Mudik
Tolong carikan aku tempat pulang
melewati tanah aku berasal
kirimkan kunci di liang taman
gali dan tanam agar tumbuh rembulan
rebahkan aku di situ
tutup dan kuncilah pintu rapat-rapat
aku takan pernah melarikan diri
biar amal menemani sendiri.
aku ditundukkan oleh renung
iya, jawabku
sungguh tiap daun menunggu gilir
pasti tanggal akan bergulir.
Brebes, 28 November 2020
Di Stasiun
di stasiun
kutemukan pintu pertemuan
dan pintu perpisahan
berdiri gagah berhadapan
ia memberi luang lambai
berharap hari depan tak beda dengan hari ini
saling menatap antara senang dan hilang
antara sapaan dan perjumpaan
renyuh dan girang menyapa bergantian
ingin jumpa saudara ingin saudara pulang
meski pintu berubah ruang.
Brebes, 080321
Sabda Cahaya
Mata indra bisa tuna
mata hati bisa buta
namun tatapan mata batin kita takan sirna
kerena mempunyai cahaya cinta.
Purwokerto, 2018
Tak Usang
Di langit ada matahari
Di bumi ada para nabi
Menyinari lahir ini
Menerangi batin ini
Dimana tulang rusukku?
Di situ tertulis namaku
Kita meski menyatu
Tak using dilekang oleh usia anak cucu
Purwokerto2018
Tatapan
Langit bercermin dengan laut
Bumi bercermin dengan batu
Aku bercermin dengan melihat
Kau bercermin dengan mataku
Bumi merawat langit dengan tumbuhan
Langit merawat bumi dengan hujan
Pemikir merawat akal dengan tulisan
Kau merawat tatapan dengan senyuman.
Purwokerto 2018
Embun
Embun jatuh dari daun
Bukan ingkar pada arti pertemuan
Embun setiap ada daun
Dengan menjenguknya tiap pagi
Embun pergi dari daun
Untuk menemui mentari
di siang hari embun keluar
untuk menafkahi daun
embun bekerja pada mentari
agar cahaya menghidupi daun
embun bertanggungjawab pada daun,
aku bertanggungjawab pada cintaku.
Yogyakarta 2017
Suara Duka
Suara duka bertubi
melengking di udara
memberitakan perpisahan
yang pucat hilang rona
Bagai lomba panahan,
saat aba-aba disuarakan
anak panah melesat pantang henti
terlalu tuli untuk kembali
Busur-busur berdiri iba
sedih ditinggaalkan
meski sadar menghaantarkan pulang
membidik titik takdirnya
doakan relakan ikhlaskan
menancap atau melesat
sudah itu menjadi suratan
Ahad, 18 Juli 2021
Cicilan Aspal
Seorang pemuda tersungkur oleh pasir
jidat dan lututnya robek
jari kaki menganga muntah warna merah
seakan menyapa lubang lubang di jalan
ia bangun
berderap langkah pincang
menuntun bebek barunya
menuju ke tempat cicilan
”bayar cicilan aspal”, ujarnya setelah sampai
”di sini tempat setoran kredit”,sahut pelayan
”bebekku rontok, saya tak perlu bayar lunas”,
pungkasnya sambil pergi.
Para karyawan melongo, ia tak jadi setor
ia bawa bebeknya ke bengkel
dan membayar jasa servis
dengan uang cicilannya.
Brebes, 14 Maret 2021
Tak Jelas Muka
Ini jaman tak jelas muka
kemana menghadapnya
jari menjelma lidah bercula
huruf demi huruf bicara
cepat sekali menerpa
dan terdengar ke mana-mana
melebihi virus korona
berkeliaran ke manca dan pelosok desa.
kata dengan kata saling seruduk
tak pandang umur wibawa
berebut menang
asal dapat makan dan pujian
ia datang menikam sesama
tega memangsa daging saudara
menampar tanpa suara
tanpa mengenal muka
Brebes, 23 Februari 2021
Tenun Surga
Ini sutra tenun surga
anugerah tuhan yang maha kuasa
maha luas membentang
dari Benggala sampai Papua
betapa elok nan kaya raya
tanah, laut, dan udara zamrud khatulistiwa
bersulam benang puspawarna
menghiasi jati diri pemiliknya
Orang manca berbondong datang
bahagia senang menyelimutinya
pulang meninggalkan rindu hangat
dan sejuk dalam segala musim
di sini kita merajut kain perdamaian
untuk menjaga indah pakaian
dan sejahtera sandang papan
pangan dalam kedaulatan
jangan koyak merah putih
yang lekat ragam di atasnya
sehingga tetap suci sutra surgawi
bernama I n d o n e s i a.
Brebes, 21 Februari 2021
Bahrun Ulum. Alamat Dukuh Payung Songgom Brebes Jawa Tengah. Tulisannya banyak dimuat di media masa. Puisinya dimuat oleh media on line seperti islamsantun.org, metafor.id., dan iqra.id Penulis melahirkan novellet ”Kisah Kasih Kian”, Satria Publisher, 2020. Penulis dapat dihubungi melalui: Bahrunulum543@gmail.com WA 085726321543 No. Rekening BRI 585701012467539 a.n Bahrun Ulum