Kader PAN, Amien Rais: Oposisi Lebih Bermartabat dan Terhormat
Muhammadiyah

Kecewa terhadap PP Muhammadiyah yang Terima Konsesi Tambang, Amien Rais Sarankan Gelar Sidang Tanwir

by Mujaddid
28 Juli 2024
143
Nasional

Amien Rais Tegaskan Tidak Sudi Dikaitkan dengan Partai Lamanya

by Mujaddid
23 Desember 2023
107
Amien Rais Ingatkan Jokowi untuk Hentikan Manuver Politik Ugal-ugalan Jelang Pemilu 2024
Nasional

Amien Rais Ingatkan Jokowi untuk Hentikan Manuver Politik Ugal-ugalan Jelang Pemilu 2024

by Mujaddid
3 Juni 2023
90
Daerah

Rakernas 1 Partai Ummat Jadi Momentum Konsolidasi Ummat Menuju Indonesia yang Bermartabat

by Mujaddid
11 Februari 2023
82
DPD Partai Ummat Kota Medan Mulai Buka Pendaftaran Bacaleg
Daerah

DPD Partai Ummat Kota Medan Mulai Buka Pendaftaran Bacaleg

by Mujaddid
17 Januari 2023
138
Lolos sebagai Peserta Pemilu 2024, Partai Ummat Medan Laksanakan Tasyakuran
Daerah

Lolos sebagai Peserta Pemilu 2024, Partai Ummat Medan Laksanakan Tasyakuran

by Mujaddid
5 Januari 2023
110
Tak Lolos Sebagai Peserta Pemilu 2024, Partai Ummat Medan Tetap Solid
Daerah

Tak Lolos Sebagai Peserta Pemilu 2024, Partai Ummat Medan Tetap Solid

by Mujaddid
19 Desember 2022
102

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

  • Belajar dari Daun Kelor: Sederhana, Sehat, Berkelanjutan dan Kaya Manfaat
  • Resmi Jadi Canselor UMAM, Raja Muda Perlis Siap Bawa UMAM Menuju Kelas Dunia
  • Kukuhkan Raja Muda Perlis Jadi Canselor UMAM, Prof. Abdul Mu’ti Berharap Jadi Jembatan Ilmu Pengetahuan Dua Bangsa
  • UMSU Bangga Jadi Tuan Rumah Pengukuhan Raja Muda Perlis sebagai Canselor UMAM
  • PP Muhammadiyah Kukuhkan Raja Muda Perlis sebagai Canselor UMAM di UMSU
  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

OPINI

Belajar dari Daun Kelor: Sederhana, Sehat, Berkelanjutan dan Kaya Manfaat
Jufri Daily

Belajar dari Daun Kelor: Sederhana, Sehat, Berkelanjutan dan Kaya Manfaat

Bertumbuh Bersama Tapak Suci UIN Raden Fatah Palembang
Daerah

Bertumbuh Bersama Tapak Suci UIN Raden Fatah Palembang

UMSU Melejit
Muhammadiyah

UMSU Melejit

Analisis Strategi School Branding Melalui Integrasi Model AIDA dan Teori Identitas Sosial dalam Ekosistem Pendidikan Digital
Nasional

Analisis Strategi School Branding Melalui Integrasi Model AIDA dan Teori Identitas Sosial dalam Ekosistem Pendidikan Digital

Membangun Ekosistem Dakwah dan Gerakan Terpadu Wujudkan Kesejahteraan Nasional
Muhammadiyah

Membangun Ekosistem Dakwah dan Gerakan Terpadu Wujudkan Kesejahteraan Nasional

Muhammadiyah di Abad Kedua: Meneguhkan Gerakan Peradaban di Era VUCA
Kemuhammadiyahan

Muhammadiyah di Abad Kedua: Meneguhkan Gerakan Peradaban di Era VUCA

TAJDID.ID

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.